Indonesia Harus Maksimalkan Forum Ekonomi Islam Dunia untuk Dongkrak Ekonomi Syariah

(gomuslilm). Menjelang pelaksanaan World Islamic Economic Forum (WIEF) awal agustus nanti, sepak terjang perekonomian syariah dalam negeri terkoreksi masih lambat. Padahal  beberapa isu pokok yang akan dibahas pada WIEF ke-12, antara lain penerbitan sukuk untuk pembiayaan infrastruktur, pengintegrasian produk halal dan keuangan syariah, pengembangan industri makanan halal secara global, pengembangan industri fashion Islami, peningkatan akses pendanaan bagi UMKM, mengharuskan pemerintah agar segera memiliki rancangan strategis dan sistematis, tidak hanya sekedar mencanangkan sebuah program, untuk menjadikan forum tersebut maksimal untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pasalnya, selama ini kinerja pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang menyangkut kerjasama luar negeri, baik di tingkat regional maupun internasional, seringkali justru merugikan Indonesia itu sendiri. Contoh konkret adalah kebijakan AFTA (Asian Free Trade Agreement) dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Ketidaksiapan Indonesia dalam menyambut baik kerjasama itu membuat kebijakan tersebut lebih banyak mudharat-nya dibanding manfaatnya. Tentu saja hal ini tidak boleh terjadi pada kebijakan-kebijakan kerjasama di masa mendatang.

Saat ini, kondisi instrumen-instrumen syariah, beberapa di antaranya telah menunjukan perkembangan yang cukup baik untuk bisa masuk dalam persaingan global industri syariah. Adapun sebagian lainnya, masih butuh dorongan dan sokongan penuh dari para stakeholders. Sektor-sektor potensial yang mencetak perkembangan yang baik dalam usaha mendukung pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia yakni, wisata Islam, pasar makanan halal, dan fashion.

Fashion muslim, sejauh ini tren dan inovasinya terus mengalami perkembangan berkat tangan-tangan kreatif para designer dan mereka yang berkecimpung di bidang itu. Indonesia yang notabene masih nyaman berada di puncak daftar negara pengekspor busana muslim terbesar di dunia adalah bukti nyata tren positif perkembangan fashion muslim.

Terkait dengan konsumsi fashion dalam negeri, dalam event terakhir yang memamerkan karya-karya terbaik busana muslim Indonesia, Ramadhan in Style, dari 60 booth fashion yang ada, rata-rata penjualan perharinya berhasil mencapai angka 36 juta. Tentu ini menjadi pertanda baik bahwa Indonesia akan segera menyodok di posisi teratas negara dengan penjualan busana muslim tertinggi di dunia untuk konsumsi dalam negeri masing-masing.

Dari sektor wisata Islam, sampai saat ini, tercatat hingga 2016 industri pariwisata halal mengalami pertumbuhan terbesar dibandingkan dengan jenis pariwisata lainnya. Karena itu, Indonesia serius mengembangkan wisata halal di mana saat ini ada tiga provinsi yang sudah ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata halal yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Promosi pun sudah dilakukan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) demi menarik perhatian para turis lokal, salah satunya adalah dengan menyelenggarakan Kompetisi Pariwisata Halal Tingkat Nasional 2016.

Tiga penghargaan dari beberapa kategori yang tersedia dalam acara tahunan World Halal Travel Awards 2015 lalu, menjadi bukti besarnya potensi wisata halal Indonesia. Adapun tiga penghargaan tersebut adalah Lombok, Indonesia sebagai The World’s Best Halal Tourism Destination, Lombok, Indonesia sebagai The World’s Best Halal Honeymoon Destination, dan  Sofyan Hotel sebagai The World’s Best Family Friendly Hotel.

Untuk pasar makanan halal atau halal food, bukti nyata datang dari keikutsertaan Indonesia untuk pertama kalinya dalam ajang Halal Expo yang diadakan di Taiwan bulan lalu. Dalam keikutsertaan tersebut, produk makanan dan minuman (mamin) halal asal Indonesia berhasil mencatat transaksi sebesar 2,34 juta dolar AS dalam pameran tersebut. Transaksi tersebut terdiri dari produk-produk seperti jus manggis, madu pahit, dan gravila leaf tea yang mendapatkan pembelian sebesar 462,9 ribu dolar AS. Kemudian, ada pula produk kornet sapi dan luncheon chicken sebesar 345 ribu dolar AS, dan produk olesan cokelat dan cokelat bubuk dari PT Sekawan Karsa Mulia mencatat transaksi sebesar 159,1 ribu dolar AS.

Adapun sektor ekonomi syariah lainnya, seperti perbankan syariah pertumbuhannya masih tergolong stagnan. Namun, dengan ditunjuknya salah satu bank syariah dalam mendukung kebijakan pemerintah baru-baru ini, diharapkan hal itu bisa menjadi titik awal kebangkitan perbankan syariah di Indonesia.

World Islamic Economic Forum (WIFE) sendiri adalah forum tahunan yang digagas oleh Perdana Menteri Malaysia, yang fokusnya adalah seputar perekonomian syariah. Setelah untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah WIEF ke-5 pada 2009 lalu, kali ini Indonesia didaulat kembali menjadi tuan rumah forum tersebut, yang akan berlangsung di Jakarta Convention Centre 2-4 Agustus 2016.

Nantinya dalam forum tersebut, tema yang akan diambil adalah "Desentralisasi Pertumbuhan, Memberdayakan Bisnis Masa Depan". Pertemuan akbar ini rencananya akan dihadiri 2.500 delegasi dan 60 tokoh penting lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sejauh ini, enam kepala negara sudah mengonfirmasi hadir. Selain tentu Perdana Menteri Malayasia sebagai pendiri WIEF, akan hadir pula Perdana Menteri Guinea, Bangladesh, Sri Lanka, dan Presiden Tajikistan. WIEF ke 12 rencananya akan buka Presiden Joko Widodo. (alp/dbs)


Back to Top