Kemenag Gelar 'Mudzakarah' Nasional, Banyak Haji 'Badal' Bodong?

(gomuslim). Kementerian Agama RI menggelar Mudzakarah Perhajian Nasional dengan tema, "Dinamika Pelaksanaan Badal Haji di Indonesia," di Hotel Aryaduta, Senin hingga Rabu (01 -03/ 08/2016). Masalah badal haji menjadi perbincangan karena makin banyak anak atau anggota keluarga yang membadalkan haji orang tua yang berhalangan haji dan ini menjadi peluang yang sering diselewengkan alias bodong, sehingga perlu dibahas dalam mudzakarah atau seminar.

"Melalui mudzakarah ini kami ingin mendapatkan pandangan yang tegas yang jelas tentang haji badal. Siapa yg bisa membadalkan (menggantikan) haji itu saya kira masyarakat harus mendapat panduan agar masyakat menjadi objek oknum yg hanya bertujuan mendapatkan real saja," jelas Menteri Agama Lukman Saifudin Hakim saat pembukaan Mudzakarah Perhajian Nasional, Senin malam (01/08/2016).

Banyak orang yang menggampangkan haji badal. Haji badal ada batasan, syarat dan hukum-hukumnya. Kesimpulan mudzakarah hari pertama membahas antara lain:

1.      Tidak sah haji badal untuk haji fardhu bagi orang yang mampu secara fisik. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, "Tidak dibolehkan melakukan haji wajib untuk menggantikan orang yang mampu melaksanakan haji sendiri berdasarkan kesepakatan ulama."

Ibnu Munzir berkata, "Para ulama sepakat (ijmak) bahwa orang yang wajib melaksanakan haji fardhu sementara dia mampu untuk melaksanakan haji, tidak sah kalau dihajikan oleh orang lain." (Al-Mughni, 3/185)

2.      Haji badal (hanya) untuk orang sakit yang tidak ada harapan sembuh atau yang lemah fisiknya atau untuk orang yang meninggal dunia. Bukan untuk orang fakir dan lemah karena kondisi politik atau keamanan. An-Nawawi rahimahullah berkata, "Mayoritas (ulama) mengatakan bahwa mengghajikan orang lain itu dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dunia dan orang lemah (sakit) yang tidak ada harapan sembuh. (Syarh An-Nawawi Ala Muslim, 8/27)

Demikian antara lain pembahasan pada hari pertama. Pada hari berkutnya akan dipresentasian data permintaan badal haji yang terus meningkat dan penjelasan kasus per kasus badal haji serta sejarah pelaksanaannya selama ini dari Indonesia.

Biasanya badal haji dilaksanakan mahasiswa Indonesia di tanah suci dengan membayar sejumlah uang. Namun kini melalui KBIH juga ditawarkan program badal haji. Ada yang hanya menyetor Rp5 juta, Rp10 juta, hinga Rp25 juta. Ada kasus seorang menerima lebih dari satu badal haji, kemudian di tanah suci didistribusi ke tenaga musiman atau mukimin di Saudi dengan harga lebih murah, bahkan konon sudah ada mafianya. Hal inilah yang mendorong Kemenag RI untuk membahas soal ini.

Acara diikuti ulama dari berbagai daerah untuk membahas hukum dan pelaksanaannya. Namun demikian tema daftar tunggu haji justru yang menarik perhatian peserta. Waiting list (daftar tunggu) jemaah haji Indonesia sudah 3,2 juta orang sedangkan tiap tahun hanya memberangkatkan 168 ribu orang dan setiap hari jumlah pendaftar baru juga tinggi. Oleh karena itu, peserta mendesak Kemenag mendiskusikan jalan keluar masalah ini. (mm)


Back to Top