Belajar Hijrah dari Komunitas Punkajian Bekasi: 'Menjadi Baik Adalah Proses'

gomuslim.co.id – Komunitas Punk atau yang biasa disebut anak Punk, notabene adalah anak-anak muda berlebel Nakal, bertato dengan penuh anting percing ditubuhnya yang pekerjaannya hanyalah nongkrong, mabuk, mengamen dan memalak. Penilaian itu disampaikan beberapa warganet.

Tapi, Punkajian menepis semua predikat itu. Anak Punk melalui Komunitas Punkajian ini, menentukan jalan Hijrahnya untuk lebih taat kepada Allah SWT. Punkajian adalah sebuah komunitas dibilangan Kota Bekasi, yang berawal dari kesamaan latarbelakang, yaitu Mereka yang berasal dari perkumpulan anak Punk Jalanan.

Berawal dari kenakalan yang sama itulah, dimana mereka juga bersama mendapatkan Hidayah dari Allah SWT untuk menjadi baik. Motto mereka Menjadi Baik Adalah Proses (MBAP).

Nama Pungkajian berasal dari anak-anak Punk yang Mengaji menjadi Punkajian. Ada sekitar 30 member pungkajian dengan 15 member yang rutin mengikuti kajian dan Istiqomah di jalan hijrah. Sekertariat Punkajian berada di pertengahan Kota Bekasi, tepatnya di Perumahan Wisma Asri 2, jalan Hibrida Blok AA 25 nomor 83, teluk pucung, Bekasi Utara.

Sekertaris Jendral Punkajian Bekasi, Rizki Abu Aisha mengatakan perjalanan hijrah para anak-anak punk tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia mengaku, masih sering turunnya keimanan para penikmat hijrah ini. Akan tetapi, hal tersebut dapat di lawannya dengan dukungan seluruh anggota Punkajian untuk tetap berada dijalan yang Allah Ridhoi.

“Saat kami semua memulai hijrah, banyak cobaannya yang kami hadapi, salah satunya adalah lingkungan. Saat kami pergi kemasjid untuk melakukan shalat, mereka memandang kami negatif, bahkan kami pernah suudzon berfikir bahwa mereka akan menyangka kami untuk mengambil sendal atau kotak amal. Karena pandangan mereka yang tertuju ke kami,” ungkap Rizki kepada gomuslim.

“Akan tetapi semua dapat kita hadapi karena support dari saudara kami di punkajian. Mereka selalu menasehati kami untuk lebih Sabar. Bahkan kami disarankan untuk menghadapi mereka dengan lemah lembut, menyapa, berjabat tangan dan mengucapkan salam. Alhamdulillah lingkungan kami sekarang dapat menerima kami dengan baik. Kami Bahagia,” tambahnya.

Tidak hanya di situ, ia menceritakan bahwa dakwah para anggota pungkajian kepada anak-anak punk lain juga sering mendapat hambatan. Katanya, saat mereka berdakwah dengan mengajak sesama anak punk lain yang belum berhijrah untuk ikut gabung dalam satu majelis ilmu, terkadang mereka mendapatkan cacian.

“Kami selalu dibilang sok suci dari teman teman punk lain saat kami mengajak mereka untuk duduk bersama dalam majelis ilmu. Dengan mereka yang seperti itu, bukan berarti kami putus asa, bahkan semakin kuat ghiroh kami untuk terus berdakwah kepada mereka. kami akan terus menjalin silaturahmi kepada mereka dengan baik,” cerita Rizki.

Kata Rizki, bahkan saat dia dan temanpteman menyambung silaturahmi kepada mereka.

"Mereka sering menawarkan minuman keras kepada kami, karena awal kami hijrah, saat silaturahmi dengan mereka, kami menggunakan pakaian layaknya anak punk lain. Agar kami tidak ikut terbawa kembali kepada lembah hitam, sekarang saat ini, kami silaturahmi ke mereka menggunakan pakaian syar’i yaitu caju koko dengan celana ngatung, alhamdulillah sekarang mereka lebih menghargai kami, walau mereka tetap menolak diajak berhijrah,” tambahnya.

Sementara itu, Iwan Daki (36) adalah salah satu anak punk yang diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk berhijrah, dan saat ini Ia menjadi anggota Punkajian Bekasi. Iwan sebelunya adalah seorang pelukis tato. Ia anak punk yang mengisi sekujur tubuhnya dengan tato berbagai model, bahkan ia merobek kupingnya dengan menggunakan anting percing  yang berukuran besar.

