Kaligrafi Alquran Jadi Primadona Lomba di MTQN 2016

(gomuslim). Ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-26 sudah dibuka dan dalam ajang tersebut, selain lomba membaca indah Alquran dan cabang-cabang lomba lainnya, ada satu cabang lomba yang menjadi primadona dan selalu ditunggu di perhelatan yang menjadikan NTB sebagai tuan rumah ini.

Apa itu?  Ternyata lomba Khattil Quran atau yang lebih dikenal dengan sebutan  lomba Seni Kaligrafi Alquran. Lomba ini adakah salah satu seni yang cukup popular di kalangan muslim. Berbagai ungkapan ditujukan pada keindahan kaligrafi dan fungsinya. Sahabat Rasulullah SAW, Ubaidullah bin Abbas menyebut Khat sebagai lisan al-yadd atau lidahnya tangan. Menurutnya, melalui tulisan itulah tangan berbicara. Sedangkan Al-Qalqayan menyebutkan Khat itu ibarat ruh di dalam tubuh, disampaika di sela acara yang secara resmi dibuka oleh Presiden Jokowi pada Sabtu (30/07/2016) di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Khat merupakan salah satu cabang yang diperlombakan dalam ajang MTQN XXVI Mataram. Cabang Khattil Quran memiliki empat kategori di antaranya kategori Naskah, kategori Hiasan, kategori Dekorasi dan kategori Kontemporer. Cabang lomba ini diikuti oleh 238 orang peserta yang berasal dari 33 provinsi.

Lomba cabang Khat Quran kategori dekorasi 65 orang dan kategori kontemporer diikuti oleh 53 orang peserta laki-laki dan perempuan digelar di gedung Graha Bhakti Praja Mataram pada Senin (01/8/2016). Perlombaan tersebut berlangsung pada pukul 08.15 WITA dan berakhir pada pukul 16.15 WITA. Sedangkan untuk kategori naskah dan kategori hiasan telah terselenggara  pada Ahad (31/7/2016) dengan waktu pelaksanaan yang sama.

Pada kategori dekorasi peserta diberikan media papan triplek kosong, sedangkan kategori kontemporer peserta dapat menorehkan lukisan kaligrafi di atas kanvas putih dengan ukuran yang serupa untuk semua peserta.Berbeda dengan kategori dekorasi yang telah cukup lama dilombakan, kategori kontemporer merupakan kategori yang baru pertama kali dilombakan.

Khat sebagai salah satu perwujudan dari seninya seni Islam atau art of Islamic art memiliki sistem penjurian yang unik dan lebih detail dibandingkan cabang lainnya. Meski penilaian karya seni terkadang tak luput dari subjektivitas, namun pada cabang ini, dewan juri memiliki pakem-pakem tersendiri dalam menilai karya para peserta. Misalnya untuk kategori dekorasi, unsur-unsur yang menjadi penilaian dewan juri meliputi bidang kaidah khat (bentuk dan proporsi huruf, jarak spasi dan letak huruf, keserasian dan komposisi antar huruf), bidang keindahan khat (orisinalitas dan kreativitas, sentuhan akhir atau kebersihan dan kehalusan), bidang keindahan hiasan (unsur desain dan tata warna, keserasian format, sentuhan akhir berupa  kebersihan dan kehalusan).

Sedangkan untuk kategori kontemporer unsur-unsur yang menjadi penilaian adalah unsur kaligrafi atau anatomi huruf (tingkat keterbacaan, tingkat kesahihan khat), unsur seni rupa atau kreativitas dan kekayaan imajinasi (orisinalitas dan inovasi, kekayaan desain dan tata warna, kesesuaian tema gambar dan konteks ayat), sentuhan akhir dan  kesan keseluruhan (tingkat kerapihan dan kebersihan, tingkat ketuntasan karya).

Ketua Dewan Hakim cabang Khattil Quran  Sirojuddin mengatakan bahwa Khat sebagai seni menulis Alquran, bukan semata-mata memuliakan Alquran, tetapi juga dapat meningkatkan ilmu pengetahuan dan membentuk kepribadian mulia atau akhlakul karimah.

Sirojuddin yang adalah pimpinan Pesantren Kaligrafi Al-Quran LEMKA Sukabumi ini mengatakan bahwa melalui Khat, seseorang dapat mempelajari Al-Quran melalui tahapan learn to know, jika seseorang ingin menulis indah, otomatis dia akan mulai mengenal Alquran. Tahap kedua, learn to read, sebelum seseorang menuliska kembali ayat Alquran, maka sebelumnya ia harus membaca Alquran terlebih dahulu. Tahap ketiga yang dapat dirasakan langsung oleh seniman Khat adalah learn to understand, setelah membaca, ia akan paham makna ayat Alquran yang ditulisnya.

“Satu tahap yang tak kalah pentingnya adalah learn to act, setelah membaca dan mengerti maka diharapkan Alquran dapat menjadi pedoman hidup dengan mengamalkan kandungan Alquran dalam bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir adalah learn to love, seseorang yang telah melalui tahapan-tahapan yang telah disebutkan tersebut, pada akhirnya akan memiliki rasa cinta kepada Alquran,” jelas  Kaligrafer Internasional ini, seperti dilansir dari publikasi Kemenag.

Selain itu, Sirojuddin yang juga dosen di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta ini optimis dapat meningkatkan kecintaan para pemuda Indonesia terhadap Alquran melalui karya Khat yang mereka torehkan. Terlebih mayoritas peserta cabang Khat yang berada dalam rentang usia yang relatif muda. Katanya, masa depan kaligrafi Indonesia bermula dari penyelenggaraan MTQN XXVI ini. (fau/dbs)


Back to Top