Hindari Kesalahpahaman dengan Jemaah, Petugas Perempuan di Masjidil Haram Dilatih Etika Komunikasi

(gomuslim). Keterampilan berkomunikasi adalah suatu hal penting yang harus dimiliki oleh setiap petugas. Sejatinya mereka nanti akan berhadapan dengan jutaan jemaah yang berasal dari berbagai negara, karena itulah tata cara berkomunikasi harus teratur dan sesuai dengan norma-norma yang ada.

Karena komunikasi merupakan hal krusial dalam pelayanan jemaah baik pria maupun wanita, maka dari itu tidak hanya petugas pria, Lembaga Perempuan Masjid Haramain pun turut mengadakan pelatikan komunikasi bagi petugas wanita agar dapat menyambut serta melakukan percakapan dengan para peziarah serta jemaah umrah. Sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya, petugas yang melayani jemaah terdiri dari pria dan wanita.

Petugas pria dikhususkan untuk memberikan pengarahan atau informasi terhadap jemaah pria sedangkan petugas wanita akan memberikan pengarahan kepada jemaah wanita. Namun pada pelatihan bertema “Etika Komunikasi terhadap Jemaah Umrah dan Peziarah” menekankan kepada setiap petugas untuk dapat membedakan mana pembicaraan yang bersifat pertengkaran, perdebatan.

 Selain itu pelatihan ini juga bertujuan untuk menyampaikan dasar-dasar komunikasi dan metodologinya agar bahasa yang diucapkan dapat tersampaikan tanpa terjadi kesalahpahaman.

Sekilas dalam mengungkapkan kata-kata yang bersifat penjelasan terlihat mudah, namun hal itu perlu keterampilan agar maksud dari perkataan yang diucapkan mudah dicerna dengan tujuan sesuai dengan apa yang kita maksud. Sejauh ini hal itu masih harus terus ditingkatkan, karena jemaah berasal dari berbagai penjuru dunia sementara seluruh petugas merupakan warga Saudi.

Hal penting yang perlu diketahui oleh petugas adalah bahwa setiap daerah memiliki logat berbeda terlebih jika jemaah yang berasal dari satu negara yang terdiri dari beragam kultur daerah seperti halnya Indonesia. Sehingga dengan ini terkadang maksud dari jemaah berkata baik namun jika disampaikan dengan nada seperti membentak maka mungkin saja dapat dianggap sedang marah. Itulah sebabnya hal semacam ini perlu dipahami oleh masing-masing petugas agar tidak terjadi kesalahpahaman yang memicu pertikaian.

Pelatihan yang diselenggarakan oleh Lembaga Perempuan Masjid Haramaian dibimbing oleh Dr. Hanadi Bahiri dan juga dihadiri oleh Direktur Perpustakaan Masjid Haramain Dr. Ibtisam Alqarny. Penyelenggaraan pelatihan etika komunikasi ini juga menyampaikan tentang bunyi atau nada bicara selain itu juga diajarkan cara komunikasi tanpa bunyi atau suara namun maksud yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh orang yang mendengar.

Program yang diselenggarakan di Perpustakaan Masjidil Haram ini mendapat antusias dari para peserta yang merupakan pegawai wanita. Pelatihan ini tergolong sebagai suatu program menarik dan sangat bermanfaat, jika petugas dapat memahami dan memiliki keterampilan berupa etika komunikasi maka hal tersebut berdampak positif terhadap pelayanan jemaah.

Sebelumnya petugas pria dilatih komunikasi bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan difabel maupun jemaah yang tidak mengerti bahasa selain bahasa negaranya. Namun kali ini petugas wanita dilatih etika berkomunikasi agar mutu pelayanan di Masjidil Haram dapat meningkat dan jemaah pun senang dengan pelayanan tersebut. Harapan dari semua ini adalah terwujudnya upaya pelayanan yang komunikatif dan ramah. (fh/gph)


Back to Top