Iwan mengatakan, awal dirinya bisa masuk di komunitas Punkajian karena di ajak oleh sahabat punk yang sudah tergabung di punkajian. Ia menceritakan, saat dirinya bergabung, iwan sudah mendapatkan hidayah dari Allah, saat itu katanya, ia sudah mulai belajar Shalat yang dilakukan dirumah.

“Saya merasa hidup saya sia-sia, saya bekerja sebagai artis tato. Banyak mudharatnya pekerjaan saya. Saya tidak mengenal dosa, saya melakukan hal apapun yang saya mau, bahkan saya adalah pengguna narkoba, Naudzubillah. Hingga akhirnya Allah memberikan hidayah kepada saya, saat itulah saya mulai merasa hidup saya lebih tenang. Saat itu saya belum mengenal Punkajian tapi saya sudah belajar shalat,” ujar Iwan.

“Saat saya belajar Shalat, saya memulainya di Masjid, tapi masyarakat memandang saya sebelah mata, pada akhirnya  turun keimanan saya. Hingga pada suatu hari saya di ajak anggota punkajian untuk gabung. Dengan penuh bahagia Saya terima tapi saya shalat tetap mau di rumah karena ketraumaan. Akan tetapi, anggota punkajian menguatkan saya untuk sabar dan terus istiqomah, serta melakukan shalat di masjid, dan saya melakukan hal itu, hingga akhirnya masyrakat dapat menerima.  Banyak ilmu yang saya dapatkan, salah satunya adalah ilmu sabar dan istiqomah. Belajar aqidah dan akhlaq Rasulullah, saya belajar melakukan itu, dan Alhamdulillah masyrakat sekarang menerima saya dengan baik,” tambah cerita Iwan.

Sedangkan, Adi Raya atau biasa di panggil Bilbob (34), adalah anggota punkajian yang menyatakan baru mengenal Al-Quran. Ia mengaku islam sejak dirinya lahir. Akan tetapi, mengenal Al-qur’an baru beberapa tahun silam sejak dirinya hijrah dan belajar islam melalui komunitas Punkajian.

Ia mengaku, sepanjang hidupnya tidak pernah yang namanya membaca Al-Qur’an, hingga pada saat Allah memberikan hidayah kepada dirinya, ia ingin memulai mengenal islam secara keseluruhan yaitu Shalat, Mengaji, dan Mengkaji Al-Qur’an dan Hadist.

“Awalnya, saya malu untuk belajar ngaji, saya takut diejek, ditertawakan. Tapi ternyata penilaian saya salah. Alhamdulillah Komunitas Punkajian dengan sabar mengajari saya mengaji tanpa marah dan tanpa harus mengejek saya,” ungkap Bilbob.

Kemudian, Elvan salah seorang anggota punkajian yang mendapatkan piket mengajar mengaji anggotanya yang belum bisa mengaji ini mengatakan untuk mengajar mengaji mantan anak brandal adalah tugas yang besar dan penuh kesabaran.

“Tidak harus dengan cara marah atau berdebat ko’, pada dasarnya keinginan mereka bisa itu lebih kuat. Sehingga mereka mudah menangkap apa yang diberitahukan,” ungkap Elvan.

Untuk diketahui, Punkajian memiliki agenda rutin yaitu belajar mengaji yang dilakukan dari senin hingga ahad. Kajian bulanan yang di lakukan sebulan dua kali tanpa di tentukan tanggalnya, pelaksanaan biasa dilakukan Anggota Punkajian di Masjid Baitul Mukhlisin, Duren Jaya Bekasi Timur.

Selain itu, Rizki Abu Aisha juga berharap masyarakat dapat menerima kumpulan komunitas punkajian yang berada di Bekasi ini, karena tujuan komunitas ini adalah mencari Ridho Allah SWT. Bahkan harapannya, warga dapat membantu komunitas punkajian ini dengan memberikan berbagai ilmu agama sehingga apa yang tidak diketahui oleh anggota punkajian, bisa menjadi tahu.

Rizki mengajak kepada seluruh anak-anak punk jalananan atau masyarakat yang ingin berhijrah, dapat bergabung dengan punkajian Bekasi. Belajar bersama membangun dan mencari Ridho Allah Ta’ala dengan satu keluarga dalam komunitas Hijrah Punkajian. Ia menegaskan kembali alamat sekertariat komunitas punkajian berada di Perumahan Wisma Asri 2, jalan Hibrida Blok AA 25 nomor 83, teluk pucung, Bekasi Utara atau bisa komunikasi di akun instagramnya @punkajian_bekasi. (hmz/foto:hmz)


Back to Top