Peningkatan Tarif Hotel di Saudi Lampaui Biaya Sewa Resort di Eropa

(gomuslim). Arab Saudi perlahan telah menyiapkan Visi 2030 yang menekankan pendapatan negara dari sektor industri pariwisata. Minyak yang selama ini menjadi komoditas penghasil devisa terbesar, nantinya tidak menjadi sasaran utama pendapatan negara ini. Belanja wisata dari turis mancanegara dan juga jemaah haji maupun umrah merupakan sektor pendapatan yang makin dilirik, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan industri pariwisata selalu mendapat dukungan dari pemerintah Saudi.

Jika dibandingkan dengan 20 tahun lalu, perhotelan bukanlah sektor menggoda untuk dijadikan sebagai instrumen pendapatan negara. Namun sejak banyaknya alternatif energi baru-terbarukan, maka omset penjualan minyak mentah pun menurun bahkan dapat mempengaruhi turunnya harga minyak mentah dunia. Dengan menelaah hal ini, maka Saudi yang sejatinya merupakan negara padang pasir setiap tahunnya menjadi destinasi umat Muslim dunia khususnya jemaah haji dan umrah. Sehingga dengan ini, pariwisata pun dijadikan sebagai pendongkrak pendapatan negara ini.

Sejalan dengan rencana-rencana yang telah ditetapkan, akhir-akhir ini perhotelan banyak berdiri di wilayah Saudi. Namun ternyata tarif sewa kamar hotel di wilayah ini khususnya di kota Taif melambung tinggi melebihi biasa sewa hotel di Eropa. Belum lama ini media Kuwait menyiarkan bahwa biaya sewa hotel selama 2 hari di Taif sama dengan biasa sewa hotel di Eropa untuk 8 hari.

Seorang wartawan media Qabas Hamud Muhammad Al Baghily dalam akun twitternya menyebutkan bahwa rata-rata biaya sewa hotel di Taif selama 2 hari sebesar 4,300 riyal atau sekitar Rp15 juta, “Ini tidak masuk akal” tulisnya dalam akun twitter. Selanjutnya Al Baghily pun menjelaskan bahwa dirinya lebih baik pergi tamasya ke tempat yang jauh lebih indah seperti di Jerman, Ceko atau wilayah lainnya di Eropa selama seminggu, sebab biaya penginapannya sama dengan 2 hari rekreasi di Taif, Arab Saudi.

Dengan meningkatnya tarif hotel di Taif membuat sebagian wisatawan lebih memilih bertamasya ke Yordania karena biaya penginapan di sana jauh lebih murah. Sementara itu Departemen Pariwisata Saudi hanya menjelaskan bahwa, “Jangan larang kami untuk mengunjungi resort-resort kami,” ujar salah seorang perwakilan dari Departemen Pariwisata dalam penjelasan singkatnya.

Meski pihak Departemen Pariwisata Saudi tidak menggubris peningkatan biaya sewa kamar hotel, namun sangat disayangkan beberapa wisatawan akhirnya meninggalkan Arab Saudi dan lebih tertarik ke Eropa bahkan wisatawan domestik pun melakukan hal demikian. Para netizen dan wisatawan berharap semestinya Departemen Pariwisata dapat mengontrol tarif hotel agar Visi Saudi 2030 dapat terwujud dengan meningkatnya jumlah wisatawan.

Pada dasarnya, Arab Saudi ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai negara karena negara ini banyak menyimpan sejarah penyebaran Islam. Namun sangat disayangkan hal ini dijadikan sebagai objek pendapatan dengan memanfaatkan hal itu untuk meningkatkan harga sewa hotel. Semestinya tarif untuk sewa kamar hotel di Saudi tidak melebihi biaya sewa resort di Eropa. (fh/ajel)


Back to Top