Ini Panduan Wudhu Menurut Madzhab Syafi’i

gomuslim.co.id – Salah satu syarat bagi muslim setiap akan beribadah salat adalah berwudhu’. Wudhu adalah cara menyucikan anggota tubuh dengan air.

Secara bahasa, kata wudhu' dalam bahasa Arab berasal dari kata al-wadha'ah. Kata ini bermakna an-Nadhzafah yaitu kebersihan.

Secara istilah syar’i menurut Imam AsySyirbini (w. 977 H) dalam kitab Mughnil Muhtaj Ilaa Ma’rifati Ma’aani Alfadzi al-Minhaj mengatakan: ‘Wudhu menurut istilah syar’i adalah aktifitas khusus yang diawali dengan niat. Atau aktivitas menggunakan air pada anggota badan khusus yang diawali dengan niat’.

Dalil Wudhu’

Di dalam Alquran, Allah SWT berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan salat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki...’ (QS. Al-Maidah : 6)

Di dalam hadits juga disebutkan: ‘Tidaklah salat itu diterima apabila tanpa wudhu' (HR. Muslim)

Dan juga ada hadits lain yang menyebutkan :

Dari Humran bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu meminta seember air kemudian beliau mencuci kedua tapak tangannya tiga kali kemudian berkumur memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya. Kemudian beliau membasuh wajarnya tiga kali membasuh tanggan kanannya hingga siku tiga kali kemudian membasuh tanggan kirinya hingga siku tiga kali kemudian beliau mengusap kepalanya kemudian beliau membasuh kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali begitu juga yang kiri. Kemudian beliau berkata”Aku telah melihat Rasulullah SAW berwudhu seperti wudhuku ini. (HR. Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadits lain juga disebutkan:

Dari Anas r.a dia berkata bahwa Rasulullah SAW berwudhu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim)

Rukun Wudhu

Rukun wudhu ini penting untuk mengukur apakah wudhu kita dianggap sah atau tidak. Jika semua rukun wudhu terpenuhi dalam artian dilaksanakan semua rukun wudhunya ketika berwudhu maka wudhunya sudah dianggap sah.

Jadi intinya rukun wudhu ini adalah sesuatu yang harus ada atau wajib kita lakukan ketika berwudhu. Sah atau tidaknya wudhu kita itu bergantung pada terpenuhi atau tidaknya rukun wudhu tersebut.

Nah, dalam Madzhab Syafi’i disebutkan bahwa rukun wudhu itu ada 6. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Niat Ketika Membasuh Wajah

Rukun wudhu yang pertama adalah niat ketika membasuh wajah. Dalam Madzhab Syafi’i niat itu ada yang hukumnya wajib dan ada yang hukumnya sunnah.

Niat yang hukumnya wajib yaitu niat yang kita hadirkan dalam hati pada saat kita membasuh wajah. Adapun niat yang kita lafadzkan sebelum berwudhu itu hukumnya hanya sunnah. Maka sah atau tidak sahnya wudhu kita itu tergantung pada niat yang terlintas dalam hati ketika membasuh wajah kita.

Dalam kitab Kaasyifatus Sajaa karya Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) niat dalam hati itu minimal menyebutkan sebagai berikut: “Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah ta’ala”.

Adapun bagi orang yang udzur atau sudah sepuh selalu keluar air kencingnya karena penyakit dan lain-lain maka niatnya: “Saya niat berwudhu untuk membolehkan salat fardhu karena Allah ta’ala”.

Dan bagi yang memperbaharui wudhunya, maka niatnya cukup dengan mengucapkan: “Saya niat berwudhu fardhu karena Allah ta’ala”.

2. Membasuh Wajah

Selanjutnya rukun wudhu yang kedua adalah membasuh wajah. Batasan wajah adalah bagian atas kening tempat tumbuhnya rambut sampai bagian dagu. Bagi yang punya jenggot tipis wajib meratakan air ke bagian luar dan dalam jenggot. Namun jika jenggotnya lebat maka cukup bagian luarnya saja yang terkena air.

Kemudian dari bagian telinga kanan sampai telinga yang kiri. Semua yang disebutkan ini harus terkena basuhan air.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah wajahmu, dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu sampai kedua mata kaki. (QS. Al-Maidah : 6)

3. Membasuh Kedua Tangan Hingga Siku

Rukun wudhu yang ketiga adalah membasuh kedua tangan hingga siku. Tidak ada aturan khusus cara membasuhnya. Boleh dari ujung jari kemudian kearah siku atau juga sebaliknya dari siku menuju ujung jari tangan. Yang terpenting adalah meratakan air pada kedua tangan.

