Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (2)

Al-Haitsam, Penggagas Ilmu Cahaya dan Pencerah Ilmuwan Eropa

gomuslim.co.id- Ilmuwan muslim jenius yang satu ini adalah seorang yang ahli di bidang fisika, matematika, astronomi, logika, filsafat, geometri dan ilmu cahaya. Penemuan besarnya dalam bidang ilmu alam, khususnya ilmu optik yang sangat berpengaruh dalam peradaban dunia barat. Dia adalah Bapak Optik. Nama lengkapnya Abu Ali Muhammad Al Hassan ibnu Al-Haitsam. Orang Eropa mengenalnya dengan nama Alhazen (bahasa latin) yang dinisbatkan pada nama depannya, Al-Hassan.

Lahir di kota Bashrah, Irak, pada tahun 354 H/965 M, Al Haitsam mengenyam pendidikan di kota tersebut sebelum pindah ke Baghdad. Di kota ini, dia mulai belajar dan mendalami ilmu-ilmu Arab dan agama. Selain itu, dia juga mendalami ilmu matematika, astronomi, kedokteran, dan filsafat.

Pada usianya yang ketiga puluh tahun, Al Haitsam pergi ke Mesir atas undangan dari Khalifah Dinasti Fatimiyyah, Al-Hakim Biamrillah. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Kairo. Di tempat ini, dia melanjutkan penelitiannya dan menulis banyak buku. Disana dia hidup dalam keadaan sederhana dan tawadhu’, tinggal di sebuah kamar di dekat pintu gerbang Masjid Al-Azhar.

Optik

Kecintaannya terhadap ilmu, Al Haitsam memfokuskan penelitiannya di bidang optik. Bukunya yang berjudul Ilmu al-Manazhir telah menjadi rujukan utama para ilmuwan barat seperti Roger Bacon dan Johanes Keppler. Buku ini berisi berbagai penemuan yang terpenting dalam ilmu optik. Dalam teorinya, Al Haitsam menemukan bahwa penglihatan terjadi akibat adanya seberkas cahaya pada objek benda yang dilihat ke mata sehingga berpengaruh padanya.

Al Haitsam membantah para pendukung teori lama dari Ptolemaeus dan Euclides dengan logika yang sederhana dan argumentasi yang kuat ketika mereka mengatakan bahwa mata mengeluarkan cahaya untuk melihat benda. Pemikiran ini menjadi pembuka yang nyata bagi ilmu pengetahuan dan sebagai langkah besar bagi peradaban manusia.

Dia juga mempelajari studi keterbalikan dengan menggunakan cermin datar dan cermin cekung dan berhasil membuat kaedah khusus untuk itu. Al-Haitsam turut menentukan posisi dan pengaruh pertemuan cahaya dan bagaimana cara memperbesar gambar. Dalam hal ini, dia dibantu dengan ilmu geometri yang pada saat itu banyak digunakan pada penelitian ilmu optic berdasarkan logika ilmiah yang benar.

Penemuan lainnya, Al Haitsam menunjukan adanya perbedaan ketebalan cahaya pada berbagai macam media seperti kaca, air, udara, dan benda lainnya. Dia menjelaskan bahwa tingkat pembiasan cahaya berbeda-beda antara satu media dengan lainnya.

Hasil penelitian Al Haitsam pada lensa dan potensi pembesarannya telah membuka jalan bagi penggunaan lensa untuk memperbaiki cacat pengelihatan atau bagi ditemukannya kaca mata. Penemuan ini telah memberi inspirasi yang besar bagi para ilmuwan, budayawan, sastrawan, dan pelaku industri.

Cahaya memiliki waktu dan kecepatan tertentu. Dia juga mempelajari anatomi mata, menjelaskan susunannya dengan gambar-gambar, dan membuat nama-nama pada bagian-bagiannnya sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Selain itu, perhatian Al Haitsam dalam bidang Optik juga ditunjukan dengan usahanya untuk melakukan beberapa riset ilmiah menyangkut bidang tersebut, di antaranya penemuan terkenal tentang hukum refraksi (pembiasan), yaitu hukum fisika yang menyatakan bahwa sudut refleksi dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk. Hukum refraksi ini lebih populer dengan sebutan Hukum Refraksi Snell. Sebab, mengacu pada fisikawan Belanda yang bernama Willebord van Roijen Snell.

