Kamu Harus Tahu, Ini Lima Jenis Investasi yang Dilarang dalam Islam

gomuslim.co.id – Islam adalah agama yang paripurna. Lengkap mengatur semua lini kehidupan manusia. Tidak hanya mengatur hal yang berkaitan dengan ibadah, tetapi Islam juga mengatur hal yang berhubungan dengan muamalah. Makanya, kita sering mendengar ekonomi dan keuangan syariah (Islam).

Bicara tentang ekonomi dan keuangan syariah, artinya kita bicara mengenai sistem ekonomi dan keuangan yang sesuai dengan kaidah atau syariat Islam. Salah satunya yang berkaitan dengan investasi.

Dalam artikel sebelumnya, gomuslim telah membahas tentang investasi dalam Islam. Investasi dibolehkan selama dalam pelaksanaannya tidak menyalahi syariat. Artinya investasi yang dijalankan seorang muslim harus sesuai dengan ajaran Islam. Lalu, investasi seperti apa saja yang dilarang dalam Islam?

Dari segi makna, investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembalian (return) tidak pasti dan tidak tetap. Berikut rangkuman investasi yang dilarang dalam Islam:

1. Investasi Zat Haram

Dalam Islam, sesuatu yang halal itu jelas. Begitupun sebaliknya, sesuatu yang haram juga jelas. Jadi, investasi yang digunakan untuk bisnis zat (barang atau jasa) terlarang seperti transaksi narkoba, bisnis minuman keras, jual beli daging babi atau jenis lain yang diharamkan oleh Islam jelas tidak diperbolehkan.  

 

2. Investasi dengan Unsur Riba

Riba secara bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh atau membesar. Adapun dalam istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam.

Riba jelas bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam. Suatu kegiatan ekonomi dapat dikatakan riba apabila terdapat tambahan atau bunga atas pokok utang. Maka investasi pada bank atau lembaga keuangan yang menerapkan sistem bunga, itu dilarang dalam Islam. Karena hal tersebut dapat dikategorikan dalam perbuatan riba.

Ciri dari investasi ini adalah ketika dana yang diinvestasikan sejak awal sudah dijanjikan imbal hasil sejumlah bunga sebesar sekian persen dari pokok dana yang diinvestasikan. Dana investasi belum digunakan untuk bisnis, namun investor sudah dijanjikan hasil pasti sejumlah rupiah tertentu. Ini menyalahi kodrat bisnis bahwa risiko dalam bisnis adalah untung, rugi dan impas.

 

3. Investasi dengan Unsur Maisir (Judi/Spekulasi)

Praktik perjudian atau maisir sudah jelas haram dalam syariat Islam. Maka dari itu segala kegiatan investasi yang berhubungan dengan praktik judi ini tentu dilarang oleh Islam.

Makna spekulasi disini adalah skema investasi dengan menempatkan dana sedikit dalam rangka memperoleh dana yang banyak. Padahal perolehan dana yang banyak tersebut mengambil hak orang lain yang juga melakukan investasi. Investasi jenis ini bisa terlihat jelas pada skema money game, judi dan sejenisnya.

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khomar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Maidah ayat 90)

 

Baca juga:

Ini Sejarah Panjang Investasi Syariah di Indonesia

 

4. Investasi Gharar (Tidak Jelas)

Islam melarang aktivitas jual-beli di mana ada ketidakpastian dalam suatu akad terkait kualitas dan kuantitas obyek akad maupun juga mengenai cara penyerahannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penipuan.    

Contohnya adalah berbasis online namun masih gharar. Gharar di sini misalnya terjadi karena ketidakjelasan jenis bisnis yang dijalankan, komoditas, atau obyek investasi yang tidak jelas dan tidak diketahui. Apalagi ditambah dengan belum masuknya lembaga investasi tersebut di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  

Sesuatu yang tidak jelas dan tidak dapat dijamin atau dipastikan kewujudannya secara matematis dan rasional baik itu menyangkut barang (goods), harga (price) ataupun waktu pembayaran uang/penyerahan barang (time of delivery).

 

5. Investasi Curang dan Tidak Baik

Investasi halal sekalipun jika dilakukan dengan cara berbuat curang, maka investasi tersebut akan menjadi haram. Atau investasi dengan cara lain yang tidak baik (dzalim) seperti ada pemaksaan dalam akad/transaksi, penipuan (Tadlis), menimbun (Ihtikar), merekayasa permintaan (Tanajusy/Nasjsy), menyembunyikan kecacatan (Ghisysy), membahayakan/merugikan (Dharar), harga menipu (Ghabn/Ghabn Fahisy), menyuap atau sogok (Risywah).

Itulah lima jenis investasi yang dilarang dalam Islam sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber. Pada intinya, Islam membolehkan bahkan menganjurkan umatnya untuk melakukan investasi. Namun, tetap dengan cara-cara yang baik dan sesuai syariat Islam. Semoga kita semua terhindar dari hal-hal haram tersebut.  


Wallahu’alam Bishawab.



Sumber:

Syafi'i Antonio. 2001. Bank Islam Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.

Pegadaian Syariah, Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia Nomor 80/DSN-MUI/III/2011, Ekonomi Islam, Muamala

 

 

Baca juga:

Catat, Ini Rukun dan Syarat Mudharabah dalam Keuangan Syariah


Back to Top