FoSSEI, Kelompok Mahasiswa Pecinta Ekonomi Syariah Terbesar di Dunia

gomuslim.co.id – Bila ekonomi konvensional itu mampu mengubah sebuah Negara, maka ekonomi syariah mampu mengubah sebuah peradaban. Begitulah salah satu kutipan saat gomuslim berbincang dengan salah satu Presidium Nasional Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), Irsyad Al Ghifari.

FoSSEI, sebuah organisasi mahasiswa pecinta ekonomi syariah terbesar di Indonesia bahkan dunia. Karena tidak ada satu pun perkumpulan atau perhimpunan mahasiswa ekonomi syariah besar selain di Indonesia. Bahkan, Malaysia yang perkembangan ekonomi Islamnya cukup pesat pun tidak memilikinya.

Berdiri pada tanggal 13 Mei tahun 2000, FoSSEI saat ini mewadahi lebih dari 17 ribu kader yang terdiri dari 196 universitas seluruh Indonesia. Mereka aktif sebagai SDM yang siap mewarnai industri, pemerintahan, maupun filantropi dengan ekonomi Islam.

Irsyad mengatakan, proses berdirinya organisasi ini tidak lepas dari sosok Adiwarman Karim, seorang praktisi dan akademisi ekonomi syariah yang mengisi kajian tentang ekonomi Islam di Universitas Padjajaran (Unpad).

Saat itu, kampus masih sebebas sekarang. Perkumpulan kajian tersebut kerap mendapat tuduhan miring. Bahkan, sempat ada tudingan organisasi teroris dari pihak dekanat.

Seiring berjalannya waktu, anggota Dewan Syariah Nasional MUI ini mengusulkan kepada mahasiswanya untuk membuat sebuah forum. “Dulu ada tim perumpus organisasi. Isinya temen-temen dari UI, Undip, Unpad dan kampus lainnya. Barulah tahun 2002 Munas pertama berlangsung yang dihadiri oleh perwakilan 70 universitas. Berdirilah namanya FoSSEI,” jelasnya.

Karakteristik dan Program

Lebih lanjut, Mahasiswa IPB ini menjelaskan bahwa karakteristik dari FoSSEI itu ada tiga. Ukhuwah, dakwah dan ilmiah. Ketiga hal inilah yang mencirikan kegiatan FoSSEI dan program-program kerjanya.

“Kita punya acara besar, pertama ada Temu Ilmiah Nasional. Ini program untuk keilmuannya. Jadi temen-temen dari seluruh Indonesia berkumpul, terus ada lomba dan simposium. Tahun ini isunya tentang Wakaf dan Industri Halal. Kita memberikan semacam proseding, rekomendasi kebijakan kepada stakeholder baik itu pemerintah, praktisi dan sebagainya,” paparnya.

Selanjutnya, FoSSEI juga mempunyai program kampanye nasional, musyawarah nasional, rapat kerja nasional. Program kerja dukungan lainnya ada FoSSEI mengajar, FoSSEI masuk desa, Sosialisasi ekonomi syariah, sertifikasi halal dan lainnya.

Meski begitu, Irsyad menjelaskan bahwa FoSSEI merupakan organisasi non partisan, indpenden, dan bukan organisasi yang sifatnya demonstrasi. FoSSEI memilih menjadi intermediator antara pemerintah dan masyarakat.

“Jadi siapa pun rezimnya, FoSSEI akan selalu berkolaborasi dengan pemerintah, bukan menjadi mitra kritis tapi menjadi mitra diplomasi. Karena biasanya FoSSEI dalam memberikan advokasi dengan cara diplomasi, audiensi dan cara lainnya,” ungkapnya.

Investasi dan Mengabdi

Saat ini, kata Irsyad, FoSSEI mencoba untuk berbenah bersama baik secara internal maupun eksternal. Jika biasanya kegiatan FoSSEI hanya berhenti di ranah kajian/diskusi, maka tahun ini mulai merambah ke hal yang lebih konkret. 

“Kita ada program FoSSEI investasi. Jadi menginvestasikan 110 juta ke beberapa intsrumen keuangan syariah. Kita beli sukuk tabungan ST-003 senilai 30 juta Negara. Kita ingin sampaikan ke Negara bahwa FoSSEI mencintai Indonesia dengan cara membeli sukuk. Karena sukuk biasanya dipakai untuk pembangunan RS, atau lainnya,” jelasnya.

FoSSEI juga menyimpan depposito syariah di BPRS senilai 30 juta. Investasi di Igrow (pertanian), CIMB Syariah dan berencana membeli wakaf saham.  

Kemudian, ada juga FosSEI Mengajar. Para kader dari 20 universitas mulai dari Sumatera sampai Sulawesi Selatan turun ke SMA-SMA mengajar tentang gambaran umum ekonomi syariah. Pengenalan ini juga dilakukan lewat permainan UNO Syariah bekerjasama dengan CIMB Niaga Syariah.

“Lalu ada program FoSSEI Masuk Desa. Jadi temen-temen 20 universitas tadi turun ke masyarakat, nginep bareng, melakukan pengabdian dan pemberdayaan bagi warga desa,” jelasnya.

 

Baca juga:

Kampanye Nasional Ekonomi Syariah, FoSSEI Luncurkan Gerakan Wakaf Milinenial Serentak di 26 Titik Seluruh Indonesia

 

Program lainnya, FoSSEI juga menggagas Burjo Syariah. Sebuah program revitalisasi Burjo (bubur kacang ijo) agar usaha UMKM ini lebih menarik sekaligus membantu dalam pengurusan sertifikasi halal.

