Permintaan Produk Halal Makin Tinggi, Komoditas Perikanan Kian Berkembang

(gomuslim). Pasar produk halal dunia diperkirakan meningkat seiring dengan meningkatnya populasi muslim dunia. Pada 2030, populasi muslim dunia diperkirakan sebesar 2,2 miliar atau 27 persen dari total populasi dunia. Pada umumnya, produk halal yang paling diminati adalah produk halal berbahan dasar ikan. Saat ini 200 juta orang bergantung langsung kepada produksi perikanan. Ikan termasuk komoditas yang paling banyak diperdagangkan, dengan nilai hingga sebesar 83 miliar dolar AS per tahun.

Hal itu kemudian terbukti dari data untuk komoditas kelautan dan perikanan yang semakin berkembang dengan cepat, seperti misalkan pada tahun 1950-an produksi ikan sebesar 14,3 juta metrik ton per tahun, maka pada beberapa tahun yang lalu jumlahnya sudah mencapai 120 juta metrik ton per tahun.

Menurut laporan Global State of Islamic Economic, permintaan produk halal dunia akan mengalami pertumbuhan sebesar 9,5 persen dalam 6 tahun ke depan, yaitu dari 2 triliun dollar AS pada 2013 menjadi 3,7 triliun dollar AS pada 2019.

Dari data-data tersebut, negara-negara yang memiliki peran kunci dalam perdagangan makanan halal dunia adalah Indonesia, Uni Emirat Arab, Aljazair, Arab Saudi, Irak, Maroko, Iran, Malaysia, Mesir, Turki, Tunisia, Kuwait, Yordania, Libanon, Yaman, Qatar, Bahrein, Suriah, Oman dan Pakistan. Di samping itu, terdapat beberapa negara non muslim yang menikmati perdagangan pasar halal dunia, seperti Brazil, China, dan Thailand.

Adapun untuk produk halal berbahan dasar ikan, negara-negara yang paling banyak bermain adalah Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Indonesia, Thailand, Brazil, Malaysia, Turki, China, dan India.

Khusus untuk Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dunia, telah mengenal tradisi produk halal sejak lama dan fokus terhadap ketersediaan produk halal, dengan begitu maka Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menjadi eksportir produk halal yang paling memiliki kredibilitas tertinggi.

Hal ini kemudian menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi Indonesia sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbanyak di dunia yang membuat negara-negara importir produk halal lebih yakin terhadap produk halal Indonesia.

Walaupun demikian, permintaan produk halal yang mulai menujukan geliat menjanjikan dalam perdagangan dunia, telah membuat negara-negara lain turut bermain dalam pasar tersebut. Celakanya, produk-produk berlabel halal dari negara-negara pesaing justru berhasil memikat pelanggan di beberapa negara importir dengan menawarkan harga yang jauh lebih murah dibanding produk-produk halal Indonesia.

Sebagai contoh dalam kasus produk halal seperti mie instan. Mie Y yang dijual relatif murah dengan harga 0,30 euro per bungkus dan mendapatkan gratis dua bungkus jika membeli 10 buah, membuat produk mie dari tanah air yang dibandrol 0,70 euro dan tidak ada diskon ketika membeli banyak, kewalahan dalam persaingan merebut konsumen sebanyak-banyaknya di beberapa negara. Bila sudah demikian, inovasi mutlak diperlukan dalam menyikapi persaingan ketat merebut pangsa pasar dunia terkait permintaan produk halal yang semakin meningkat. (alp/dbs)


Back to Top