Tokoh Ilmuwan-Ilmuwan Muslim (4)

Ibnu Rusyd, Filsuf Jenius Andalusia dengan Segudang Ilmu

gomuslim.co.id- Tokoh yang satu ini adalah seorang ilmuwan muslim jenius dan serba bisa. Selain menguasai ilmu filsafat, dia juga pakar di beberapa bidang lainnya seperti ilmu kedokteran, hukum, fisika, astronomi, biologi, dan tata bahasa. Namanya Abu Al Walid Muhammad bin Abu Qasim bin Abu Al Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd atau lebih dikenal dengan Ibnu Rusyd.

Lahir di Cordova, Spanyol pada tahun 520 H (1126 M), dia dibesarkan di lingkungan orang-orang terpelajar, karena orang tua dan kakeknya adalah seorang hakim terkemuka pada masanya. Di kalangan orang-orang barat, dia dikenal dengan nama Averroes. Dia diberi gelar dengan Asy-Syarih Al A’zham (Penerjemah Besar), karena dia adalah pensyarah karya dan pemikiran Aristoteles terhebat termasuk komentar pemikir St. Thomas Aquinas.

Atas saran ayahnya, Ibnu Rusyd disuruh berguru kepada Ibnu Zuhr seorang ahli kedokteran di Spanyol yang kemudian menjadi sahabat karibnya. Dengan penguasaan ilmu yang dimilikinya, Ibnu Rusyd akhirnya dilantik sebagai hakim di Sevila pada tahun 1169 M. Dua tahun kemudian, ia juga dilantik menjadi hakim di Cordova.

Karirnya kian membaik. Setelah beberapa waktu menjadi hakim, dia pun dilantik sebagai doktor istana pada tahun 1182 M. karena kedudukan istimewa di istana, banyak orang merasa dengki terhadapnya. Hingga munculah tekanan dari pihak tertentu yang menganggapnya sebagai mulhid. Ia pun dibuang ke daerah Alaisano.

Bidang Filsafat

Ibnu Rusyd termasuk filsuf dan pemikir terbesar dalam sejarah manusia. Pemikiran-pemikirannya telah banyak mempengaruhi perkembangan roh kebebasan sebelum dan setelah era kebangkitan di Eropa. Universitas Padua di Itali telah menjadi pusat penyebaran pemikirannya di Eropa.

Hasil pemikiran yang termuat dalam tulisannya, terutama dalam bidang filsafat telah memengaruhi para filsuf Barat. Dua orang ahli filsafat Eropa, yaitu Voltaire dan Rousseau dianggap tidak sekedar terpengaruh oleh pemikiran filsafat Ibnu Rusyd, bahkan mereka memperoleh ilham dari membaca karyanya.

Ibnu Rusyd adalah seorang ahli filsafat yang cerdas. Pada masa itu, buku-buku Aristoteles yang diterbitkan masih sangat sedikit dan sulit dipahami. Menyadari hal itu, Ibnu Rusyd tergerak untuk mengoreksi buku terjemahan karya Aristoteles tersebut bahkan melengkapinya. Ibnu Rusyd juga menerjemahkan dan melengkapi sejumlah karya pemikir Yunani lain, seperti Plato yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad.

Pada tahun 1169-1195, Ibnu Rusyd menulis sejumlah komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Dengan kecerdasannya, komentar Ibnu Rusyd itu seolah menghadirkan kembali pemikiran Aristoteles secara lengkap.

Di sinilah terlihat kemampuan Ibnu Rusyd yang luar biasa dalam melakukan sebuah pengamatan. Di kemudian hari, komentar Ibnu Rusyd tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani. Hal itulah yang kemudian membuka jalan bagi Ibnu Rusyd mengunjungi Eropa untuk mempelajari warisan Aristoteles dan filsafat Yunani.

Ibnu Rusyd juga dikenal sebagai pengkritik Ibnu Sina yang paling bersemangat. Meskipun begitu, ia tetap menghormati karya para pendahulunya. Ia juga tertarik pada gagasan al-Farabi tentang logika. Hal itu selalu memberinya inspirasi untuk berkarya. Ibnu Rusyd adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani.

