Jeroan Impor: Apa Saja Isinya, Bagaimana Kehalalan dan Apakah Melawan Program Indonesia Sehat 2020?

(gomuslim). Pemerintah Indonesia telah mencanangkan program Indonesia sehat 2020 mendatang. Program sehat yang diartikan secara global, jika dikerucutkan akan terkategorikan menjadi beberapa bagian, seperti dalam hal gizi, kebersihan lingkungan, pola hidup sehat, kualitas air bersih, dan udara yang sehat. Terkait dengan gizi, baru-baru ini Pemerintah resmi membuka keran impor jeroan guna menekan harga daging di pasaran. Hal itu dinilai menjadi langkah mundur dalam proses mewujudkan Indonesia sehat 2020.

Berdasarkan penelusuran sederhana, hampir tidak ditemukan dokter yang memberikan rekomendasi untuk mengkonsumsi jeroan. Justru sebaliknya, para dokter menyarankan untuk menghindari makanan tersebut karena sangat berisiko terkena penyakit.

Sebagaimana yang sudah menjadi rutinitas di Indonesia, menjelang bulan puasa hingga pasca lebaran, harga daging cenderung melambung hingga sulit dijangkau bagi sebagian kelompok masyarakat. Akan tetapi, masyarakat dipaksa untuk membeli dengan harga mahal lantaran tidak ada pilihan lain. Oleh karena itu, pemerintah  memutuskan untuk mengimpor daging jeroan sebagai pelengkap dari impor daging segar dan daging beku. Dengan demikian, masyarakat diberikan pilihan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani dengan kisaran harga yang bervariasi. Mulai dari daging sapi segar yang harganya Rp 120.000-140.000 per kilogram, daging sapi beku seharga Rp 80.000-100.000 per kilogram, hingga jeroan sapi.

Padahal, kebijakan membuka keran impor bukan menjadi jalan satu-satunya untuk menekan harga daging di pasaran. Hingga saat ini pun, harga daging masih belum  beranjak turun di beberapa pasar tradisional.  Ada banyak cara untuk menekan harga pasar dan memenuhi kebutuhan protein di masyarakat, salah satunya dengan memaksimalkan produksi telur ayam dan pasokan ikan agar tersedia dalam jumlah yang banyak di masyarakat.

Celakanya, selain harga daging tetap mahal, bahan-bahan pangan lainnya seperti telur ayam dan ikan juga mahal. Khusus untuk ikan, selain mahal, ketersediaan di pasaran pun belum sepenuhnya merata. Jika sudah begini, jelas warga tidak mempunyai pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan protein hewaninya dengan membeli daging yang mahal. Atau bagi warga yang sedikit kekurangan, bisa membeli jeroan sapi yang telah disediakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dari segi kehalalan pun sebetulnya jeroan impor ini masih patut dipertanyakan meskipun dalam pernyataan resminya pihak Kementan menjamin kehalalan jeroan tersebut. Karena impor hanya berasal dari negara dan RPH (Rumah Potong Hewan) yang telah diperiksa, disetujui, dan diawasi oleh pemerintah. Namun, tidak ada penyataan resmi mengenai kelanjutan proses pengawasan di RPH yang telah ditunjuk, baik dari pihak Kementan maupun MUI sebagai pihak yang berwenang dalam menjustifikasi kehalalan sebuah produk.

"Kita mengimpor jeroan harus aman, sehat, utuh dan halal. Selain institusi, ada karantina juga yang mengawasi. Artinya, masyarakat kita jaga memakan makanan yang memenuhi kriteria ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) itu," ungkap Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Ketut Diarmita di Gedung C Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (19/7/2016).

Jadi, keputusan Kementan untuk kembali mengimpor jeroan, selain mencederai program Indonesia sehat 2020, juga mencederai masyarakat dengan langkah sederhana yang dilakukan pemerintah dalam menekan harga daging di pasaran, di tengah-tengah pilihan cara menekan harga daging yang sebetulnya begitu banyak. Lebih dari itu, Keputusan mengimpor jeroan juga dinilai telah menggadaikan kesehatan masyarakat demi menurunkan harga daging di pasaran. (alp/dbs)


Back to Top