4. Mengusap Sebagian Kepala

Rukun wudhu yang keempat adalah mengusap sebagian kepala. Para ulama Syafi’iah membolehkan usapan sebagian kepala walaupun hanya beberapa rambut saja yang kena usapan. Tidak harus semua kepala diusap semua.

Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Muslim:

Dari sahabat al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu, sesungguhnya Rasulullah SAW berwudhu dan mengusap ubun-ubunnya saja dan imamahnya. (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW hanya mengusap bagian depan kepalanya saja yaitu ubun-ubunnya. Beliau tidak mengusap seluruh kepalanya. Artinya mengusap sebagian kepala itu sudah mencukupi.

Adapun hadits shahih yang menyebutkan Nabi SAW berwudhu dengan mengusap seluruh kepala dari depan ke belakang itu dipahami oleh madzhab Syafi’i sebagai kesunnahan dalam wudhu. Jadi yang wajib cukup mengusap sebagian kepala saja sudah sah wudhunya. Sebagaimana Nabi SAW pernah melakukannya.

5. Membasuh Kedua Kaki Hingga Mata Kaki

Rukun wudhu yang kelima adalah membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Dalilnya adalah firman Allah SWT QS. Al-Maidah ayat 6.

6. Tertib

Rukun wudhu yang keenam adalah tertib. Maksudnya adalah 4 anggota tubuh yang sudah kita sebutkan diatas yaitu wajah, kedua tangan, kepala dan kaki harus berurutan.

Empat anggota tubuh tersebut tidak boleh kebolakbalik. Misalnya ada orang berwudhu membasuh kaki dulu baru membasuh tangan maka wudhunya tidak sah karena tidak tertib atau tidak berurutan.

Sunnah Wudhu

Sunnah wudhu maksudnya adalah hal-hal yang disunnahkan atau dianjurkan dalam wudhu. Akan tetapi seandainya sunnah wudhu ini tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Wudhunya tetap sah hanya saja tidak mendapatkan pahala sunnah yang sempurna dalam wudhu.

Intinya walaupun hukumnya hanya sunnah namun alangkah baiknya tetap kita lakukan mengingat ada pahala yang kita dapatkan jika kita kerjakan sunnahsunnah wudhu tersebut.

Diantara yang termasuk sunnah wudhu dalam Madzhab Syafi’i adalah sebagai berikut:

1. Menghadap Kiblat

Di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab dan kitab al-Fiqhu al-Manhaji Alaa Madzhabi al-Imam Asy-Syaafi’iy disebutkan bahwa disunnahkan ketika berwudhu untuk menghadap ke arah kiblat.

Sebab arah kiblat adalah termasuk arah yang mulia. Sehingga disunnahkan untuk menghadap kiblat. Namun jika tidak bisa menghadap kiblat maka tidak mengapa. Wudhunya tetap sah, hanya saja tidak mendapatkan pahala sunnah menghadap kiblat.

2. Bersiwak

Di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi (w. 676 H) dan kitab Kaasyifatus Sajaa karya Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1314 H) disebutkan bahwa disunnahkan bersiwak atau sikat gigi setiap kali hendak wudhu.

Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari & Muslim:

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi SAW beliau bersabda: Seandainya tidak memberatkan ummatku maka sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu. (HR. Bukhari & Muslim)

3. Membaca Basmallah

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah membaca basmallah sebelum berwudhu.

Dalilnya adalah hadits hasan riwayat Imam an-Nasa’i: Dari sahabat Anas Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Berwudhulah dengan menyebut nama Allah. (HR. An-Nasa’i)

4. Melafadzkan Niat Wudhu

Di dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam an-Nawawi (w. 676 H) disebutkan bahwa disunnahkan melafadzkan niat wudhu sebelum berwudhu. Biasanya lafadz niat wudhu yang diucapkan redaksinya sebagai berikut:

"Nawaitul wudhuu-a liraf'll hadatsil ashghari fardhal lilaahi ta'aalaa"

Saya niat wudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah ta’ala.

Hal ini dilakukan agar bisa membantu niat dalam hati ketika membasuh wajah.

5. Membasuh Kedua Telapak Tangan

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah membasuh kedua telapak tangan terlebih dahulu sebelum berwudhu.

Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari & Muslim:

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi SAW beliau bersabda: Jika salah satu dari kalian bangun dari tidur maka janganlah memasukkan kedua tangan ke dalam wadah air hingga dia mencucinya terlebih dahulu. Sebab dia tidak tahu dimana tangannya tadi malam. (HR. Bukhari & Muslim).

6. Berkumur-kumur

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah berkumur-kumur. Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari & Muslim:

Dari Humran bahwa Utsman ra meminta air wudhu: … Lalu berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung dan menghembuskannya keluar … Kemudian Utsman berkata: Saya melihat  Rasulullah saw berwudhu seperti wudhu-ku ini. (HR. Bukhari Muslim)

7. Istinsyaq

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah menghirup air ke dalam hidung atau yang disebut dengan Istinsyaq. Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari & Muslim:

Dari Humran bahwa Utsman ra meminta air wudhu: … Lalu berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung dan menghembuskannya keluar … Kemudian Utsman berkata: Saya melihat Rasulullah saw berwudhu seperti wudhu-ku ini. (HR. Bukhari Muslim)

8. Mengusap Seluruh Kepala

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah mengusap seluruh bagian kepala. Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari & Muslim:

Dari Abdullah bin Yazid bin Ashim ra tentang cara berwudhu, dia berkata: “Rasulullah saw mengusap kepalanya dengan kedua tangannya dari muka ke belakang dan dari belakang ke muka.” Dalam lafaz lain, “Beliau mulai dari bagian depan kepalanya sehingga mengusapkan kedua tangannya sampai pada tengkuknya lalu mengembalikan kedua tangannya ke bagian semula.” (HR. Bukhari Muslim)

9. Mengusap Kedua Telinga

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah mengusap kedua telinga. Disunnahkan ketika mengusap telinga menggunakan air yang baru lagi. Maksudnya tidak menggunakan air bekas usapan kepala.

Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Ibnu Majah:

َّDari Ibnu Abbas: Bahwa Nabi saw mengusap  kepala dan dua telinganya. Beliau memasukkan dua jari telunjuk (ke bagian dalam daun telinga), sedangkan kedua jempolnya ke bagian luar daun telinga. Beliau mengusap sisi luar dan dalam telinga. (HR. Ibnu Majah)

10. Menyela Jenggot & Jari

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah menyela jenggot yang lebat dan menyela jarijari tangan dan kaki.

Dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Abu Dawud & Imam al-Baihaqi:

Dari Anas bin Malik: Bahwa Nabi saw bila berwudhu mengambil secukupnya dari air, dan memasukkannya ke bawah dagunya dan meresapkan air ke jenggotnya. Beliau bersabda: "Beginilah Tuhanku memerintahkanku.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi)

Adapun dalil kesunnahan menyela pada jari tangan dan kaki, (takhlil al-ashabi’), adalah hadits berikut:

Dari ‘Ashim bin Laqith, dari ayahnya (Laqith), ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Jika engkau berwudhu, ratakanlah wudhu dan basahi sela-sela jari dengan air. (HR. Tirmizi, Nasa’i, dan Abi Dawud)

11. Mendahulukan Bagian Kanan

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah mendahulukan bagian kanan baru kemudian yang kiri.

12. Membasuh & Mengusap 3 Kali

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah membasuh atau mengusap 3 kali.

13. Berdoa Setelah Wudhu

Di dalam kitab Imta’ul Asmaa’ Fii Syarhi Matni Abi Syujaa’ karya Dr. Syifaa’ binti Dr. Hasan Hitou disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah berdoa setelah wudhu.

Dalilnya adalah hadits shahih berikut ini:

Dari Umar, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Siapa pun di antara kalian yang berwudhu, dan menyempurnakan wudhunya, lalu membaca: “asyhadu alla ilaaha illallahu wahdahuulaa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuuluh …”, pasti akan dibukakan baginya pintu-pintu surga. (HR. Muslim dan Tirmizi). Dalam riwayat Tirmizi ditambahkan bacaan: “Allahummaj’alni minat tawwabiina waj’alni minal mutathohhiriin.” (HR. Tirmizi)

14. Ad-Dalku

Di dalam kitab al-Fiqhu al-Manhaji Alaa Madzhabi al-Imam Asy-Syaafi’iy disebutkan bahwa disunnahkan ketika berwudhu memijit atau menggosok-gosok dengan tangan (ad-Dalku). Dalilnya adalah hadits shahih berikut ini:

Dari Abdullah bin Zaid: bahwa Nabi saw mengambil seperti mud air, yang digunakan untuk menggosok lengannya. (HR. Ibnu Khuzaimah. AlA’zhami berkata: Isnadnya shahih).

