Kucuran Dana 'Islamic Development Bank' Selamatkan Defisit Anggaran Infrastruktur Rp3.400 Triliun

(gomuslim). Baru-baru ini, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia butuh Rp4.900 Triliun untuk membangun infrastuktur. Padahal, dari  APBN hanya ada Rp1.500 Triliun untuk membangun infrastruktur. Beruntung, dengan status sebagai negara muslim yang tergabung dalam organisasi negara-negara Islam (OKI) dan Islamic Development Bank (IDB), Indonesia akhirnya mendapatkan jaminan dana segar dari bank pembangunan Islam (IDB) sebanyak 5,2 Triliun Dolar AS untuk program pembangunan hingga 2020 mendatang.

Dana tersebut tak lebih adalah berkat buah hasil dari perjanjian kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan IDB melalui penandatanganan Member Country Partnership Strategy (MCPS)‎. Melalui MCPS ini, IDB akan mendukung Indonesia khususnya dalam pembangunan infrastruktur fisik dan program sosial kemasyarakatan.

Saat ini Indonesia tengah jor-joran membangun proyek infrastruktur, mulai dari bandara, jalan tol, pelabuhan juga kereta api. Ia menuturkan, itu menjadi tiang agar Indonesia memenangkan persaingan dengan negara lain. Hal itu adalah buah dari tindak lanjut instruksi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tak bisa lagi ditunda-tunda. Pembangunan infrastruktur merupakan syarat agar Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain.

Dengan dana 5,2 triliun, percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia diharapkan bisa membuahkan hasil dalam beberapa tahun yang akan datang. Jika infrastruktur sudah rampung semua, Presiden menyatakan bahwa harga barang dan jasa semuanya akan lebih murah. “Kalo infrastruktur rampung, baru semua-nya akan murah, termasuk transportasi,” Ujarnya.

Berkenaan dengan hubungan mesra antara Indonesia dengan IDB, sejak 1975 hingga 2016 (Januari), total pinjaman IDB ke Indonesia mencapai US$3.761,10 juta. Adapun sektor terbesar yang mendapatkan pinjaman IDB terbesar adalah pertanian, pendidikan, keuangan dan transportasi. Sedangkan untuk sektor-sektor lainnya pada umunya sangat kecil. Adapun rinciannya yakni pertanian (37,30%), pendidikan (22,94%), keuangan (6,54%) dan transportasi (2,67%).

Islamic Development Bank (IDB) sendiri adalah sebuah organisasi yang pada awal berdirinya didorong semangat untuk menyediakan pembiayaan pembangunan ekonomi dan sosial bagi negara-negara anggota dan komunitas muslim di luar negara anggota yang sesuai prinsip syariah Islam. Institusi keuangan Islam internasional ini dibentuk oleh konferensi menteri keuangan negara-negara muslim yang merilis 'Declaration of Intent' tentang pembentukan Islamic Development Bank di Jeddah, Desember 1973.

Ada tiga matra yang jadi sasaran-antara pembangunan, pertama pengembangan dan pengolahan sumber daya yang begitu melimpah di negara-negara muslim tetapi terbelit oleh sistem ketidakadilan finansial global, kemiskinan, keterbelakangan pendidikan dan teknologi sehingga negara terkait tidak berkembang. Kedua pengentasan kemiskinan itu sendiri yang terjadi sistemik akibat minimnya akses pada sistem keuangan global dan pasar yang terbatas. Negaranya boleh kaya, tetapi penduduknya jadi miskin akibat tak mampu mengelola aset dan kekayaan alam dan menciptakan pasar. Ketiga mengembalikan kehormatan manusia (human dignity) yang hilang akibat ketidakmampuan mengolah sumber daya alam dan kemiskinan.  

Lembaga keuangan Islam internasional ini sejak berdiri hingga pada 1974 masih terbilang sederhana. Lalu IDB berkembang menjadi kelompok enam entitas yang terdiri dari Islamic Development Bank (ISDB atau the Bank), Islamic Research & Training Institute (IRTI), Islamic Corporation for Development of the Private Sector (ICD), Islamic Corporation for Insurance of Investment and Export Credit (ICIEC), International Islamic Trade Finance Corporation (ITFC) and Islamic Solidarity Fund for Development (ISFD).

Dari tahun ke tahun anggota IDB makin bertambah, kini sudah ada 56 negara yang bergabung. Berdasarkan laporan IDB 2015 (Oktober), 86,54% saham dipegang oleh sepuluh negara yaitu: Arab Saudi (23,52%), Libya (9,43%), Iran (8,25%), Nigeria (7,66%), United Arab Emirates (7,51%), Qatar (7,18%), Egypt (7,08%), Kuwait (6,92%), Turkey (6,45%) dan Algeria (2,54%).

Adapun jenis pendanaan IDB terdiri dari terdiri, pertama, Ordinary Capital Resources. Sumber pendanaan ini berasal dari komitmen penyertaan negara-negara anggota yang bersedia memberikan dananya untuk modal operasional IDB. (alp/dbs)


Back to Top