Perbankan Syariah Kembali Bergairah, Laba Bersih Kuartal I Mengejutkan

(gomuslim). Sejumlah perbankan syariah pada kuartal I 2016 mencatat pertumbuhan yang meyakinkan. Utamanya adalah bank-bank syariah yang menjadi leading perbankan syariah nasional dari segi popularitas dan pendapatan, yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah.

Untuk BNI Syariah, pada kuartal I 2016 ini mereka berhasil membukukan peningkatan laba bersih 45,7 persen yakni sebesar Rp 145,65 miliar, naik 45,73 persen dari sebelumnya Rp 99,94 miliar pada Juni 2015. Dengan capaian ini, BNI Syariah optimistis target laba Rp 290 miliar di akhir 2016 bisa dicapai.

Peningkatan ini selain disebabkan oleh faktor pembiayaan juga disebabkan oleh faktor efisiensi yang maksimal. Untuk pembiayaan, hingga bulan Juni 2016 meningkat menjadi Rp 18,98 triliun dari Rp 16,74 triliun untuk periode yang sama tahun lalu. NPF BNI Syariah pada paruh pertama 2016 ini mencapai 2,80 persen. Angka ini meningkat pula dari 2,42 persen pada Juni 2015. Terkait NPF ini, Direktur Utama BNI Syariah Imam Teguh Saptono menilai NPF BNI Syariah ini masih lebih baik dibanding rata-rata NPF industri.

Adapun efisiensi, kinerja efisiensi yang maksimal terlihat dari BOPO yang berhasil ditekan menjadi 85,88 persen per Juni 2016 dari 90,39 persen pada Juni 2015. Pun rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) yang turun menjadi 68,40 persen pada Juni 2016 dari 70,84 persen pada Juni 2015.

Tak berbeda jauh dengan BNI Syariah, PT Bank Syariah Mandiri juga mencatat perolehan yang signifikan. Laba bersih selama kuartal I 2016 tercatat sebesar Rp75,72 miliar. Posisi ini meningkat dibandingkan laba tahun lalu di kuartal I yang sebesar Rp51,63 miliar atau naik 46,71 persen.

Peningkatan ini dipicu oleh keberhasilan menjaga stabilitas rasio keuangan BSM yakni buah dari seiring dengan bertumbuhnya laba bersih dan aset perseroan. Terkait total aset, pada kuartal I 2016 BSM mengalami sedikit peningkatan. Aset BSM menembus angka Rp71,54 persen dari kuartal I 2015 yang mencapai Rp66,97 triliun. Adapun pembiayaan tumbuh 4,03 persen dari Rp48,8 triliun per posisi Maret 2015 menjadi Rp50,77 triliun. Dengan posisi NPF (rasio kredit bermasalah) di level 4,32 persen membaik dari sebelumnya 4,44 persen.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) BSM per Maret 2016 Rp63,16 persen atau naik 5,71 persen dibandingkan per posisi Maret 2015 yang sebesar Rp59,75 triliun.

Sedangkan BRI Syariah, bank ini juga mencatat hasil laba bersih yang juga cukup signifikan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat, perolehan laba bersih sebesar Rp 6,14 triliun pada Maret 2016. Nilai tersebut meningkat 0,6 persen atau Rp 35 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Direktur Utama BRI Asmawi Syam, perolehan laba bersih pada kuartal I-2016 berasal dari total pendapatan yang mencapai Rp 25,75 triliun atau naik 11,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih lanjut, pendapatan tersebut berasal dari pendapatan bunga yang menyumbang lebih dari 80 persen atas total pendapatan. Pendapatan bunga tercatat mengalami kenaikan dari sebesar Rp 20,08 triliun di kuartal I tahun 2015 menjadi Rp 21,84 triliun di kuartal I tahun 2016.

Adapun sumber pendapatan lainnya berasal dari pendapatan non bunga yang mencapai Rp. 3,91 triliun atau tumbuh sebesar 29,55 persen dari periode yang sama sebelumnya.

Dari sisi pendanaan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan mengalami peningkatan dari sebesar Rp. 587,73 triliun di kuartal I 2015 menjadi Rp. 631,78 triliun di kuartal I 2016.

Sementara itu, dari sisi kredit, realisasi selama kuartal I-2016 tercatat sebesar Rp 561,11 triliun atau tumbuh 18,65 persen yoy, di mana kenaikan penyaluran kredit terjadi di semua segmen bisnis. Sementara itu, kualitas kredit Bank BRI atau rasio non performing loan (NPL) untuk NPL netto berada di level 0,59 persen dan NPL gross di level 2,22 persen, atau jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh regulator yakni 5 persen.

Dari peningkatan laba bersih role model perbankan syariah di Indonesia ini, sebetulnya prospek perbankan syariah di Indonesia sangat baik dan menggairahkan. Namun, lagi-lagi, kesadaran dari masyarakat serta inovasi produk-produk yang belum maksimal menjadi perkawinan yang menjadikan pertumbuhan dan popularitas perbankan syariah tidak sebaik perbankan konvensional. (alp/dbs)


Back to Top