#IndahnyaIslam (6)

Jadi Komunitas Muslim Terbesar di Eropa Barat, Inilah Jejak Islam di Negeri Napoleon Bonaparte

gomuslim.co.id- Siapa yang tidak kenal dengan Prancis? Sebuah negara yang terkenal karena memiliki banyak kota yang cantik dan menawan. Tentu saja satu di antaranya adalah ibukota negara yaitu Paris. Tempat dimana menara Eiffel berdiri tegak yang memukau banyak orang.

Namun begitu, bukan hanya soal Paris yang akan kita bahas. Prancis juga merupakan negara yang populasi muslimnya terbesar di Eropa Barat. Kabarnya, hingga saat ini jumlah umat muslim di sana mencapai tujuh juta jiwa. Lebih banyak dibandingkan dengan Jerman yang empat juta jiwa dan Inggris yang mencapai tiga juta jiwa.  

Di negara ini, Islam berkembang melalui para imigran dari negeri Maghribi seperti Aljazair, Libya, Maroko, Mauritania, dan lainnya. Sekitar tahun 1960 an, ribuan buruh Arab berimigrasi secara besar-besaran ke daratan Eropa, terutama di Prancis. Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 1904, sekitar 5000 muslim bekerja di Prancis. Mereka tersebar di berbagai kota, seperti Paris, dan Marseille.

Sejarah Pertama Islam Masuk ke Prancis

Islam mulai masuk ke Prancis sejak abad 8 M. Ketika itu, Islam masuk ke kota-kota selatan Prancis melalui Spanyol ke Tolouse, Narbonne, dan sekitarnya hingga Bourgogne di tengah-tengah Prancis. Namun, baru pada abad 12 hingga abad 15, orang-orang Islam mulai menempati kota-kota selatan Prancis yang terdapat di provinsi Roussillon, Languedoc, Provence, Pay Basque Prancis, termasuk Bearn.

Hal ini berlangsung secara bertahap dan puncaknya adalah ketika terjadi pengusiran besar-besaran terhadap muslim Spanyol pada peristiwa Reconquista di bawah Raja Ferdinand II dan isterinya Ratu Isabelle pada tahun 1942 M.

Dari berbagai literatur disebutkan bahwa kekuasaan Islam di Prancis Selatan secara umum memang tidak lebih dari 50 tahun. yang terakhir adalah Narbonne, yaitu pada tahun 759 M. kota ini bahkan selama 40 tahun sempat menjadi satu dari lima ibu kota Kerajaan Islam di Spanyol, yaitu Cordoba, selain Toledo, Zaragoza, dan Merida.

Kejayaan yang pernah dicapai oleh umat Islam itu, ternyata terukir dalam di hati Napoleon Bonaparte (1769-1821), kaisar Prancis sang penakluk benua Eropa. Hal ini tertuang dalam pengakuannya sebagai berikut:

Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi, dan Muhammad kepada seluruh dunia. enam abad sepeninggal Yesus, bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan Trinitas itu kemasukan ide-ide sesat. Muhammad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun, kaum muslimin dapat menguasai separuh bolah bumi. Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai dewa. Ketika ia muncul, bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara.

Islam di Prancis Dulu dan Kini

Perkembangan Islam di Prancis mulai menunjukan kemajuan yang berarti semenjak akhir abad ke-19. Bahkan pada tahun 1922, telah berdiri sebuah masjid yang sangat megah bernama Masjid Raya Yusuf di ibu kota Prancis, Paris. Hingga kini tercatat lebih dari 1000 masjid berdiri di seantero Prancis.

Masjid Agung Paris (masyarakat setempat menyebutnya Grande Mosque de Paris) merupakan salah satu masjid megah yang berdiri di Paris. Masjid ini terletak di pertigaan Rue Dauberton dan Rue Geffrey-Saint Hilaire Paris Ile de France, sekitar 7-10 km dari menera Eiffel.

