Menjelang Olimpiade Musim Panas, Jumlah Restoran Halal di Brasil Masih Terbatas

(gomuslim). Menjelang pelaksanaan Olimpiade Musim Panas 2016 pada awal Agustus hingga akhir bulan Agustus nanti, Brasil dihadapkan dengan dilema sebagai negara dengan nilai ekspor tertinggi ke negara-negara Timur Tengah. Betapa tidak, sebagai negara dengan produk eskpor daging halal di Timur Tengah, seharusnya Brasil mampu melakukan hal serupa untuk ketersediaan dalam negerinya. Namun, pada faktanya, ketersediaan restoran halal di Brasil masih sangat terbatas.

Sebetulnya, momentum untuk meningkatkan jumlah restoran-restoran yang menyediakan makanan halal di Brasil sudah sangat tepat pada pelaksanaan piala dunia 2014 lalu. Akan tetapi, pada faktanya, wisatawan muslim yang berkunjung ke negeri samba tersebut tidak melihat pemerintah melakukan persiapan apapun guna memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh elemen wisatawan.

Menurut pengakuan beberapa pengunjung muslim asal Indonesia pada  perhelatan event dua tahunan itu, restoran halal di Brasil sangat sulit dijangkau. Sekalipun ada, letaknya pasti tidak jauh dari masjid-masjid yang ada di kota tersebut. Artinya, jika di seantero Brasil terdapat sekitar 130-an masjid, bagi kaum muslim yang ingin mencari restoran halal sangat mungkin untuk berkelana keluar kota terlebih dahulu. Karena, pada umumnya, keberadaan masjid-masjid di Brasil masih terfokus pada daerah-daerah tertentu saja, seperti, São Paulo, Paraná, Mato Grosso do Sul, dan Rio Grande do Sul.

Dari data yang terhimpun, nilai ekspor Brasil diperkirakan kembali melambung tinggi di Timur Tengah seiring dengan keputusan baru dari Arab Saudi untuk mencabut larangan pada impor daging sapi Brasil. Tidak hanya Arab Saudi, pencabutan larangan tersebut juga dilakukan oleh Bahrain, Kuwait, dan Qatar.

Saat ini, Brasil berhasil menjadi salah satu negara dengan pangsa pasar ekspor daging sapi dan ayam terbesar di dunia dengan total nilai ekspor sebesar USD 1,5 miliar dengan mayoritas negara-negara tujuan ekspor seperti, Mesir dengan total impor sebesar USD 551,6 juta pada beberapa tahun yang lalu, Iran sebesar USD 320,3 juta, Arab Saudi mengimpor lebih dari 36.000 ton pada beberapa tahun yang lalu dengan nilai impor sebesar USD 166,7 juta, Lebanon, mencapai USD 82,8 juta, dan Libya sebesar USD 78,8 juta.

Dengan nilai ekspor sebesar itu, Brasil menjadi negara eksportir terbesar ke negara-negara Timur Tengah, dan hanya berbanding tipis dengan China dan Amerika sebagai eksportir terbesar di dunia. Keberhasilan Brasil bertengger diposisi ketiga disebabkan oleh peningkatan drastis ekspor daging di negara tersebut, terutama terhadap makanan halal yang meningkat lebih dari 440 % dari pendapatan dan 76 % pada periode awal hingga beberapa tahun terakhir di era millennium.

Saat ini, sebanyak 100 perusahaan daging sapi Brasil telah mengajukan sertifikasi halal mereka ke Kamar Dagang Arab Brasil untuk verifikasi. Sebanyak 25 perusahaan mempertimbangkan untuk mengadopsi prosedur penyembelihan daging secara halal. Hal ini bukan hanya berlaku untuk daging tapi juga untuk ekspor makanan olahan seperti permen dan coklat.

Pejabat Kementerian Pertanian Brasil, pernah mengatakan bahwa sertifikasi halal di Brasil bergantung pada badan independen sertifikasi halal yang disetujui oleh otoritas Islam di negara Arab. Departemen Pertanian bertanggung jawab hanya pada higienitas dan keabsahan label. Hal ini sangat wajar mengingat negara tersebut belum memiliki basis Islam yang kuat, sehingga persoalan sertifikasi halal harus melalui tahapan yang panjang hingga ke luar negeri agar produk-produk halal mereka bisa diterima di pasar Internasional.

Sampai saat ini, daging halal dari negara tersebut belum memiliki keluhan-keluhan dari negara-negara tujuan ekspor mereka. Hal itu dapat terjadi karena rata-rata pabrik di Brasil sudah memiliki pabrik khusus untuk menyembelih hewan sesuai hukum Islam dengan kapasitas yang cukup banyak, yakni sekitar 350 ton sehari.

Menurut sensus pada periode awal di era millennium ini, terdapat 27.239 muslim di Brasil. Namun, Federasi Islam setempat menyebutkan bahwa jumlah penduduk muslim saat ini ada sekitar satu setengah juta penduduk. Diperkirakan jumlah tersebut akan semakin bertambah dengan dakwah Islam yang semakin tumbuh subur di negara tersebut.

Makanan halal saat ini dikonsumsi tidak hanya oleh 1,5 miliar umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga oleh sedikitnya 500 juta non-Muslim. Selain makanan halal, sertifikasi halal juga bisa diterapkan pada kosmetik, pakaian, farmasi dan jasa keuangan. Maka dari itu, seharusnya, sebagai negara yang memfokuskan diri pada ekspor produk halal, negara tersebut harus mampu mencukupi ketersediaan produk halal di negara tersebut. (alp/dbs)


Back to Top