#AlqurandanSains (19)

Fenomena Sedikitnya Kadar Oksigen di Ketinggian Menurut Alquran dan Sains 

gomuslim.co.id- Manusia patut bersyukur karena bumi yang ditinggali mempunyai kadar oksigen yang melimpah. Hal yang paling dibutuhkan manusia untuk bernafas. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau oksigen tidak ada.

Namun, tahukah kamu bahwa di ketinggian tertentu di atas permukaan laut, kadar oksigen hanya sedikit. Hal ini tentu saja bisa membuat manusia sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam tubuh dan tidak mampu bernapas dengan baik.

Sebelum sains modern menjelaskan fenomena ini, Alquran yang turun sejak abad ke-7 sudah menyebutkat. Dalam Surah Al-An’am [6]: 125, Allah SWT berfirman”:

Siapa saja yang dikehendaki Allah menunjukinya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk memeluk (agama) Islam. Dan Siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Dari ayat tersebut, kita dapat memahami bahwa setiap bertambah ketinggian naik ke udara, maka akan bertambah sesak napasnya karena berkurangnya tekanan udara. Selain itu, berkurangnya jumlah oksigen yang dihirup paru-paru. Hakikat ini tidak mudah untuk dibuktikan secara praktis kecuali apabila manusia terbang ke atas udara.

Orang–orang mengira bahwa udara menyebar luas hingga angkasa luar. Akan tetapi, setelah manusia terbang dan meninggi di angkasa pada ketinggian tertentu, ia megetahui bahwa meninggi sejauh satu kaki di udara akan membuat sesak dadanya. Sehingga, merasa dipeluk karena berkurangnya kepadatan udara dan jumlah oksigen yang diperlukan untuk bernapas dengan cepat sekali sesuai dengan bertambahnya ketinggian.

Tentang Oksigen

Oksigen secara terpisah ditemukan Carl Wilhelm Scheele di Uppsala tahun 1773 dan Joseph Priestley di Wiltshire tahun 1774. Temuan Priestley lebih terkenal karena publikasinya merupakan yang pertama kali dicetak. Beberapa tahun setelahnya, istilah oksigen diciptakan Antoine Lavoisier tahun 1777 karena eksperimennya dengan oksigen berhasil meruntuhkan teori flogiston tentang pembakaran dan korosi yang terkenal.

Menurut massanya, oksigen merupakan unsur kimia paling melimpah di biosfer, udara, laut, dan tanah bumi. Namun, oksigen hanya melimpah di Bumi saja dan sangat jarang ditemui di planet lain. Matahari hanya mengandung 0,9 persen oksigen, Mars hanya memiliki 0,1 persen oksigen dan Venus bahkan memiliki kadar konsentrat yang lebih rendah.

Hal itu disebabkan oksigen yang berada di planet-planet selain Bumi hanya dihasilkan dari radiasi ultraviolet yang menimpa molekul-molekul beratom oksigen, misalnya karbon dioksida. Inilah alasannya mengapa membawa oksigen dalam perjalanan ke luar angkasa merupakan suatu kemestian.

Oksigen merupakan unsur gas dengan symbol ’O’. Gas ini tidak berwarna dan tidak mempunyai rasa. Di dalam tubuh, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah. Adapun, oksigen diperlukan oleh sel untuk mengubah glukosa menjadi energi.

Selanjutnya, energi inilah yang digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas seperti aktifitas fisik, penyerapan makanan, membangun kekebalan tubuh, pemulihan kondisi tubuh dan penghancuran bebarapa racun sisa metabolisme. Kekurangan oksigen menyebabkan metabolisme tidak berlangsung sempurna. Akibatnya tubuh terasa lelah, pegal-pegal, mengantuk, kekabalan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit.

Manusia yang normal akan membutuhkan oksigen sekitar 375 liter per hari. Secara alamiah, kita mendapatkan oksigen dengan bernapas melalui paru-paru. Oksigen sampai di paru-paru kemudian ke alveoli lalu akan diikat oleh hemoglobin di dalam darah. Kemudian disalurkan ke seluruh tubuh untuk membantu proses pembakaran glukosa menjadi energi.

Sekali kita menghirup nafas, paru-paru bisa menampung sekitar 500 ml udara ke dalam tubuh. Dalam kondisi lelah, seperti sehabis olah raga, kebutuhan tersebut akan meningkat 5-10 kali lipat. Saat berolahraga, tubuh akan merasa lelah karena asupan oksigennya berkurang.

