Peduli Kaum Difabel, Petugas Penjaga Masjidil Haram Dilatih Komunikasi Bahasa Isyarat

(gomuslim). Belum lama ini Pengurus Masjid Haramain menyiapkan tafsir Alquran dengan bahasa isyarat. Tampaknya perhatian terhadap jemaah difabel makin meningkat akhir-akhir ini. Setelah meluncurkan program pengadaan tafsir Alquran dengan bahasa Isyarat, kini petugas yang bekerja di area Masjidil Haram dilatih untuk mengerti bahasa isyarat.

Pelatihan bahasa isyarat yang diberikan kepada petugas, merupakan suatu program yang ditetapkan oleh Pengurus Masjidil Haram untuk dapat melayani jemaah berkebutuhan khusus. Harapannya dengan pelatihan bahasa isyarat ini, petugas dapat berkomunikasi dengan jemaah tunawicara atau tunarungu. Jika jemaah berkebutuhan khusus membutuhkan bantuan dari petugas Masjidil Haram maka jemaah tersebut dapat langsung dilayani dengan keahlian komunikasi bahasa isyarat.

Untuk menyelenggarakan program pelatihan ini, Akademisi Masjidil Haram dilibatkan sebagai pelatih sekaligus fasilitator. Pelatihan ini telah berakhir dengan diberikannya sertifikat kepada para peserta yang merupakan petugas yang diberi wewenang dalam menjalankan program pelayanan jemaah di Masjidil Haram. Kiranya pelatihan ini bukanlah yang pertama kalinya, pada 2015 pelatihan serupa pun diadakan sebelum memasuki musim haji.

Bahasa isyarat merupakan suatu keahlian yang harus dimiliki oleh petugas penjaga Masjidil Haram, pasalnya dengan menguasai keahlian ini jemaah difabel dapat terbantu dan merasa tidak dikucilkan. Pada dasarnya Islam tidak membedakan orang yang berfisik normal maupun yang berkebutuhan khusus, semuanya sama di hadapan Allah.

Jika ada jemaah berkebutuhan khusus beribadah di dalam Masjidil Haram, maka jemaah tersebut memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan sebagaimana jemaah berfisik normal. Tentunya program yang dicanangkan oleh pengurus Masjidil Haramain adalah program positif yang harus terus berlanjut. Dengan demikian kualitas pelayanan tetap dapat dirasakan oleh setiap jemaah tanpa membedakan kondisi fisik.

Komunikasi merupakan hal dasar untuk dapat mengerti ungkapan yang diberikan oleh seseorang. Meski terkadat lisan tidak mampu mengungkapkan suatu bahasa namun ungkapan dari diri seseorang dapat ditangkap dengan akal jika digambarkan dengan isyarat gerakan tubuh. Bahasa isyarat tidak juga dapat dipergunakan untuk berkomunikasi dengan penyandang tunarungu atau tunawicara, barangkali ada petugas yang tidak mengerti bahasa jemaah namun komunikasi dapat tersampaikan dengan gerakan isyarat. Dengan demikian, respon balik petugas terhadap ungkapan jemaah dapat terlaksana dengan efektif. (fh/gph)


Back to Top