Sertifikasi Halal Kini Jadi Lahan Bisnis yang Potensial di Dunia

(gomuslim). Permintaan produk halal yang semakin meningkat rupanya juga membuka peluang usaha dalam bisnis sertifikasi halal, terlebih bagi produk halal yang belum memiliki klasifikasi khusus. Artinya, sebuah produk makanan membutuhkan sertifikat halal yang menjadi jaminan bahwa produk tersebut benar-benar halal. Berbeda dengan di Indonesia yang pelabelan halal tersentral padaMajelis Ulama Indonesia (MUI), di banyak negara di dunia sertifikasi halal juga dapat dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang fokus pada pelabelan halal atau menyediakan jasa pelabelan halal.

Di Perancis, setidaknya terdapat delapan perusahaan yang menyediakan jasa penerbitan sertifikasi halal, yakni A Votre Service (AVS), Muslim Conseil International (MCI), L’association De Contrôle Et De Certification Des Produits Halal Agréée (KARAMA), le Groupement Islamique des Sacrificateurs et Contrôleurs Musulmans (GISCOM), l’Association Finistérienne pour la Culture Arabo-Islamique (AFCAI), Lembaga Sertifikat Halal Malaysia (MIHAS), le Bureau de Contrôle de l’Alimentation et de l’Authentification Religieuse (BCAAR), dan Lembaga Sertifikasi Halal Amerika Serikat (IFANCA).

Tak hanya Perancis, negara-negara lainnya juga banyak yang mempunyai lembaga pelabelan halal dan tidak terpusat, seperti Australia dengan enam lembaga, New Zealand dengan tiga lembaga, Belanda tiga lembaga, Amerika dengan tujuh lembaga, serta Brazil dan Jepang masing-masing dengan dua lembaga pelabelan halal.

Adapun negara-negara lainnya, seperti Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Taiwan, Thailand, India, Polandia, Inggris, Jerman, Italia, dan negara-negara lainnya pada umumnya hanya memiliki satu lembaga, institusi, perusahaan yang mengeluarkan sertifikasi halal.

Kemudian, dengan beragam kemunculan lembaga-lembaga yang mengeluarkan sertifikasi di dunia, bukan berarti masalah selesai sampai pada tahap tersebut. Justru, kemunculan berbagai lembaga, institusi, atau perusahaan yang mengeluarkan sertifikasi halal, menimbulkan masalah baru, yakni terkati standarisasi halal dunia.

Belum adanya kesepakatan terkait standarisasi halal dunia menjadi problem bagi sebagian negara karena akan terbentur dengan masalah administrasi dalam bidang perdagangan. Hal itu pernah dialami produk halal Indonesia ketika hendak melakukan ekspor ke sebuah negara di Timur Tengah. Produk tersebut ditolak lantaran tidak adanya keseragaman atau kesepakatan resmi dari lembaga-lembaga yang mengeluarkan sertifikasi halal di dunia.

Meskipun demikian, bukan berarti sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak memiliki kredibiltas tinggi. Tentu hal itu sangat keliru. Justru kualitas atau standar sertifikasi halal Indonesia menjadi rujukan bagi lembaga atau institusi pelabelan halal di dunia, sebagaimana yang telah di selenggarakan beberapa tahun yang lalu, yakni pelatihan auditor halal internasional atau International Training for Auditors of Halal Certifying Bodies yang digelar oleh LPPOM MUI.

Dalam pelatihan tersebut, setidaknya dihadiri sebanyak 38 peserta dari 26 lembaga, mencakup lima kawasan benua seluruh dunia. Diantaranya Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia. Peserta dari Asia diantaranya lembaga sertifikasi halal dari Malaysia, Filipina, India, Jepang, dan Taiwan. Sedangkan dari benua Eropa negara yang ikut serta  antara lain Irlandia, Inggris, Swiss, Polandia, Spanyol, dan Belanda. Hal ini kemudian menjadi bukti bagi dunia bahwa kualitas standarisasi pelabelan halal dari MUI tidak perlu diragukan lagi. Terlebih, MUI sudah sangat berpengalaman dalam mengeluarkan sertifikasi halal, jauh sebelum negara-negara lain sibuk dengan badan sertifikasi halal di negaranya masing-masing.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, saat ini pasar produk halal sedang menunjukkan tren peningkatan yang signifikan pada dekade terakhir di era millenium. Angka perdagangan produk makanan halal dunia saat itu mencapai USD 632 miliar per tahun dan mencapai 17% dari industri makanan dunia secara keseluruhan. Dari angka tersebut, pada dekade terakhir, pasar perdagangan makanan halal yang terbesar terletak di Asia dengan nilai USD 400 miliar dan terendah di Australia dengan nilai USD 1,2 miliar. Maka dari itu, lembaga pelabelan halal mutlak akan terus dibutuhkan, begitupun juga dengan standarisasi halal dunia yang urgent sekali untuk segera disepakati. (alp/dbs)


Back to Top