Usai Diluncurkan Sertifikasi Profesi, Prospek Para Sarjana Ekonomi Syariah Makin Cerah

(gomuslim). Sejak keuangan syariah mulai menjadi buah bibir di masyarakat, hal itu tidak lantas membuat para sarjana lulusan ekonomi syariah dengan mudah terserap di dunia kerja. Hal itu dapat terjadi karena pada umumnya dunia kerja belum sepenuhnya percaya terhadap kompetensi di bidang ekonomi lulusan sarjana ekonomi Islam tersebut. Namun, baru-baru ini, problem mengenai legalitas atau pengakuan resmi sarjana ekonomi syariah mulai terpecahkan dengan diluncurkannya Lembaga Sertifikasi Profesi Keuangan Syariah (LSPKS) bersama Badan Nasional Setifikasi Profesi (BNSP).

Kepastian itu didapat usai Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Asosiasi BMT Seluruh Indonesia (Absindo), Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) dan Asosiasi Organisasi Pengelola Zakat Indonesia (Foz), meresmikan LSPKS tersebut.

Terkait legalitas atau wacana lembaga sertifikasi profesi keuangan syariah ini, sebetulnya lembaga ini telah mendapatkan lisensi dari Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) menjelang pergantian tahun beberapa waktu lalu.‎ Bahkan sejak 18 Mei 2016 LSP-KS secara resmi telah melakukan sertifikasi kompetensi guna meningkatkan keahlian sumber daya manusia di industri syariah khususnya perbankan syariah. Saat ini LSPKS menyediakan sertifikasi manajemen resiko perbankan tingkat 1 sampai tingkat 3 dan pengembangan kerja sama dengan berbagai lembaga pelatihan dan pendidikan.

Kepala LSPKS Beny Witjaksono‎ mengatakan dalam acara peluncuran LSPKS, di Jakarta, kemarin, bahwa ke depannya akan tersedia sertifikasi kompetensi Pengawas Syariah, Syariah Guarantee Certified Analyst (Penjaminan), Pengelola Keuangan Mikro Syariah, dan Amil Pengumpulan Dana Zakat.

Dengan hadirnya sertifikasi ini, diharapkan para sarjana atau lulusan ekonomi syariah lainnya dapat bersaing dengan maksimal tanpa dianggap sebelah mata oleh dunia kerja, khususnya oleh sarjana ekonomi konvensional. Pasalnya, para profesional yang bekerja di industri keuangan syariah yang juga belum dilegalkan dengan standar kompetensi, seringkali para profesional tersebut masih dianggap sebelah mata. Maka dari itu, LSPKS ini diharapkan dapat mengakhiri segala keraguan terhadap lulusan ekonomi syariah. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, para lulusan ekonomi syariah ini tidak serta merta dengan mudah untuk mendapatkannya.

Dalam proses pengakuan terhadap kredibilitas dan kompetensi di bidang ekonomi konvensional ataupun ekonomi syariah alias mendapatkan sertifikasi tersebut, nantinya para peserta yang berminat untuk mendapatkan sertifikat harus menjalani serangkaian tes terlebih dahulu yang tempatnya tersebar di beberapa titik di Jakarta.

Setiap tahunnya jumlah lulusan ekonomi syariah di Indonesia semakin bertambah. Beberapa perguruan tinggi yang memiliki program studi ekonomi syariah juga semakin menjamur di berbagai daerah.

Di Indonesia sedikitnya ada 220 program studi syariah yang tersebar di 160 perguruan tinggi. Jumlah lulusan dari jurusan syariah yang semakin bertambah ternyata harus tetap bersaing untuk masuk ke industri keuangan syariah dengan para sarjana non-syariah. 

Dari 160 perguruan tinggi tersebut, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjelang pertengahan tahun 2016, SDM yang terlibat di industri perbankan syariah terus meningkat. Jumlah pekerja bank umum syariah (BUS) mencapai 41.393 orang di akhir 2014, meningkat menjadi 51.413 orang pada akhir 2015 dan menjadi 50.732 orang pada menjelang pertengahan 2016.

Adapun jumlah pekerja di unit usaha syariah (UUS) bank mencapai 4.425 orang pada akhir 2014, menjadi 4.403 orang pada akhir 2015 dan meningkat menjadi 4.357 orang pada menjelang tahun 2016.

Dengan fakta Market share keuangan syariah yang secara keseluruhan belum mencapai 5% dari total aset keuangan nasional, tentu para sarja ekonomi syariah masih memiliki peluang yang besar untuk terserap di dunia kerja sesuai dengan keahliannya, di samping juga mempunyai peluang besar untuk terserap di sektor lainnya, mengingat jumlah lapangan kerja di Indonesia belum sepenuhnya merata untuk seluruh profesi. (alp/dbs)


Back to Top