“Kita juga punya program riset bersama dengan lembaga riset di UGM. Riset tentang ekonomi masjid. Lalu ada juga program elektronik Kartu Tanda Kader (KTK) atau keaggotaan agar para anggota bisa mengakses jurnal, file dan kebutuhan lainnya yang terkait ekonomi syariah,” ujarnya.

Selain itu, FoSSEI juga bekerjasama dengan Dompet Dhuafa dan CIMB Niaga Syariah lewat gerakan wakaf milenial menggunakan aplikasi. Dana wakaf tunai tersebut selanjutnya digunakan untuk pembangunan RS Wakaf di Jombang.

Makna FoSSEI dan Ciri Khas

Menurut Irsyad, FoSSEI tidak hanya singkatan. Tetapi ada makna terdalam kata forum silaturrahimnya. Biasanya dalam sebuah organisasi ada ketua umum dan wakil ketua. Tapi pimpinan FosSEI namanya presidium nasional yang berjumlah lima orang.

“Artinya, kepemimpinan di FoSSEI sifatnya kolektif kolegial jadi seperti komisioner KPK dan KPU. Kita menonjolkan bahwa kepemimpinan di FoSSEI ini yang paling tinggi bukan orang tapi musyawarah. Dan forum diibaratkan seperti PBB. Universitas/KSEI tadi adalah Negara. Otomatis kita gak bisa intervensi mereka. Tapi kita punya struktur koordinator regional dari setiap wilayah,” ujarnya.

Ia menyebut ciri khas dari FoSSEI adalah keberagaman. FoSSEI menjadi rumah besar organisasi mahasiswa Islam Indonesia seperti HMI, PMII, IMM, atau KAMMI.  “Ciri khas kedua, kita mahasiswa yang bener-bener ilmiah termasuk dalam menyampaikan argumentasi. Makanya kita gak pernah demo, karena demo gak ilmiah menurut kami. Walaupun pribadi-pribadi orangnya pernah demo,” katanya

Bagaimana Cara Bergabung dengan FoSSEI?

Untuk menjadi anggota FoSSEI, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Jika di kampus mahasiswa yang ingin bergabung tersebut sudah ada Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), maka tinggal mendaftarkan diri langsung.

Namun, jika di kampusnya belum ada KSEI, maka beberapa hal yang perlu dilakukan. “Misal ada kampus di Kupang. Kalau pengen gabung FoSSEI, harus cari dulu anggotanya minimal 15 orang. Terus beri nama KSEI nya. Setelah itu, berkas-berkasnya dikirim ke regional terdekat. Selanjutnya akan diproses selama setahun (sebagai peninjau). Kalau dinyatakan lulus akan disahkan saat Munas,” paparnya.

Jadi persyaratan untuk bergabung dalam forum ini adalah harus ada KSEI (organisasi peminatan ekonomi syariah), mengikuti agenda FosSEI di regional setempat dan nasional (tidak wajib), kemudian mengurus berkas administrasi.

Ekonomi Islam di Indonesia

Menurut Irsyad, perkembangan ekonomi Islam di Indonesia saat ini masih paradoks. Indonesia mayoritas muslim terbesar di dunia, tapi perkembangannya cenderung stagnan. Misalnya dari sisi market share perbankan yang dari tahun ke tahun hanya 4-6 persen. Padahal, Malaysia sudah 23 persen.

“Malaysia perkembangan ekonomi syariah nya top down. Dari kebijakan pemerintah. Kalau di Indonesia bottom-up. Jadi masyarakat yang menginginkan, pemerintahnya belum. Jadi kita mengatakan perkembangannya paradoks,” katanya.

Sementara dari sisi peluang, ekonomi Islam di Indonesia bisa bagus dan bisa ancaman. Ancaman kalau Islamophobia dan sekulerisme semakin menjamur di Indonesia. Ekonomi Islam dianggap sebagai proses Islamisasi yang bisa mengancam kebudayaan.

Meski demikian, FoSSEI tetap optimis meskipun jika pemerintah tidak mendukung. “Ekonomi syariah bisa menjadi hal yang besar di Indonesia, minimalnya sebagai pasar. Yang penting  masyarakat aware dulu, mudah-mudahan selanjutnya Indonesia jadi pelaku utama,” ucapnya.

FoSSEI sendiri mempunyai program sekolah pasar modal syariah yang bekerjasama dengan BEI sejak 2014 sampai sekarang. FoSSEI mengedukasi masyarakat khususnya milenial lebih dari 10 ribu orang dari 80 universitas. Dari sana, lebih dari 3500 investor saham syariah baru muncul.

“Kita juga ada kampanye nasional, turun ke masyarakat menyampaikan tentang ekonomi syariah. Setiap tahun temanya beda-beda. Tiga tahun lalu, Indonesia bebas riba. Sekarang kita kampanye  tentang wakaf,” tuturnya.

Ia menambahkan, peradaban Indonesia tidak akan pernah berubah kalau masyarakatnya tidak memulai dari dirinya sendiri, keluarga, lingkungan rumah dan sekiarnya. Maka dari itu, bisa memulai dengan hijrah dari konvensional ke syariah.

“Mulai investasinya di sektor ekonomi syariah. Karena sudah banyak program pemerintah maupun swasta yang menyediakan investasi syariah. Jadi masyarakat Indonesia jangan pernah ragu untuk mendukung ekonomi syariah. Karena banyak non muslim di beberapa Negara maju pun mengagumi ekonomi syariah. Ekonomi yang menjunjung prinsip keadilan,” tutupnya. (jms)

 

Baca juga:

Presidium Nasional FoSSEI Terpilih Jadi Outstanding Youth For The World 2019


Back to Top