Ikatan Cendikiawan Muslim Target Buka 400 Toko untuk Stabilkan Harga Sembako

(gomuslim). Merespon harga kebutuhan pokok di pasaran yang tak kunjung membaik, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) menargetkan untuk membuka 300-400 toko ICMI di Jawa Barat untuk membantu menstabilkan harga pangan. Hal ini dilakukan guna membantu masyarakat agar tidak terus-menerus menjadi pihak yang dirugikan karena perilaku yang hanya menguntungkan diri sendiri dari para oknum kartel pangan.

Toko yang rencananya akan berbasis IT ini nantinya akan bekerjasama dengan beberapa vendor terkait, salah satunya yakni Bulog. Komoditas yang diperdagangkan pun juga dari Bulog, seperti, sembako seperti beras, daging, minyak, dan bawang. Begitupun juga dengan harga, akan ditentukan oleh Bulog.

Adapun sasarannya adalah pemilik warung yang berkemampuan rendah, setingkat Rp 5 juta. Hal itu diputuskan agar sesuai dengan rencana awal, yakni membantu memberdayakan pengusaha kecil. Selain itu, untuk melindungi pengusaha kecil dengan modal yang minim pun, toko ICMI nantinya tidak akan melayani grosir. Hal itu dilakukan agar benar-benar menjaga stabilitas dan persaingan harga. Rencananya, Toko ini akan dilaunching pada 25 Agustus 2016 mendatang.

Sebagai organisasi yang mencirikan keislaman, ICMI merasa bertanggungjawab mengenai moral masyarakat, khususnya dalam perilaku jual beli di pasar. Melalui kehadiran toko ICMI ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi perubahan dalam menggalakan sebuah gerakan untuk memulai kejujuran di dunia usaha. Bila hal itu berhasil, maka sangat pantas bila nantinya toko ICMI ini disebut sebagai "Toko Halal". Bukan hanya dari barang dagangannya saja, melainkan juga prakter bermuamalahnya yang menjunjung tinggi kejujuran.

Lebih dari itu, toko ICMI  ini juga diharapkan dapat membantu pemerintah mengurangi pengangguran di desa-desa di seluruh Indonesia. ICMI merencanakan setiap Organisasi Satuan (ORSAT) di kecamatan menjadi anggota koperasi ICMI yang mendirikan Toko ICMI di lingkungan RW masing-masing.

Terkait masalah harga pangan yang tak kunjung turun atau sekalipun memang karena harga pangan tersebut sudah mahal ketika sampai di tangan para pedagang, Indonesia harus belajar banyak dari Jepang guna memberikan yang terbaik kepada warganya dalam urusan pangan.

Di Jepang, semua yang di panen pada pagi hari dapat di konsumsi pada siang hari. Begitupun juga dengan hasil panen pada siang hari, dapat langsung dinikmati pada sore harinya. Terus seperti itu hingga menjadi pola distribusi yang terstruktur. Dengan sistem seperti itu, maka sangat wajar bila profesi petani di sana dan petani di Indonesia sangat berbanding jauh dari segi manapun.

Dengan sistem itu pula, kualitas barang dagangan, seperti beras, sayur-sayuran, daging segar, dan lain sebagainya akan terjaga karena tidak melalui rantai yang panjang. Hal ini lah yang hendak dilakukan oleh ICMI melalui tokonya.

Singkatnya, Toko ICMI adalah outlet pemasaran bahan pangan dan produk industri pangan strategis yang dibentuk ICMI untuk memotong rantai distribusi sehingga semakin mendekatkan produsen dan konsumen. Program Toko ICMI dibentuk untuk membangun jaringan kegiatan stabilisasi pangan seperti beras, gula, minyak goreng termasuk daging terutama saat paceklik atau suplai berkurang dimasyarakat. (alp/dbs)

 


Back to Top