Toko Buku Wali Songo Kwitang Oase Buku Islam di Jakarta

gomuslim.co.id - Kemajuan terknologi digital membuat sebagian masyarakat lebih memilih membaca melalui gadget. Baik membaca buku fiksi, komik, majalah, berita online, dan buku-buku agama.

Hal ini membuat sejumlah toko buku mengalami penurunan omzet akibat beralihnya kebiasaan membaca buku fisik ke digital. Namun, Toko Buku Wali Songo, sebuah toko buku yang menjual buku-buku keislaman masih berdiri tegak di tengah ramainya toko buku umum yang modern.

Berlokasi di Jalan Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Toko buku ini menjual berbagai buku-buku keislaman, Mushaf Alquran, dan berbagai produk bernuansa Islami mulai mukena, kurma dan kaligrafi menjadikan toko buku ini memiliki variasi produk yang dijualnya.

Selain itu, pada hari minggu, Toko Wali Songgo sangat ramai dikunjungi jemaah. Karena lantai dasarnya dipergunakan untuk ‘Pengajian Ahad Pagi’, yang merupakan agenda rutin untuk memperkuat ilmu agama umat Islam.

Sejarah TB. Wali Songo

Toko Buku Wali Songo sendiri dikhususkan menjual buku-buku bernuansa atau khasanah keislaman. Lantai satu  dipergunakan untuk buku, lantai dua untuk baju, aksesoris, parfum serta kaset CD atau DVD dan lantai tiga untuk lukisan/kaligrafi dinding. Keberadaan Toko buku Wali Songo sudah ada sejak 1986. Almarhum Masagung, sang pendiri, merupakan  pengusaha mualaf yang juga dikenal karena mendirikan toko buku Gunung Agung.

Dalam diri Masagung tidak tampak sedikit pun sosok Muslim keturunan yang terkesan eksklusif. Nasionalismenya yang kokoh, membuat ia pandai bergaul dengan siapa saja. Apalagi yang seagama, tanpa memandang dari mana is berasal. Buat Masagung, berbaur bersama umat merupakan ibadah yang besar pahalanya. Sikap yang tidak pernah membeda-bedakan ini menumbuhkan kesan di sebagian kawankawannya. Masagung merupakan pendekar dalam menjalankan misi pembauran di kalangan Muslim keturunan.

Awal mulanya, Masagung kecil berdagang buah semangka yang dijajakan di pinggir jalan atau emperan-emperan toko. Tidak puas hanya dengan ini, Masagung beralih berjualan rokok ketengan. Setelah silih berganti usaha, akhirnya Masagung memantapkan hati untuk mendirikan sebuah CV yakni Gunung Agung, dengan mencurahkan perhatian di bidang penerbitan serta penjualan buku. Usaha ini dirintisnya pada tahun 1953, sampai usahanya berkembang pesat seperti saat ini.

Masagung pulalah pedagang pertama, dengan logo Gunung Agung, distributor/ importir majalah Time, Newsweek, dan banyak lagi yang lain. la pula yang mengembangkan pemasaran film Kodak. Bahkan, pemasaran kamera Canonbuatan Jepang yang terkenal itu. la satu-satunya pedagang valuta asing (valas) yang memiliki jenis mata uang terlengkap dengan jam buka yang panjang (sampai malam).

Tahun 1975, Masagung memeluk agama Islam. Lima tahun setelah keislamannya, ia menunaikan ibadah haji, yang diulanginya dua tahun kemudian bersama sang istri. Saat beribadah haji pertama, ia mulai mencanangkan niat dalam cita-citanya untuk ikut mengharumkan Islam melalui yayasan yang ia bentuk.

Koleksi Buku

Koleksi buku-buku Islam di toko buku ini terbilang komplit. Mulai dari mushaf, buku hadis, sejarah Islam, tasawuf, hingga kitab kuning.

Seiring berjalannya waktu, TB. Wali Songo juga coba menjadi alternatif di antara jaringan toko buku raksasa sekelas Gunung Agung dan Gramedia. Meski bukan lawan, Wali Songo tetap ingin bertahan. 

Meski saat ini penyuplai lebih mengutamakan untuk memasok bukunya ke toko buku umum terlebih dulu. Kemudian setelah berselang beberapa bulan, baru  Wali Songo dapat bukunya. Namun, TB. Walisongo masih tetap memiliki pelanggan setianya.

Selai itu Toko Wali Songo juga memanjakan pelanggan anak-anak, terlihat dengan tersedianya ruang di pojok lantai satu. Sehingga anak-anak bisa duduk di karpet sambil membaca yang jarang dijumpai di tempat toko buku lainnya. (nat/walisongo/dbs/foto:masfebjalanjalan)

 

Baca juga:

Pertahankan Penjualan Buku-Buku Islam, Toko Buku Wali Songo Kwitang Tak Gentar Bersaing

 


Back to Top