Temi Sumarlin: Produk Fashion Syar'i Indonesia Lebih Unggul!

(gomuslim). Pemerintah telah mencanangkan program menjadikan Indonesia kiblat fashion muslim atau muslimah pada tahun 2018 untuk di Asia dan 2020 di dunia. Namun, pada faktanya, industry fashion muslim atau muslimah masih dikuasai penuh oleh China dan Thailand sebagai dua negara yang bukan berasal dari background muslim yang kuat. Tentu hal ini sangat aneh sekaligus menjadi sebuah tamparan keras bagi para stakeholder dan orang-orang yang berkecimpung di bidang tersebut (fashion).

Menanggapi hal itu, salah seorang designer fashion muslim/ah atau fashion syar’i dalam negeri brand Temiko sekaligus founder dari Muse 101, Temi Sumarlin, mengatakan bahwa produk-produk fashion syar’i Indonesia memiliki keunggulan dari segi inovasi lewat tangan-tagan kreatif anak bangsa walaupun hal itu saja belum cukup untuk menjadikan Indonesia menjadi negara pengekspor fashion muslim terbesar di dunia.

“Cita-cita Indonesia menjadi kiblat fashion dunia sebetulnya bisa terwujud walupun kita tau China, India, Thailand adalah negara-negara yang unggul dalam hal produksi. Akan tetapi Indonesia unggul dalam hal inovasi,” ujarnya kepada wartawan gomuslim disela-sela aktivitasnya menghadiri closing ceremony Ramadhan in Style Ahad lalu.

Lebih lanjut, untuk memaksimalkan Sumber Daya Manusia, dalam hal ini para designer fashion syar’i Indonesia, Pemerintah harus turun tangan guna memanage agar bisa maksimal dan juga membuka peluang bagi para investor untuk masuk ke Indonesia agar mereka bisa mengetahui bahwa potensi dari para designer Indonesia sudah cukup baik sehingga nantinya akan terjalin hubungan baik antara designer dan investor yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas ekspor dengan cakupan yang lebih luas lagi, khususnya di Asia dengan pasar bebas yang telah berlaku sejak akhir tahun lalu.

Kemudian, dari segi tren yang berkembang di Indonesia, Ia berenggapan bahwa di tren terutama tren di social media Indonesia masih menjadi nomor wahid mengingat banyak influencer yang lahir dari Indonesia. Demikian juga dengan tren fashion syar’i yang berkembang di Instagram dan media sosial lainnya, itu juga dari Indonesia.

Meskipun pada akhirnya ia mengakui bahwa untuk menjadikan Indonesia kiblat fashion muslim/ah 2020 tidaklah mudah bahkan cenderung berat, namun ia tetap yakin dan tidak khawatir dengan karyanya dan karya para designer lainnya terhadap persaingan yang cukup ketat dari negara-negara Asia lainnya. “Saya sih ga begitu khawatir walaupun memang cukup berat untuk mewujudkan Indonesia kiblat fashion muslim 2020,” tandasnya.

Tak ketinggalan, ia juga berharap peran aktif para regulator untuk mendukung program menuju Indonesia kiblat fashion muslim 2020 dengan menerbitkan regulasi-regulasi yang mendukung UKM, designer, dan produsen. Karena tanpa regulasi-regulasi yang baik, mimpi untuk menjadikan Indonesia kiblat fashion busana muslim dunia tidak akan terwujud sebab untuk mencapai go Asia dan go Eropa, regulasi-regulasi yang mendukung mutlak diperlukan.

Sebagaimana yang telah umum diketahui masyarakat, bahwa pada tahun ini pemerintah mencanangkan Indonesia menjadi kiblat fashion muslim di Asia pada tahun 2018 dan di dunia pada tahun 2020. Sejauh ini, mimpi itu mulai mendapatkan angin segar dengan perkembangan industry fashion muslim yang mencapai tujuh persen disetiap tahunnya. Maka tak heran jika Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) bermimpi dapat mengembangkan fashion muslim Indonesia tak hanya di dalam negeri, bahkan sampai ke tingkat dunia.

Angin segar menuju Indonesia kiblat fashion muslim 2020 juga datang dari data mengenai pertumbuhan masyarakat kelas menengah dikisaran 7-8 persen per tahun. Itu artinya, daya beli masyarakat akan semakin meningkat di setiap tahunnya. Jika daya beli meningkat, tinggal nanti digiring bagaimana masyarakat tertarik untuk berpartisipasi mewujudkan Indonesia kiblat fashion muslim dunia.

Sejauh ini, menurut Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saidah, Dari 750 ribu IKM yang ada di Indonesia, 30 persennya merupakan industry fashion muslim. Secara umum, industry fashion saat ini mampu menyumbang 50 persen dari pendapatan negara di bidang industry kreatif dan terdapat 2-3 persen pertumbuhan ekspor setiap tahun. Semoga ini menjadi pertanda baik dalam langkah menuju Indonesia kiblat fashion muslim Asia dan dunia. (alp/dbs)


Back to Top