Kamera

Al Haitsam merupakan penemu ide dan melakukan eksperimen sehingga akhirnya ditemukan cara pembuatan kamera. Pada eksperimen “Ruang Gelap”, dia menggunakan sebuah kotak yang tidak tembus cahaya. Ditengahnya terdapat satu lubang kecil. Sisi yang berlawanan dengan lubang berbeda dengan sisi kotak lainnya, yaitu berupa papan kaca yang berkilau atau tirai dari kain yang tertutup setengah transparan atau lainnya.

Ketika lubang itu diarahkan ke suatu objek pandang mana pun, seperti lilin atau semacamnya, maka cahaya itu akan melewati lubang itu dan tetap pada bentuknya semula, sehingga terbentuklah gambar dari objek yang dilihat pada tirai itu, dan ini dapat dilihat oleh orang yang berdiri di belakang kotak. Al Haitsam menemukan ruang gelap tanpa menggunakan papan sensitif.

Istilah Ruang Gelap ini kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Latin sehingga dikenal dengan nama Camera Obscura (ruang gelap atau rumah gelap). Karena kata pertama yang lebih banyak digunakan, maka kata inilah yang digunakan menjadi nama pemotret gambar. Penyebutannya dalam bahasa-bahasa Eropa lainnya seperti Camera, Camara, Kammera dan lainnya.  

Bidang Matematika    

Al Haitsam menguasai ilmu matematika dan dia menerapkan ilmu ini pada ilmu fisika dan astronomi. Ketika studi dua ilmu ini memiliki korelasi yang kuat dengan matematika dan dijadikan sandaran dalam penelitian keduanya, maka ini menjadi bukti yang kuat bahwa Al Haitsam termasuk pelopor ilmu dan berada dibarisan terdepan.

Dia membuat tesis dalam ilmu hitung, aljabar, dan trigonometri serta dua geometri yang sama. Selain itu, dia juga membuat kesimpulan tentang hokum yang benar mengenai luas bentuk bola, pyramid, silinder, potongan, dan potongan melingkar.

Karya-karyanya

Dalam bidang ilmu Optik, Al Haitsam membuat karya yang sangat penting yaitu Kitab Al Manazhir. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1572 dan diterbitkan di Basel, Switzerland dengan judul Thesaurus Opticus (Rujukan lengkap dalam ilmu optik/mata). Karya lainnya seperti Risalah Fi Al-Ain Wa Al-Abshar, Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Ad-Dawaír, Risalah Fi Iníthaf Adh-Dhau, Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Al-Quthu, dan Kitab Fi Al-Halah Wa Qaus Qazah.

Sampai saat ini, kitab-kitab Al Haitsam masih menjadi rujukan utama. Seorang Ilmuwan Inggris dalam bidang matematika dan teologi, dan guru besar di Universitas Cambridge, Ishac Barrow (1630-1677) memberikan kuliah tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan Ibnul Haitsam. Sedangkan di antara mahasiswa pada saat itu ada Ishac Newton yang pada ketika menjadi Ilmuwan Besar di Barat hingga munculnya Einstein.

Masih banyak lagi karya-karya Al Haitsam di bidang lain seperti astronomi, matematika dan Ilmu lainnya. Tak kurang dari 200 judul buku telah ia tulis. Besarnya kontribusi Al-Haitsam dalam sains sehingga Irak menjadikan gambarnya sebagai mata uang pecahan 10.000 pada tahun 2003. Al Haitsam wafat di Kairo pada tahun 430 H/1039 M dan meninggalkan khazanah keilmuan yang menjadi warisan peradaban. (njs)

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama

 


Back to Top