Pembukaan WIEF ke-12

Presiden Jokowi : Produk Halal Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Baru

(gomuslim). World Islamic Economis Forum (WIEF) ke-12 resmi dibuka Presiden Joko Widodo pada pada Selasa hari ini, (02/08/2016) di Jakarta Convention Center (JCC). Presiden didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan sejumlah pejabat tinggi negara. Hadir dalam acara ini beberapa kepala negara Islam dan ahli serta pelaku usahanya. 

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyampaikan harapan yang besar atas digelarnya acara ini. Ia berharap adanya kontribusi bagi tujuan yang utama yakni terciptanya masyarakat muslim yang adil dan sejahtera di seluruh dunia.  Sebab dunia Islam sekarang ini mengalami berbagai macam tantangan ekonomi global yang harus dihadapi. Beliau juga mengungkapkan perlunya menekankan toleransi pada masyarakat muslim dunia.

Jokowi merasa ekonomi dunia sedang melemah dan pemulihannya masih rentan. Banyak pemuda muslim yang mengalami pengangguran. Begitu juga ketertinggalan dalam penguasaan media dan teknologi informasi, hal ini membuat kekalahan dalam pembentukan karakter. Dengan populasi pemuda muslim yang besar, Jokowi mengusulkan untuk memberi pelatihan dan edukasi dengan cara perlahan-lahan. Jika tidak, umat Islam bisa tertinggal.

Jokowi juga menyampaikan keunggulan dalam industri keuangan syariah yang bernilai triliunan dollar AS. Fashion Islam, wisata halal, makanan halal, seni, dan karya kreatif lain yang berpotensi besar menjadi sumber ekonomi baru. Maka itu perlu adanya inovasi. Inovasi disini adalah berkaitan dengan kesejahteraan yang merata dan dapat dirasakan kaum miskin. Bukan inovasi yang berdasarkan sifat rakus.

Berbeda dengan Jokowi, Sri Mulyani dalam sambutannya menyampaikan rasa bangganya yang mendalam bisa mengikuti forum ini untuk kedua kalinya diadakan di dalam negeri. Dengan jumlah muslim yang besar ini, apalagi 50 % dari populasi di Indonesia dapat dikategorikan sebagai masyarakat usia produktif dibawah 30 tahun.

Sri Mulyani menuturkan salah satu poin penting untuk perlu adanya komitmen negara-negara didunia memberikan kesempatan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Harapannya, desentralisasi ini agar berpihak kepada UMKM sehingga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi. Karena menurutnya, UMKM sudah terbukti kuat ketika terjadi guncangan terhadap  ekonomi. Bahkan, sektor ini, walaupun kadang dianggap sebelah mata, mampu menyerap banyak tenaga kerja. Oleh karena itu, Sri Mulyani mengajak kepada negara-negara Islam untuk bekerjasama dengan para pelaku UMKM.

Hal ini juga diamini oleh ketua WIEF, Tun Musa Hitam, saat memberikan sambutan dalam pembukaan World Islamic Economic Forum (WIEF). Menurutnya, WIEF ini menjadi sarana menggali potensi dan prospek usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang belum pernah terpikirkan sebelumnya dari para pelaku usaha di seluruh dunia.

Menurut Tun Musa Hitam, masyarakat dunia harus mengakui keberadaan UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Terbukti, Indonesia dengan 60 juta pelaku UMKM, telah menyediakan lapangan kerja yang luas dan menyumbang pendapatan domestik bruto, imbuhnya.

Ia juga menuturkan bahwa UMKM dapat membantu mendorong terciptanya desentralisasi pertumbuhan, dimana akan semakin banyak pihak yang terlibat dalam pembangunan ekonomi ke depan. Singkatnya, pertumbuhan terjadi dikota, dengan fasilitas investasi yang sudah memadahi, juga terjadi di desa. Jadi pertumbuhan ekonomi benar-benar merata. Inilah yang disebut desentralisasi.

Rencananya, penyelenggaraan WIFE 2016, yang bertema  "Decentralization growth and empowering future business" (desentralisasi pertumbuhan dan memberdayakan usaha masa depan), ini akan berlangsung tanggal 2-4 Agustus 2016. WIEF ini mempertemukan pemerintah, kalangan dunia usaha, akademisi serta para seniman. Peserta forum tersebut semuanya berjumlah 2500 delegasi dari 69 negara dan 152 tamu penting. Termasuk para pemimpin dunia, enam menteri, sekitar 51 pembicara forum, 55 pembicara program pelengkap, 15 ideapad presenter dan 16 pelaku pertukaran bisnis dari seluruh dunia.

Para pembicara berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat, Inggris, Italia, Kenya, Ethiopia, Swiss, Uni Emirat Arab, Swedia, Afrika Selatan, Spanyol, dan Australia. Lima komponen yang menjadi subtema adalah keuangan, fashion, infrastruktur, inovasi teknologi dan industri halal yang meliputi produk maupun pariwisata. (mrz/dbs)

    


Back to Top