Di bidang ilmu agama, Ibnu Rusyd menghasilkan sejumlah karya, seperti Tahafut at-tahafut, sebuah kitab yang menjawab serangan Abu Hamid al-Ghazali terhadap para filosof terdahulu. Sebagai seorang ahli ilmu agama dan filsafat, Ibnu Rusyd dianggap cukup berhasil mempertemukan hikmah (filsafat) dengan syariat (agama dan wahyu).

Bidang Kedokteran

Keberadaannya sebagai dokter pernah dipuji-puji oleh sejarawan ilmu yang bernama Sarton dengan mengatakan, “Ketenaran Ibnu Rusyd dalam filsafat hampir menutupi penemuan dan prestasinya di dunia kedokteran. Padahal, sebenarnya dia adalah salah seorang dokter ternama pada masanya”

Ibnu Rusysd telah menulis buku tentang kedokteran sebanyak dua puluh buku. Buku yang paling berharga dan terkenal adalah Al Kulliyat fi Ath Thib. Sebuah buku ensiklopedi kedokteran yang mencapai tujuh jilid. Di dalam buku tersebut, dia berbicara tentang penyakit dan obatnya, pembedahan, dan peredaran darah.

Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin pada tahun 1255 oleh Bonacosa, seorang Yahudi dari Padwa. Selanjutnya, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul General Rules of Medicine yang dicetak berulang kali di Eropa.

Di dalam beberapa bukunya, Ibnu Rusyd telah menjelaskan susunan mata. dia juga menyebutkan suatu realita ilmiah yang berisikan bahwa manusia hanya akan terkena penyakit cacar sekali dalam seumur hidup. Dia pernah berkomentar tentang anatomi, “Siapa yang mempelajari tentang anatomi, keimanannya kepada Allah akan bertambah”

Para penulis sejarah mengungkapkan kedalaman pemahaman Ibnu Rusyd dalam bidang kedokteran dengan berkata, “Fatwanya dalam ilmu kedokteran dikagumi sebagaimana fatwanya dalam fikih. Semua itu disebabkan kedalaman filsafat dan ilmu kalamnya.”

Karya-karyanya

Karyanya yang berjudul Bidayatul Mujtahid merupakan bukti yang tak terbantahkan bahwa ia juga seorang yang ahli dalam bidang yurisprudensi Islam. Ia juga seorang polemis yang tajam penanya dan kuat rasionya.

Sebagai seorang penulis produktif, Ibnu Rusyd banyak menghasilkan karya-karya dalam berbagai disiplin keilmuan. Menurut Ernest Renan (1823-1892) karya Ibnu Rusyd mencapai 78 judul yang terdiri dari 39 judul tentang filsafat, 5 judul tentang kalam, 8 judul tentang fiqh, 20 judul tentang ilmu kedokteran, 4 judul tentang ilmu falak, matematika dan astronomi, 2 judul tentang nahwu dan sastra.

Karya-karya yang lain misalnya, Mabadi Falsafah (Pengantar Ilmu Filsafat), Tafsir Urjuza yang membicarakan tentang tauhid, Taslul buku mengenai ilmu kalam, Kasyful Adillah, yang mengungkap persoalan falsafah dan agama, Tahafatul Tahafut, ulasannya terhadap Imam Al Ghazali yang berjudul Tahafut Falasifah, dan Muwafaqatil Hikmah Wal Syariá yang menyentuh persamaan antara falsafah dengan agama.

Ibnu Rusyd meskipun dikenal sebagai hakim, ia juga menguasai ilmu kedokteran, filsafat, dan sebagainya. Dia adalah ahli filsafat yang paling menonjol dalam sejarah Islam. Ibnu Rusyd wafat di Maroko pada tahun 595 H (1198). Kematian Ibnu Rusyd tidak saja meninggalkan harta benda, tetapi ilmu dan tulisan dalam berbagai bidang khazanah keilmuan yang menjadi warisan sepanjang zaman. (njs)

 

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

-Basori, Khabib. 2009. Ilmuwan-Ilmuwan Muslim Pengubah Zaman. Klaten: Penerbit Cempaka Putih. Cet. Kedua.

-Hadi, Saiful. 2013. 125 Ilmuwan Muslim Pengukir Sejarah. Jakarta: Insan Cemerlang dan Intimedia Cipta Nusantara. Cet. Pertama 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top