15. Muwalah

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa termasuk sunnah wudhu adalah muwalah.

Muwalah adalah berwudhu dengan berkesinambungan tanpa dijeda atau tanpa diputusputus. Dalilnya adalah perbuatan Nabi SAW dalam setiap wudhu.

Namun apabila kita menjeda wudhu kita dalam artian tidak muwalah maka wudhunya tetap sah. Misalnya ketika membasuh tangan tiba tiba air yang kita gunakan habis. Sehingga harus mencari air terlebih dahulu di tempat lain. Maka ini terjeda beberapa saat disebut dengan tidak muwalah.

Dan ketika menemukan air kemudian langsung lanjut mengusap kepala maka tidak apa apa. Namun afdholnya mengulangi wudhu dari awal.

Pembatal Wudhu

Dalam Madzhab Syafi’i, hal yang membatalkan wudhu ada 6 perkara. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, sesuatu yang keluar dari kemaluan. Misalnya air kencing, air mani, wadi, madzi, darah, nanah, atau cairan apapun. Juga bisa berupa benda padat seperti kotoran manusia, batu ginjal, batu akik, cacing dan lainnya. Dan termasuk juga najis yang wujudnya berupa benda gas seperti kentut. Semuanya itu bila keluar lewat dua lubang qubul dan dubur maka wudhunya menjadi batal.

Kedua, tidur dalam keadaan tidak duduk. Hal yang termasuk membatalkan wudhu adalah tidur dalam keadaan tidak menempatkan bokong/pantat ke lantai.

Ketiga, hilang akal dengan sebab mabuk, gila, pingsan dan lainnya.  Dalil yang melandasi hal ini adalah qiyas pada masalah tidur. Orang yang tidur itu tidak sadarkan diri apalagi hilang akal karena mabuk misalnya. Yang sama sama tidak sadarkan diri. Maka wudhunya juga batal.

Keempat, sentuhan kulit dengan yang bukan mahram

Di dalam kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’ (w. 593 H) disebutkan bahwa yang termasuk membatalkan wudhu adalah sentuhan kulit antara pria dan wanita yang bukan mahram.

Perlu diketahui bahwa jika sentuhan yang terjadi adalah menyentuh kuku, gigi dan rambut wanita maka wudhunya tidak batal.

Apabila sentuhan kulit dengan kulit yang ada kain yang menghalangi maka wudhunya juga tidak batal. Begitu juga sentuhan dengan sesama mahram wudhunya juga tidak batal.

Bagi yang masih bingung apa itu mahram. Mudahnya mahram adalah orang yang haram kita nikahi seperti ibu kandung kita misalnya. Maka sentuhan dengan ibu kandung tidak batal.

Dan sebaliknya bukan mahram adalah orang yang halal kita nikahi. Seperti wanita lain yang bukan keluarga kita misalnya. Maka jika sentuhan kulit dengan kulit maka wudhunya batal.

Dalil yang melandasi hal ini adalah:

Dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah bin Ibnu Umar dari Umar bin al-Khattab RA. Berkata : Mencium istri dan menyentuhnya termasuk Mulamasah. Siapa yang mencium istrinya atau menyentuhnya maka wajib baginya berwudhu. (HR. Malik dalam Al-Muwatto’ dan Imam Baihaqi. Sanad Hadits Ini Paling Shahih)

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa Nabi SAW pernah mencium istrinya kemudian langsung salat adalah hadits dhaif atau lemah.

Kelima, menyentuh qubul (kemaluan depan) dengan telapak tangan tanpa penghalang. Adapun jika ada kain yang menghalangi maka wudhunya tidak batal. Dalil yang melandasi hal ini adalah hadits: Siapa yang menyentuh kemaluannya maka harus berwudhu (HR. Ahmad dan At-Tirmizy)

Keenam, menyentuh dubur (kemaluan belakang) dengan telapak tangan tanpa penghalang. Adapun jika ada kain yang menghalangi maka wudhunya tidak batal. Dalil yang melandasi hal ini adalah qiyas pada menyentuh kemaluan depan (qubul).

Wallahu a’lam Bishawab

Sumber:

Muhammad Ajib, Lc. MA. 2019. Fiqih Wudhu Versi Madzhab Syafi’i. Jakarta: Rumah Fiqih Publishing Cet Pertama

Rumah Fiqih Indonesia

 


Back to Top