Meski Sekular, Inggris Justru Terdepan Dalam Penerapan Ekonomi Syariah

Jakarta, (gomuslim). Sejak era kapitalisme-liberalisme yang mulai menggeliat dalam perkenomian, tercatat dunia ini pernah mengalami perlambatan ekonomi. Yang terakhir, terjadi pada tahun 2012 lalu. Hampir di seluruh sektor negara-negara di dunia merasakan dampak negatif dari perlambatan laju ekonomi. Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan negara-negara maju lainnya tak berkutik untuk mencegah terjadinya resesi global.

Dalam menyikapinya, masing-masing negara di dunia mengambil paket kebijakan ekonomi yang berbeda-beda. Di tengah-tengah gonjang-ganjing perekonomian yang tidak stabil serta rasa bosan terhadap reputasi kapitalis, Inggris mulai berbenah.

Mulai tahun 2000-an silam, negara-negara Eropa mulai membuka diri terhadap perekonomian syariah. Banyak negara di Eropa yang mengadopsi konsep ekonomi syariah setelah mereka menyadari tujuan yang jelas dari sistem ini dalam menangani pelbagai masalah yang erat kaitannya dengan ekonomi, seperti masalah kesenjangan sosial yang semakin menggila.

Atmosfir perkembangan pesat bank syariah mulai terasa setelah pada tahun 2004, the Islamic Bank of Britain (IBB) resmi berdiri dan menjadi bank syariah pertama di Eropa yang diikuti dengan prestasi gemilang perbankan syariah di negeri tersebut. 50 ribu nasabah pada tahun itu adalah bukti nyata respon positif masyarakat terhadap ekonomi syariah. Meskipun baru terbentuk, nyatanya perbankan syariah bisa bersaing dengan bank konvensional lainnya dalam menawarkan produk-produk berkualitas kepada masyarakat.

Sebagai salah satu pusat bisnis dan keuangan terbesar di dunia, tak kurang dari 100 perusahaan besar dari 500 perusahaan besar Eropa berlokasi di Inggris. Melalui ibukotanya, London, Inggris merupakan tanah yang subur bagi perkembangan industri syariah.  Ditandai dengan penobatan Inggris sebagai negara yang memiliki bank terbanyak bagi umat muslim dibanding negara Barat lainnya. Aset perbankan syariah di Inggris mencapai 18 miliar dolar AS (12 miliar poundsterling) dari total aset perbankan syariah global sebesar 778 miliar dolar AS (2014), melebihi aset perbankan syariah di negara lain, seperti Pakistan, Bangladesh, Turki, dan Mesir.

Walaupun bukan berasal dari negara muslim, Inggris merupakan negara termaju dalam menerapkan ekonomi syariah. Sejak awal perekonomian Inggris memang didasari kesejahteraan sosial yang dipadukan dengan pasar bebas. Alasan itulah yang membuat Inggris merasa cocok dengan sistem ekonomi syariah. Tidak ada satu pun sektor yang bisa menghindari krisis global, akan tetapi keuangan syariah menunjukan ketahanan yang sangat luar biasa. Hal ini pun memicu ketertarikan negara Barat lainnya terhadap konsep ekonomi Islam, seperti Perancis, Jerman, dan Italia yang pada akhirnya juga mengadopsi sistem ini.

Industri perbankan syariah bisa berkembang dengan sedemikian pesatnya karena komitmen sistem tersebut pada pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan dalam pertumbuhan ekonomi, penghapusan riba (tanpa bunga), pelarangan spekulasi mata uang yang berdampak terciptanya iklim perekonomian yang sehat dan stabil, dan sistem bagi hasil sehingga tidak mengalami spread sebagaimana yang dialami ole bank-bank konvensional. Dengan begitu, para pelaku ekonomi tidak terbatas hanya pada kalangan atas saja, kalangan kecil pun bisa “bermain” di pasar ekonomi dunia.

Menurut catatan sejarah dari berbagai sumber, awal perbankan mulai mengadopsi sistem ekonomi Islam dalam pengoperasiannya dimulai pada tahun 1963 di negara Mesir. Jika melihat lebih jauh kebelakang, sistem perekonomian Islam pertama kali digunakan sejak zaman Rasulullah SAW. Ketika itu, Rasulullah melakukan perdagangan di sekitar Masjidil Haram dengan sistem murabahah, yaitu jual beli yang harga pokoknya diinformasikan dan marginnya dapat dinegosiasikan.

Selain itu, beliau juga menjalankan akad-akad seperti mudharabah, musyarokah, salam, istisna, dan ijaroh serta meninggalkan riba, penipuan, dan perjudian. Dari sinilah kemudian praktik-praktik bermuamalah dengan syar’i atau sistem syariah dalam perekonomian berkembang.

Keungulan ekonomi syariah dibanding sistem kapitali-liberalis pada akhirnya sangatlah terlihat nyata. Amerika Serikat, misalnya. Sebagai negara teratas ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB “Nominal” 2015 dan proyeksinya di tahun 2016 sekaligus pemilik mata uang dollar yang paling banyak digunakan di dunia, ternyata belum bisa menyelesaikan masalah kesenjangan ekonomi dan kemiskinan meskipun menyandang sebagai status perekonomian terbesar di dunia. Maka dari itu, salah satu solusi terpenting dalam me-recovery ekonomi adalah penerapan ekonomi syariah secara total.