Dalam suhu ruangan, air secara alamiah sudah mengandung oksigen sebanyak 10 ppm atau 10 miligram per liter. Pada suhu lebih rendah (misalnya dalam lemari pendingin), kadar oksigen bisa meningkat hingga 15 ppm.

Perlu diketahui, bila asupan oksigen di dalam tubuh berada dalam kadar yang normal, maka akan mendukung kesehatan kita. Namun, bila kadarnya terlalu tinggi, maka akan bersifat berbahaya karena oksigen bersifat radikal bebas. Radikal bebas merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya kanker.


Baca juga:

Begini Penjelasan Alquran Tentang Fenomena Tumbuhan Bertasbih


Penjelasan Ilmiah

Udara dimana kita hidup di dalamnya terdiri dari 21% zat asam (Oksigen), 78% zat lemas (Nitrogen) dan 1% zat lainnya. Adanya perbedaan komposisi tersebut dapat mengakibatkan manusia mengalami kesulitan pernafasan, bahkan sampai mengalami kematian.

Sedangkan komposisi ini hanya dapat ditemukan sampai sejauh 10 Km dari permukaan bumi, sehingga seorang yang berada di ketinggian kurang lebih 10 Km dari permukaan bumi, maka ia akan mengalami kesulitan bernafas dikarenakan kekurangan zat asam.

Pada tahun 1648, Pascal menemukan fakta bahwa tekanan oksigen akan berkurang pada tempat yang lebih tinggi dari permukaan laut. Fakta Ilmiah Alquran tentang sesak napas di ketiggian semakin terungkap ketika akhir-akhir ini para ilmuwan mengetahui bahwa oksigen yang berada di permukaan bumi lebih padat ketimbang di ketinggian.

 

 

Kepadatan oksigen antara permukaan bumi hingga 20.000 meter di atas permukaan laut adalah sebesar 50 persen. Ini lebih banyak dibandingkan dengan oksigen yang berada antara permukaan bumi hingga 50.000 di atas permukaan laut yang berjumlah hanya 90 persen.

Udara semakin ketempat tinggi semakin berkurang secara vertikal (dari bumi ke arah tinggi) dan oksigen akan semakin sedikit ketika berada pada ketinggian paling atas dari atmosfer, sebelum oksigen benar-benar hilang ketika berada di luar angkasa atau di luar atmosfer.

Namun demikian, kekurangan oksigen tidak dirasakan oleh pernapasan manusia ketika manusia mendaki gunung yang hanya pada ketinggian 10.000 meter di atas permukaan laut. Mengapa? sistem pernafasan manusia masih mampu mengatasi ketinggian 10.000 hingga 25.000 kaki di atas permukaan laut.

Beda halnya ketika manusia masuk di arena luar angkasa, ketika itu oksigen akan semakin berkurang yang bisa menyebabkan dyspnea (sesak napas). Lama kelamaan proses pernafasan semakin sulit dan bisa mengakibatkan kegagalan total akibat sedikit oksigen atau bahkan tidak ada oksigen sama sekali.

Hal ini yang berkaitan dengan atmosfer tidak pernah diketahui ketika Alquran diturunkan ribuan tahun lalu. Orang hanya tahu kalau naik ke tempat yang tinggi bisa merasakan senang dan menikmati desiran angin sepoi-sepoi.

Namun Alquran sudah berbicara ribuan tahun yang lalu tentang hal ini, setidak nya ada dua hal menarik yang terkait masalah ketinggian ruang angkasa dibicarakan Alquran. Pertama akan terjadi dyspnea jika seseorang berjalan lebih tinggi di lapisan atmosfer karena kekurangan oksigen dan penurunan tekanan udara.

Kedua adalah kesusahan bernafas yang bisa menyebabkan kematian ketika seseorang berjalan lebih tinggi dari 30.000 meter di atas permukaan laut. Hal ini disebabkan oleh penurunan drastis tekanan udara dan kekurangan oksigen secara ekstrim.

Hal menarik dari ayat Alquran ini adalah karena ada kalimat yashsha’adu (menaiki), yaitu naik ketempat tinggi yang disertai dengan kesusahan dan disertai dengan adanya penderitaan. Kesusahan ini adalah sesak yang membuat seseorang sulit bernapas dan ini dialami oleh orang yang naik ke lapisan tertinggi atmosfer.

Wallahua’lam bishawab

Sumber:  tanyoe.com, mukjizat sains Alquran, sains dakwah, Bagaimana Orang Melakukannya? Alih bahasa Dr. Alexander Sindoro.

 

Baca juga:

Fakta Alam Semesta yang Terkembang Sudah Termaktub dalam Alquran

 

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top