Masjid-Masjid Nusantara (5)

Masjid Jakarta Islamic Centre: Bangun Peradaban Islam dari Sejarah Kelam

gomuslim.co.id- Habis gelap terbitlah fajar. Ungkapan inilah yang menggambarkan sebuah Masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namanya Masjid Jakarta Islamic Center (JIC). Di tempat ini cahaya Islam datang di tengah kegelapan. Seperti cahaya pagi yang selalu di nanti jutaan umat manusia di bumi. Ya, lokasi ini punya sejarah kelam di masa lampau.

Tak banyak yang tahu bahwa JIC ini awalnya adalah tempat prostitusi. Lahan lokalisasi yang dilegalkan pemerintah DKI saat itu menjadi fakta yang nyata. Berada di kawasan Karamat Tunggak, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, JIC hadir membawa peradaban Islam yang baru. Membimbing masyarakat dari kegelapan menuju pencerahan yang terang benderang. Mengubah yang hitam menjadi putih.

Sejarah JIC

Kramat Tunggak adalah nama lokalisasi yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Melalui SK Gubernur DKI Jakarta No. Ca 7/I/13/1970 tanggal 27 April 1970, Kramat Tunggak menjadi tempat pelacuran. Pertimbangan Gubernur waktu itu, agar para wanita malam itu tidak merajalela dimana-mana dan terisolir dari lingkungan masyarakat.  Menurut catatan, di awal tahun pembukaannya pada 1970-an terdapat kurang lebih 300 PSK dengan 76 mucikari. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya.

Tapi akhirnya, saat lokalisasi akan ditutup, jumlah PSK sudah 1.615 yang dikendalikan oleh 258 mucikari. Tentu saja dengan jumlah yang semakin banyak itu menimbulkan masalah baru pada masyarakat sekitar. Desakan penutupan lokalisasi pun mengalir dari para ulama dan masyarakat.

Apalagi di lokasi tersebut merupakan tempat tinggal bagi masyarakat suku Betawi asli Jakarta. Seperti kita ketahui, kaum Betawi selalu identik dengan komunitas Islam yang terbuka, toleran, bersemangat dan sangat mencintai Islam sebagai identitas utama kebudayaan mereka. Tuntutan penutupan semakin besar.

Lalu, guna memperkuat tuntutan ini, beberapa kalangan melakukan sebuah penelitian tentang sejauh mana penolakan masyarakat mengenai keberadaan Kramat Tunggak ini. Hal demikian supaya datanya lebih lengkap. Penelitian tersebut dilakukan oleh Dinas Sosial bekerja sama dengan Universitas Indonesia.

Hasil dari penelitian tersebut, akhirnya pada tahun 1998, keluarlah SK Gubernur KDKI Jakarta No.495 tahun 1998 tentang penutupan lokalisasi selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada tanggal 31 Desember 1999, Lokres Kramat tunggak resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485 tahun 1998. Kemudian, Pemprov DKI membebaskan lahan eks lokres tersebut.

Banyak ide dan gagasan baru muncul setelah lahan itu dibebaskan. Beragam usulan ini seperti pembangunan pusat perdagangan (mall), perkantoran dan lain sebagainya. Namun Gubernur DKI Jakarta saat itu, H. Sutiyoso memiliki ide berbeda. Gagasan itu adalah membangun Islamic Center. Sebuah ide yang cemerlang yang menyatukan kelompok-kelompok lain yang awalnya berbeda-beda.

Pada tahun 2001, Gubernur Sutiyoso melakukan sebuah Forum Curah Gagasan dengan seluruh elemen masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dukungan masyarakat terhadap sebuah perubahan yang telah dicanangkan. Ternyata 24 Mei 2001 dukungan itu semakin menguat.

Gagasan untuk membangun Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Sutiyoso kepada Prof. Azyumardi Azra (saat itu sebagai Rektor UIN Syarif Hidayatullah) di New York. Ternyata responnya sangat positif di sela-sela kunjungannya ke PBB pada tanggal 11 sampai 18 April 2001 lalu itu.