Konon, masjid agung tersebut dibangun setelah Perang Dunia I tahun 1926 sebagai penghargaan dari pemerintah Prancis, karena sekitar 100 ribu muslim meninggal dalam perang melawan Jerman. Masjid ini diresmikan oleh presiden Prancis, Gaston Doumergue, pada tanggal 15 Juli 1926 dengan Ahmad al-Alawi, seorang Algeria yang ditunjuk sebagai Imam yang pertama.

Pada PD II, masjid ini digunakan sebagai tempat pengungsian rahasia dan perlindungan bagi warga Yahudi yang dikejar pasukan Jerman. Dari masjid ini pulalah dikeluarkan puluhan, bahkan ratusan surat tanda lahir muslim palsu untuk melindungi anak-anak Yahudi dari kematian akibat ditangkap Jerman untuk dibawa ke kamp konsentrasi.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan Islam di Prancis semakin pesat. Pada tahun 1985, diselenggarakan konferensi besar Islam yang dibiayai Rabithah Alam Islami (Organisasi Islam Dunia). Turut serta dalam konferensi itu 141 negara Islam dengan keputusan mendirikan Federasi Muslim Prancis.

Perkembangan Islam di Prancis juga diiringi dengan bertambahnya jumlah sarana ibadah dan kegiatan keislaman. Menurut survey yang dilakukan kelompok muslim di Prancis, sampai tahun 2003, jumlah masjid di seantero Prancis mencapai 1554 buah. Mulai dari yang berupa ruangan sewaan di bawah tanah sampai gedung yang dimiliki oleh warga muslim dan dibangun di tempat-tempat umum.

Selain masjid, lembaga pendidikan Islam di negeri mode ini pun turut berkembang. Sejumlah sekolah Islam berdiri. Sampai kini, sedikitnya ada empat sekolah muslim swasta. Awalnya, sebuah sekolah didirikian di Vitrerie, pinggiran selatan Paris. Kurikulumnya disesuaikan dengan kurikulum pendidikan nasional Prancis, namun ada tambahan pelajaran khusus muatan local tentang keislaman, seperti bahasa Arab dan agama Islam.

Setelah berdiri lembaga pendidikan tersebut, kemudian berdiri sekolah kedua, yaitu Education et Savior, yang dibuka di Paris setela sekolah Reussite di pinggiran Aubervilliers, utara Paris, dan yang keempat di Prancis. Dua sekolah swasta Islam lainnya adalah Ibn Rushd di kota Lille, utara Prancis dan Al Kindi di kota Lyon.

Ribuan Warga Prancis Masuk Islam

Saat ini, perkembangan Islam di Prancis memang sangat menggembirakan. Menurut catatan yang dikeluarkan oleh Badan Statistik resmi di Prancis, dalam satu tahun, mereka mencatat 4000 warga Prancis yang beralih masuk Islam. Data ini sesuai dengan yang ditampilkan oleh penelitian Kementerian Dalam Negeri Prancis.

Menurut catatan para ahli agama di Prancis, sejauh ini terdapat 70 ribu warga Prancis yang berpindah ke agama Islam. Hal ini membuat agama Islam menjadi pilihan pertama, ajaran yang dijadikan sebagai pegangan hidup, diikuti oleh Kristen Katolik dengan umat setiap tahun berjumlah 2900 orang dan Yahudi 300 orang.

Sementara itu, menurut ahli sosiologi Prancis, sebelum usia 15-20 tahun merupakan alasan utama yang membuat mereka yakin untuk masuk Islam, dengan alasan pencarian rohani mereka. Tapi sekarang berbeda, alasan utama mereka memeluk Islam adalah iklim sosial, sebagaimana disampaikan oleh Al-Alokah. (njs)

 Sumber: Abdul Syukur Al-Azizi. 2017. Sejarah Terlengkap Peradaban Islam. Yogyakarta:Noktah