Industri Syar'i Makin Melesat, Profesional di Sektor Kuangan Syariah Justru Tertinggal

(gomuslim). Industri keuangan syariah di Indonesia sebenarnya sudah mulai membaik dengan banyaknya perkembangan di sektor keuangan syariah. Infrastruktur keuangan syariah pun semakin berdaya setiap harinya. Namun, bagi sebagian kalangan, perbaikan ini justru belum diimbangi dengan kuantitas dan kualitas ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola. SDM di sektor syariah masih menjadi hal yang perlu didorong sehingga mampu  sebagai pemain syariah yang profesional.

Menurut Rifki Ismail (Asisten Direktur, Divisi Pengembangan dan Pengaturan Pasar Keuangan Syariah, Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia), bahwa sebetulnya Indonesia memiliki banyak pakar serta praktisi keuangan syariah. Di antara mereka kemudian banyak yang mencari ilmu hingga akar-akarnya ke luar negeri. Sampai saat ini, masih banyak para ahli yang masih berada di sana. Sehingga Indonesia seperti terlihat kekurangan banyak SDM yang menguasai keuangan syariah.

Saat ini, sedikitnya ada 220 program studi syariah yang tersebar di 160 perguruan tinggi di seantero Indonesia. Dari jumlah itu, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjelang pertengahan tahun 2016, SDM yang terlibat di industri perbankan syariah terus meningkat. Jumlah pekerja bank umum syariah (BUS) mencapai 41.393 orang di akhir 2014, meningkat menjadi 51.413 orang pada akhir 2015 dan menjadi 50.732 orang pada menjelang pertengahan 2016.

Adapun jumlah pekerja di unit usaha syariah (UUS) bank mencapai 4.425 orang pada akhir 2014, menjadi 4.403 orang pada akhir 2015 dan meningkat menjadi 4.357 orang pada menjelang tahun 2016.

Baru-baru ini, Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Asosiasi BMT Seluruh Indonesia (Absindo), Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) dan Asosiasi Organisasi Pengelola Zakat Indonesia (Foz), meresmikan Lembaga Sertifikasi Profesi Keuangan Syariah (LSPKS) bersama Badan Nasional Setifikasi Profesi (BNSP). Diharapkan, dengan hadirnya lembaga sertifikasi ini, para lulusan ekonomi syariah menjadi makin terampil dan kompetitif. Lebih dari itu, dengan adanya sertifikasi pla, para lulusan ekonomi syariah nantinya dapat diakui keberadaannya dan tidak dipandang sebelah mata.

Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad beberapa hari yang lalu mengatakan, bahwa keahlian SDM keuangan syariah diharap bukan hanya memiliki sertifikasi nasional, tapi juga merambah internasional. Hal ini membuat banyak pihak di kemudian hari bisa belajar dari Indonesia karena SDM dalam negeri memiliki taraf internasional. Apalagi, sejauh ini terdapat sejumlah negara yang ingin belajar mengenai keuangan syariah dari Indonesia. Artinya, keahlian SDM dinilai beliau juga harus bisa disesuaikan agar mereka bisa belajar secara langsung dari Indonesia.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa Indonesia harus bisa mengambil pasar di luar Malaysia seperti Korea, Jepang, dan Filipina.‎ Terakhir Bank Sentral Filipina juga akan belajar di Indonesia karena di Filipina Selatan akan dibangun perbankan syariah. Semua itu menunjukan betapa Indonesia cukup terpandang sebagai salah satu negara yang konsisten mencetak bibit-bibit tenaga ahli di bidang ekonomi syariah.

Hal lain yang menjadi indikasi kesiapan tenaga ahli ekonomi syariah di Indonesia, yakni rencana Presiden Jokowi yang dalam waktu dekat akan membentuk komite keuangan syariah, yang mana setiap proyek-proyek infrastruktur pembiayaan dapat melalui perbankan syariah. Hal ini tentu tidak akan terpikirkan oleh Presiden bila kajian-kajain tentang ekonomi syariah dan beserta kesiapan instrumen dan tenaga ahlinya tidak mumpuni.

Selain di sektor keuangan syariah, SDM syariah juga diharap mampu mengerti mengenai perkembangan syariah lainnya seperti makanan halal, fashion halal, hingga perkembangan pariwisata syariah. Kemudian, untuk melengkapi geliat perkembangan ekonomi syariah, promosi serta sosialisasi pentingnya penerapan ekonomi syariah di Indonesia harus semakin digalakan lagi mengingat tanpa partisipasi dan dukungan aktif dari masyarakat, perkembangan ekonomi syariah di Indonesia akan berjalan di tempat. (alp/dbs)


Back to Top