MUI Kembali Soroti Kehalalan Daging Impor

(gomuslim). Pasca berakhirnya musim ramadhan dan libur lebaran, faktanya harga daging masih tinggi di pasaran. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk kembali mengimpor daging dari berbagai negara yang lolos verifikasi pihak Kementrian Perttanian (Kementan). Daging kerbau impor yang tendernya dimenangkan oleh negara India ini, kemudian dipertanyakan kehalalannya setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) pasca lembaga tersebut mendapatkan informasi mengenai kebijakan impor daging kerbau sebanyak 10.000 ton ini.

Banyak kalangan kemudian mempertanyakan kinerja sekaligus koordinasi antar lembaga terkait, dalam hal ini antara Kementan dengan MUI yang sebetulnya sangat bertanggungjawab dengan kehalalan daging impor. Padahal, kebijakan impor sudah dilakukan sejak menjelang bulan puasa lalu, namun pada saat ini instansi terkait baru sibuk mempermasalahkan kehalalan daging tersebut. Jika demikian, siapa yang berani bertanggungjawab terhadap kehalalan daging impor yang sudah terlanjur beredar di masyarakat atau bahkan sudah di konsumsi masyarakat dalam beberapa pekan terakhir?

Kesungguhan pihak Kementan mengenai kehalal daging impor pun dapat diukur dari pernyataan sikap pihak Kementan melalui Menterinya, Amran Sulaiman, saat dicecar beberapa pertanyaan oleh wartawan. “Impor daging kerbau tidak hanya berasal dari India saja, namun juga terbuka bagi negara manapun. Asalkan, bisa menjamin bebas penyakit mulut dan kuku (PMK),” ujarnya.

Dari pernyataan di atas, terbukti bahwa pihak Kementan hanya memfokuskan pada kesehatan fisik daging kerbau impor tersebut dengan menggunakan kata “Asalkan”. Padahal, jika Kementan sangat Aware dengan kehalalan daging impor, tentu saja Amran akan menyelipkan kata “Halal” setelah kata “Asalkan”.

Negara lain yang juga bersaing untuk memasok daging ke RI di antaranya Australia, Brasil, Meksiko, dan New Zealand pun bukan berarti luput dari perhatian mengenai kehalalan daging impor asal negara-negara tersebut. Karena, rekam jejak berbagai negara selain negara Islam dalam menyembelih hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) di negaranya masing-masing kerap kali jauh dari prinsip-prinsip menyembelih hewan yang Islami.

Selain memang dikhawatirkan soal kehalalan daging tersebut, hal lain yang juga tak kalah menyita perhatian MUI adalah soal kesehatan kerbau asal India tersebut mengingat negara ini adalah salah satu yang termasuk negara endemik  penyakit, mulut dan kuku (PMK). Terlebih populasi hewan ternak yang mencapai 187 juta ekor dalam beberapa tahun terakhir, tentu semakin meningkatkan resiko terjangkitnya virus yang menyebabkan penyakit PMK ini.

PMK sendiri adalah penyakit  yang disebabkan oleh virus dari familia Picornaviridae. Daya tular penyakit ini sangat tinggi, dan dapat menulari rusa, kambing, domba, serta hewan berkuku genap lainnya. Di Indonesia, penyakit ini telah terjadi sejak tahun 1887 di daerah Malang, Jawa Timur, kemudian penyakit menyebar ke berbagai daerah seperti Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Langkah-langkah pencegahan pun kemudian dilakukan hingga berhasil menghilangkan wabah penyakit tersebut. Pada tahun 1986 Indonesia akhirnya menyatakan bebas PMK yang disusul pengakuan dari ASEAN setahun kemudian dan badan kesehatan dunia empat tahun kemudian.

Adapun di dunia, PMK hampir menyebabkan semua negara di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan menjadi endemik penyakit tersebut. AS, Kanada, Australia, Jepang, dan Selandia Baru adalah negara yang terbebas endemik penyakit tersebut. Sedangkan, negara lainnya masih sangat berpotensi terjangkit penyakit tersebut. (alp/dbs)


Back to Top