Pasca Ditunjuk Jadi Bank Persepsi, Bank Syariah Mandiri Nyatakan Siap Tampung Rp 10 Triliun

(gomuslim). Pasca penunjukan Perusahaan Efek (PE) atau perusahaan sekuritas, Manajer Investasi (MI), dan perbankan yang bisa menampung dana repatriasi hasil dari pengampunan pajak, berbagai perusahaan-perusahaan yang ditunjuk mulai melakukan berbagai persiapan. Salah satunya yakni bank syariah satu-satunya yang ditunjuk dalam kebijakan tersebut, Bank Syariah Mandiri.

Dalam siaran resminya, Ahad, (24/07/2016), Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Agus Sudiarto menyatakan bahwa Bank Syariah Mandiri (BSM) siap menampung dan mengelola dana repatriasi sekitar Rp 10 triliun. Lebih lanjut, ia berkata, “Selain sosialisasi, manajemen BSM juga menyiapkan infrastruktur yang dapat mengakomodasi kebutuhan wajib pajak dalam menempatkan dana repatriasinya. Saat ini, sudah ada beberapa wajib pajak yang menyatakan kesediaan untuk menempatkan dana repatriasinya di BSM,” Ujarnya.

Terkadang, sesuatu yang dianggap berbeda dari yang ada disekitarnya, justru menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagaian lainnya. Tak terkecuali dengan BSM. Sebagai satu-satunya bank yang berbasis syariah di antara perbankan lainnya yang berpatisipasi dalam menampung dana tax amnesty, BSM mengkalim memiliki beberapa produk unggulan yang tidak dimiliki perbankan lainnya.

Hal itu lantas diakui oleh Agus. Menurutnya, ada produk-produk bank syariah yang tidak dimiliki oleh bank konvensional, di antaranya produk mudharabah muqayyadah on balance sheet (MMOB) yaitu  di mana shahibul maal (investor) dapat menempatkan sejumlah dana di bank untuk diinvestasikan pada instrumen investasi dengan akad mudharabah. Melalui bentuk ini, nilai-nilai kerja sama semakin ditegaskan dengan kontribusi seratus persen modal dari pemilik modal dan keahlian dari pengelola.

Transaksi jenis ini biasanya tidak mewajibkan adanya wakil dari shahibul maal dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus bertindak hati-hati dan bertanggung jawab atas kerugian yang terjadi akibat kelalaian dan tujuan penggunaan modal untuk usaha halal. Sedangkan, shahibul maal diharapkan untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba yang optimal.

Melalui sistem ini pula, berdasarkan prinsip berbagi hasil dan berbagi risiko, maka keuntungan dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya. Sedangkan Kerugian finansial menjadi beban pemilik dana sedangkan pengelola tidak memperoleh imbalan atas usaha yang telah dilakukan. Adapun hal lainnya ialah, pemilik dana tidak diperbolehkan mencampuri pengelolaan bisnis sehari-hari.

Produk itulah yang diklaim menjadi pembeda di antara produk-produk yang ditawarkan perbankan konvensional dalam mempersiapkan diri menampung dana pengampunan pajak. Periode pengampunan pajak sendiri terbilang cukup singkat, yakni berlangsung selama sembilan bulan mulai Juli 2016 sampai 31 Maret 2017.

Oleh karena itu, BSM akan memaksimalkan jaringan kantor cabang dalam menerima dana repatriasi dan setoran uang tebusan dari wajab pajak. Namun, dengan 54 gerai Priority Banking yang tersebar di area Aceh, Batam, Medan, Pekanbaru, Pematang Siantar, Jambi, Palembang, Bekasi, Bogor, dan Jakarta serta dukungan dari 525 kantor cabang dan kantor cabang pembantu yang dapat menerima setoran uang tebusan, rasanya BSM tetap tidak mampu mengalahkan jaringan-jaringan perbankan konvensional yang telah ditunjuk; mengingat usia serta faktor usia dan daya jangkau yang masih tergolong lebih rendah bila dibandingkan dengan beberapa bank-bank konvensional.

Namun, dengan persoalan fakta-fakta yang ada, apapun yang terjadi BSM dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menandatangani kesediaan sebagai bank persepsi penerima dana repatriasi di Kantor Kementerian Keuangan pada Senin (18/07/2016) lalu. Sebagai satu-satunya bank syariah, dengan hadirnya BSM sebagai bank yang dipercaya oleh pemerintah, diharapkan hal ini dapat menjadi momentum kebangkitan perbankan syariah di Indonesia.

Sejauh ini, pangsa pasar perbankan syariah saat ini masih di bawah lima persen dengan total aset mencapai Rp 290 triliun berbanding jauh pangsa pasar perbankan konvensional dengan asset mencapai lebih dari Rp 6.000 triliun, yang menunjukan bahwa perbankan syariah belum cukup memadai untuk bersaing secara professional dengan perbankan konvensional yang telah mapan dalam segi asset dan pengalaman. (alp/dbs)


Back to Top