World Islamic Economic Forum 2016

Forum Dunia Ini Jadi Momentum Tingkatkan Popularitas Ekonomi Syariah

(gomuslim) World Islamic Economic Forum (WIEF) sudah didepan mata. Namun, pada faktanya, salah satu event internasional terbesar dengan dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari seluruh dunia, yang berkenaan dengan ekonomi syariah ini sepertinya hanya ramai diperbincangkan di berbagai kalangan saja. Hal itu mungkin sangat wajar bila melihat perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Program "Aku Cinta Keuangan Syariah," yang diharapkan dapat menjadi katalis dalam meraih target 15 persen di 2023 dari pangsa keuangan Islam di pasar keuangan nasional secara menyeluruh, sepertinya belum terlaksana dengan baik.

Terbukti dengan daya serap lulusan ekonomi syariah rendah dalam beberapa tahun terakhir serta kompetensi yang masih jauh dari harapan dalam memenuhi pangsa pasar dunia kerja, menjadikan ekonomi syariah seperti kebingungan. Jika melihat pada animo masyarakat terhadap ekonomi syariah, sekilas menurut pengamatan sederhana penulis hal itu tidak cukup signifikan alias masih kalah populer dibanding dengan ekonomi konvensional. Namun, bila berbicara pada data konkret, faktanya hampir rata-rata perbankan syariah mencetak keuntungan yang signifikan mulai dari akhir 2015 hingga kuartal I di 2016.

Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah hingga saat ini tetap menjadi yang terdepan dalam persoalan laba bersih dan tingkat popularitas serta ketersediaan produk. Adapun para pelaku industri syariah lainnya seperti masih harus berjuang keras untuk dapat merebut lebih banyak pasar potensial dalam negeri.

Ketidak populeran itulah yang kemudian diakui oleh beberapa orang yang berkecimpung di bidang ekonomi syariah, salah satunya ialah Direktur Industri Keuangan Non-Bank Syariah Otoritas Jasa Keuangan Mochammad Mochlasin.

Menurutnya, keuangan syariah terbilang masih kalah populer dibandingkan dengan keuangan konvensional. Maka dari itu, penelitian yang dilakukan mahasiswa maupun dosen dapat menjadi salah satu kunci sekaligus salah satu penggerak inovasi keuangan syariah.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa salah satu penyebab keuangan syariah belum sepopuler keuangan konvensional yakni kurangnya sumber daya manusia yang memahami keuangan syariah tersebut. Selain itu juga literasi keuangan juga dinilai masih rendah.

Baca juga: Rifki Ismail: Ulama Harus Berperan Dalam Mempromosikan Perekonomian Syariah

Sebetulnya, dengan jumlah sedikitnya ada 220 program studi syariah yang tersebar di 160 perguruan tinggi serta jumlah lulusan dari jurusan syariah yang semakin bertambah ternyata masih belum mampu untuk mendongkrak popularitas keuangan syariah. Padahal, seminar dan kuliah umum tentang ekonomi syariah sudah semakin sering diadakan dimana-mana sekalipun terbatas pada kalangan tertentu saja.

Untuk itu, sambung dia, perlu ada edukasi dan sosialisasi pada masyarakat mengenai keuangan syariah yang menjalankan prinsip-prinsip yang sesuai dengan ajaran Islam. Selain edukasi dan sosialisasi, penyebab belum berkembangnya keuangan syariah adalah kurangnya sumber daya manusia yang menguasai keuangan syariah.

Beberapa waktu lalu ketika ditemui dalam sebuah kuliah umum tentang sistem moneter Islam, Rifki Ismail (Asisten Direktur, Divisi Pengembangan dan Pengaturan Pasar Keuangan Syariah, Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia), pernah mengatakan bahwa sebetulnya Indonesia memiliki banyak pakar serta praktisi keuangan syariah. Di antara mereka kemudian banyak yang mencari ilmu hingga akar-akarnya ke luar negeri, seperti Inggris dan lainnya. Sampai saat ini, masih banyak para ahli yang masih berada di sana. Sehingga Indonesia seperti terlihat kekurangan banyak SDM yang menguasai keuangan syariah.

Pada era Presiden Jokowi, saat ini wacana demi wacana tentang bagaimana memajukan perekonomian syariah perlahan mulai berhembus kencang. Yang terbaru, dalam waktu dekat, Presiden Jokowi akan membentuk komite keuangan syariah, yang mana setiap proyek-proyek infrastruktur pembiayaan dapat melalui perbankan syariah.

Ditunjuknya Bank Syariah Mandiri sebagai satu-satunya bank syariah yang dapat menampung dana pengampunan pajak menunjukan ada peluang sekaligus tantangan untuk lebih meyakinkan kembali pemerintah mengenai kesiapan perbankan syariah untuk turut serta dalam berbagai proyek-proyek pemerintah.

Baca juga: Indonesia Menuju Role Model Ekonomi Syariah Dunia

Selain itu, dukungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga harus menjadi pelecut semangat untuk lebih mengembangkan perekonomian syariah. Sebagaimana yang telah ramai diberitakan, PBB telah menyepakati terkait dengan pentingnya peran industri dan keuangan syariah dalam pembangunan berkelanjutan secara global untuk mencapai tujuan dari Sustainable Development Goal's (SDG's) di 2030 yang menargetkan tercapainya pengentasan kemiskinan, dunia tanpa kelaparan, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, ketersediaan air bersih dan sanitasi, energi bersih dan terjangkau, pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak.

Saat ini, kiblat keuangan syariah masih dikuasai oleh Inggris dan Malaysia. Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia. Namun, di masa yang akan datang, Indonesia harus menjadi role model ekonomi Islam dunia dengan berbagai inovasi-inovasinya, sebagaimana yang telah diprediksi oleh beberapa ahli ekonomi Islam, seperti Rifki Ismail. (alp/dbs)


Back to Top