#AlqurandanSains (16)

Sebelum Sains Modern, Alquran Sudah Jelaskan Fenomena Pergerakan Gunung

gomuslim.co.id - Jika kita melihat dengan kasat mata, gunung tampaknya diam tidak bergerak. Namun, sebuah ayat Alquran menyebutkan sebaliknya, gunung-gunung bergerak layaknya awan yang berjalan. Fakta unik ini kemudian secara lebih rinci dapat dijelaskan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Bagaimana Gunung Bisa Bergerak?

Para ilmuwan sepakat bahwa gunung tidak diam, melainkan bergerak. Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat.

Pada awal abad ke-20, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengungkapkan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi baru memahami kebenaran pernyataan Wegener itu pada 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Dalam tulisannya, Wegener, mengemukankan bahwa sekitar 500 juta tahun lalu, seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Namun, sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

“Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar.” (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30).

Hla ini juga diungkapkan Profesor Emeritus Frank Press dari Washington, Amerika Serikat (AS) salah seorang Geolog yang mengkaji tentang gunung sebagai pasak Bumi. Menurutnya, kerak Bumi mengapung di atas cairan. Lapisan terluar Bumi membentang 5 kilometer dari permukaaan. Kedalaman lapisan gunung menghujam sejauh 35 kilometer. Sehingga, pegunungan serupa pasak yang didorong ke dalam Bumi.

Berdasarkan teori lempeng tektonik, lempengan yang ada pada Bumi bergerak di atas lapisan mantel Bumi, membawa benua dan dasar lautan. Melalui penelitian, pergerakan benua dapat diukur, yakni memiliki kecepatan pergerakan 1 hingga 5 sentimeter setiap tahunnya.

Pergerakan lempengan ini terjadi terus-menerus, mengakibatkan perubahan pada geografi Bumi secara perlahan. Gunung sebagai hasil dari fenomena lipatan juga bergerak mengikuti gerak lempengan.

Lempengan kerak Bumi tersebut bergerak seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Gunung-gunung ini bergerak mengambang bersama mengikuti gerak lempengan tempat gunung tersebut berada.

Disebut gerakan 'continental drift' atau geseran benua, hal ini menjadi pendekatan ilmiah untuk menjelaskan pergerakan gunung. Gunung-gunung ini bergerak, namun manusia tidak melihat atau merasakan pergerakan tersebut.

Pergerakan-pergerakan Bumi, lempengan Bumi dan semua benda-benda di atasnya tentu menimbulkan berbagai perubahan, baik pergerakan cepat, sedang, maupun pergerakan lambat yang tidak disadari oleh manusia.

Perubahan dinamis itu yang menyebabkan terjebaknya endapan-endapan yang diperlukan manusia, seperti mineral, air tanah, energi fosil, dan sebagainya. Selain itu, perubahan juga dapat menimbulkan gempa, tsunami, hilangnya daratan dari pandangan mata, atau munculnya gunung-gunung baru seperti terjadi pada Anak Krakatau di Selat Sunda.

Selat Sunda, Selat Makassar dan Laut Banda merupakan beberapa contoh selat yang terbentuk akibat lempengan-lempengan yang bergerak. Selat Sunda merupakan selat yang memisahkan Jawa dan Sumatera.

Kedalaman selat ini rata-rata sekitar 100 meter, kecuali di Kompleks Krakatau yang lebih dari 200 meter dan di bagian paling barat yang mencapai lebih dari 1.600 meter. Bila kedalaman di Kompleks Krakatau berkaitan dengan kaldera tua Krakatau, maka kedalaman di bagian barat berkaitan dengan graben atau lembah yang memanjang utara-selatan.

Secara geologi, selat ini merupakan salah satu kawasan yang paling aktif di Indonesia, antara lain ditandai oleh aktivitas seismik (gempa), gunung api, dan gerak-gerak vertikal kerak Bumi, baik penurunan maupun kenaikan daratan.

Pergerakan Gunung dalam Alquran

Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern mengungkap fakta ini, Alquran sudah menyebutkannya dalam Surah An-Naml (27) Ayat 88.

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,"

Ayat tersebut secara tegas menyebutkan bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi terus-menerus bergerak. Tafsir al-Muntakhab menjelaskan makna ayat di atas sebagai berikut. "Wahai Rasul, engkau melihat gunung-gunung itu tetap di tempatnya dan engkau mengira mereka diam, padahal yang terjadi sesungguhnya mereka bergerak cepat laksana gerakan awan".

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini.

Tinjauan ayat Alquran tersebut seperti bertentangan dengan pandangan umum tentang kekakuan atau rigiditas bumi dan gunung-gunungnya. Hal ini juga telah menjadi suatu hal yang menyulitkan bagi para juru tafsir di masa lalu.

Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir banyak sekali informasi yang telah terungkap tentang formasi, struktur, sejarah geologis dan proses internal daripada bumi. Bumi sekarang ini tidak lagi dipandang sebagai suatu wujud badan yang solid dan rigid lagi, tetapi sebagai planet yang dinamis, hidup dan selalu berubah. (njs)

Wallahu’alam bishawab

Sumber:

Buku 'Alquran vs Sains Modern menurut Dr. Zakir Naik' karya Ramadhani, dkk.

Tafsir Ilmi 'Samudra dalam perspektif Alquran dan Sains', Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13

universe-review, harun yahya, bacaanmadani, keajaiban alquran

 


Back to Top