Gerobak Listrik Telah Diresmikan, Pendorong Kursi Roda Dilanda Kegelisahan

Mekkah, (gomuslim). Meskipun Dewan Pengurus Masjid Haramain telah meresmikan pengoperasian gerobak listrik namun kursi roda yang telah ada sejak dahulu tidak serta merta ditinggalkan begitu saja hingga hari ini. Penyewaan kursi roda di Masjidil Haram memang telah lama berlangsung, bahkan alat pembantu jemaah yang sakit ini merupakan sarana pendukung dalam melaksanakan Sa’i khususnya bagi jemaah yang sudah lanjut usia.

Kursi roda kerap digunakan oleh saudara kita yang tak kuat melakukan ibadah Sa’i dan didorong oleh petugas khusus yang menyewakan kursi roda tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh operator kursi roda Muhammad As-Sulami. Menurut Sulami sebagaimana yang dikutip dari Alhayat, sejak 20 tahun lalu jemaah haji atau umrah yang sakit dan renta biasanya menggunakan kursi roda ini untuk berkeliling Masjidil Haram ataupun melakukan ibadah sa’i.

Perjalanan lebih dari 1 kilometer ditempuh oleh sulami sambil mendorong kursi roda jemaah, kondisi seperti ini merupakan hal biasa yang kerap ia dan teman-temannya lakukan. Dalam sehari terkadang Sulami membawa 1-3 jemaah yang tak kuat berjalan dari Shafa ke Marwa.

Namun pada sisi lain, perkembangan kota Mekkah berimbas pada perkembangan infrastruktur di Masjidil Haram,  selanjutnya Ketua Pengurus Masjid Haramain Syeikh Abdurrahman As-Sudais meresmikan gerobak listrik atau semacam mobil listrik berkecepatan rendah seperti yang sering terlihat di lapangan golf atau Istana Negara di Indonesia.

oyoiyp

Pasca peresmian gerobak listrik ini, Direktur Humas Masjidil Haram Rajih Haratsi, menjelaskan bahwa gerobak listrik ini terdiri dari 10 unit dengan 14 supir yang bekerja 24 jam secara bergantian. Sebagaimana yang dikutip dari gph.gov.sa Selasa, (07/06/2016),  Rajih menandaskan bahwa fungsi adanya gerobak listrik ini adalah untuk membantu jemaah yang sudah berusia lanjut, kemudian gerobak listrik ini juga dapat dipakai untuk mengangkut jenazah yang berada di dalam masjid jika ada jemaah yang meninggal dunia saat melaksanakan ibadah di Masjidil Haram.

Karena jumlah unit gerobak listrik ini masih terbilang sedikit, maka keberadaan kursi roda manual sementara ini tidak terancam mengingat jumlah jemaah yang tak kuat berjalan belum berbanding lurus dengan jumlah gerobak listrik yang tersedia, meskipun hanya beberapa jemaah saja yang menggunakan alat bantu ini. Sementara itu jemaah terkadang merasa akrab dengan para petugas yang mendorong kursi roda karena beberapa dari petugas itu ternyata mahir berbicara dalam berbagai bahasa, seperti halnya Sulami yang mengaku telah menguasai beberapa bahasa karena seringnya bertemu dengan dengan jemaah dari berbagai negara.

Kini kursi roda kerap terlihat di pintu King Abdul Aziz, para operator berbaris rapih menanti jemaah yang menggunakan jasanya dengan tarif tertentu. Namun hal yang mereka resahkan adalah keberadaan gerobak listrik saat ini adalah suatu keniscayaan jika suatu saat keberadaan kursi roda dihapus di Masjidil Haram dan diganti dengan alat mutakhir tersebut. Lantas Sulami dan kawan-kawan harus siap mencari alternatif lain untuk mengais rezeki. (fh)