Sutiyoso juga terus menerus konsultasi dengan masyarakat, ulama, praktisi baik skala lokal maupun regional bahkan international. Akhirnya sebuah master plan pembangunan JIC pada tahun 2002 pun diwujudkan. Kemudian dalam rangka memperkuat ide dan gagasan pembangunan JIC, pada Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Perancis.

Masjid ini digunakan pertama kali untuk shalat Jumat pada tanggal 6 September 2002. Sementara peresmian masjid ini sendiri dilaksanakan pada 4 September 2003 oleh Gubernur DKI Sutyoso.

 

Arsitektur

Bangunan Masjid yang mewah nan megah ini menampilkan citra Islam positif. Pancaran nilai-nilai keimanan dan ketakwaan begitu menyejukkan nurani. Masjid yang dirancang oleh arsitek Ir. Muhammad Nu’man ini sangat indah. Berdiri diatas lahan seluas 109.435 m2, Masjid ini difasilitasi secara total oleh Pemda DKI Jakarta. Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, JIC juga berfungsi sebagai pendidikan dan perekonomian.

Halamannya luas. Lengkap dengan air mancur utama yang terletak di pintu kedua JIC. Di dalamnya dilengkapi dengan sebuah perpustakaan yang sangat nyaman dengan koleksi berbagai macam referensi buku-buku Islam yang cukup lengkap. Tidak hanya itu, JIC juga dilengkapi dengan siaran Radio JIC.

Masjid bergaya campran Turki dan Timur Tengah ini ini diresmikan pada tanggal 4 Maret 2003 dimasa pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Luas bangunan masjidnya saja mencapai 2200 meter dapat menampung 20.680 jemaah sekaligus

Bentuk bangunannya merupakan manifestasi dari sifat-sifat keperkasaan (Al-Jabbaru), Kemegahan (Al-Mutakabbiru), sekaligus kelembutan dan keindahan (Al-Lathief). Hal ini diharapkan dapat menghapus stigma lama lokasi sebelumnya. Arsitekturnya kaya aka nuasa Betawi yang identik dengan nuansa Islam dan memiliki menara tinggi 114 meter yang mengandung arti jumlah surat dalam Alquran.

Kegiatan

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid ini juga mempunyai segudang kegiatan lain seperti pemberdayaan ZISWAF, pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), pengajian rutin, Tabligh Akbar, dan beberapa perayaan hari besar Islam.

Berbagai fasilitas pun tersedia, bahkan bisa dikatakan hampir lengkap. Di JIC sudah ada wisma, lahan parkir, taman, gudang, tempat penitipan sepatu atau sandal, ruang belajar (TPA/Madrasah), toko, aula serba guna, koperasi, perpustakaan, kantor sekretariat, penyejuk udara/AC, sound system dan multimedia, pembangkit listrik atau genset, kamar mandi (WC), tempat wudhu, dan sarana ibadah lainnya.

Jakarta Islamic Centre membuat perubahan yang signifikan dan mempengaruhi lingkungan sekitar. Ini sesuai dengan keinginginan warga yang menginginkan hidup dengan lingkungan yang aman dan nyaman. Beberapa warga di sekitar lokasi sangat bersyukur dengan perubahan yang terjadi di lokasi ini.

Wisma tersebut akan dibagi 3 gedung, yaitu gedung bisnis center dengan luas 5.653 meter persegi, convention hall atau balai pertemuan 4.582 meter persegi, dan hotel 11.217 meter persegi. Biaya pembangunan wisma ini sebesar Rp278 Miliar. Selain itu pada tahun 2004 juga dibangun gedung pendidikan dan pelatihan yang memakan biaya Rp59 Miliar dan dijadwalkan selesai pada tahun 2014

Kehadiran JIC tidak sekadar hanya sebuah masjid saja. Namun, JIC ini menjadi salah satu simpul pusat peradaban Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Simbol kebangkitan Islam di Asia dan Dunia. Semoga cerita di balik JIC ini dapat mengilhami tempat-tempat hitam yang lainnya agar berubah haluan menjadi tempat suci untuk melakukan ibadah wajib bagi pemeluk Islam lainnya. (njs/dbs)


Back to Top