Obligasi Konvensional Turun, Investor Diprediksi Hijrah ke Surat Berharga Syariah

(gomuslim). Turunnya yield obligasi konvensional diprediksi akan memicu para investor untuk mencari alternatif investasi lain. Sukuk atau biasa disebut Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) diyakni akan menjadi pilihan terkuat para investor obligasi karena menawarkan imbal hasil yang masih menarik dibandingkan konvensional.

Rencananya, proses pelelangan akan dimulai  pada hari Selasa, (26/07/2016). Dalam lelang ini, pemerintah menargetkan dapat suntikan dana sebesar Rp 4 triliun, turun dari pendapatan hasil lelang sukuk perdana pada medio awal tahun ini, yakni sebesar Rp 7,938 triliun. Adapun Penyelesaiannya akan dilakukan pada Kamis, (28/07/2016). Pada pelaksanaan kali ini, proses pelelang akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai agen lelang sukuk. Selain itu, tentu saja proses pelelangan akan bersifat terbuka dan menggunakan metode harga yang beragam.

Nyaris sama dengan proses pelelangan pada edisi perdana di tahun 2016, lelang sukuk kali ini akan menawarkan lima seri dengan rincian satu seri baru dan empat seri lama. Untuk seri baru yakni SPN-S 27012017 berjangka waktu enam bulan dengan menggunakan underlying asset barang milik negara (BMN) berupa tanah dan bangunan.

Sedangkan untuk seri lainnya yang notabene ialah empat seri lama, yaitu seri PBS009 (Tenggat waktu hingga 25 Januari 2018), PBS006 (Jatuh tempo pada 15 September 2020), PBS011 (Jatuh tempo pada 15 Agustus 2023), dan PBS012 (Tenggat waktu hingga 15 November 2030), menggunakan proyek atau kegiatan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2016 dan BMN.

Berkaca pada lelang edisi perdana pertengahan bulan awal tahun ini, seri lama yang pada lelang nanti akan kembali dilelang berhasil meraup hasil yang berbeda-beda dengan tingkat rata-rata yield yang berbeda-beda pula. Untuk seri PBS009 yield rata-rata tertimbang 8,66 persen, PBS006 yield rata-rata tertimbang 8,85%, PBS011 yield rata-rata tertimbang 9,07 persen, dan PBS012 dengan yield terendah 9,06 persen dan yield tertinggi 9,37 persen.

Terkait dengan yield, secara singkat yield atau yield to maturity dapat didefinisikan sebagai tingkat bunga yang ditawarkan oleh pasar untuk membeli sebuah aset keuangan (tidak hanya terbatas pada obligasi semata) dengan tujuan untuk menukar uang saat ini dengan uang di masa yang akan datang. Biasanya yield ini selalu “mendampingi” laporan atas obligasi yang bersangkutan, selain juga harga obligasi tersebut yang biasanya dinyatakan dalam persentase terhadap par value.

Meskipun diartikan sebagai “tingkat bunga”, hal itu bukan berarti proses pelelangan sukuk tidak sesuai syariah atau terindikasi terkontaminasi dengan riba. Pada proses pelelangan sukuk, prinsip-prinsip syariah akan tetap dapat dijunjung tinggi dengan adanya jenis-jenis SBSN dalam proses pelelangan.

Jenis-jenis itu, yakni:

  1. SBSN ijarah, yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad ijarah (akad sewa menyewa atas suatu aset);
  2. SBSN mudharabah,yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad mudharabah (akad kerjasama dimana salah satu pihak menyediakan modal (rab al-maal) dan pihak lainnya menyediakan tenaga dan keahlian ( mudharib) dimana kelak keuntungannya akan dibagi berdasarkan persentase yang disepakati sebelumnya, apabila terjadi kerugian maka kerugian tersebut adalah menjadi beban dan tanggung jawab pemilik modal);
  3. SBSN musyarakah,yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad musyarakah (akad kerjasama dalam bentuk penggabungan modal);
  4. SBSN istisna’, yaitu SBSN yang diterbitkan berdasarkan akad istisna’ (akad jual beli untuk pembiayaan suatu proyek dimana cara ,jangka waktu penyerahan barang dan harga barang ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak;
  5. SBSN berdasarkan akad lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah;
  6. SBSN yang diterbitkan berdasarkan kombinasi dari dua atau lebih jenis akad.

 


Back to Top