WIEF ke-12

Bisnis Syar'i Makin Berpeluang Jadi Masa Depan Perekonomian Nasional

(gomuslim). Salah satu yang dibahas dalam diskusi panel Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) adalah bisnis halal. Menariknya, bahasan yang muncul ke permukaan adalah membahas tentang usaha kecil menengah (UKM). Sektor ini dinilai mengalami banyak tantangan, terutama mengenai sumber dana dan peningkatan kapasitas.

Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) ke-12 yang saat ini sedang digelar di Jakarta Convention Center ini, mengusung tema “Decentralizing Growth and Empowering Future Business”. Berhubungan dengan tema itu, Direktur Utama Aladdin DotKom Indonesia, Ahmad Riawan Amin mengatakan, desentralisasi pertumbuhan ini perlu melibatkan teknologi informasi.

Seperti yang dicontohkan  Riawan, yang kebetulan juga mantan Dirut Bank Muamalat, contoh sukses Bank Muamalat dalam menggencarkan jumlah nasabah dan transaksi melalui peluncuran kartu Shar-E bekerja sama dengan Pos Indonesia yang memiliki jaringan kantor di seluruh wilayah Indonesia. Melalui kerja sama ini, kartu Shar-E tersebut dalam waktu cepat menyebarkan pertumbuhan ekonomi syariah ke pelosok-pelosok tanpa membuka cabang-cabang bank Muamalat  yang membutuhkan banyak biaya.

Sementara penjelasan dari CEO Maarij Capital Arab Saudi, Akmal Salem, bahwa para investor sebelum menitipkan modalnya, juga ingin memahami hal-hal teknis dalam bisnis yang mereka dukung. Pembiayaan sangat penting, termasuk dari Bank. menurutnya , UKM rawan kendala dari berbagai hal, maka dari itu perlu adanya alternatif.

Seperti yang telah dipraktekkan oleh Riawan dengan model ”numpang dengan korporasi besar untuk menggencarkan promosinya dan memperbanyak nasabah tanpa mengeluarkan dana besar. Hal pertama yang sangat diperlukan sekali adalah membuat korporasi percaya dengan produk kita. Mengenai hasil penjualan dan peminat, kita manfaatkan dengan nama besar korporasi yang kita tumpangi. Contoh kasus yang dilakukan Riawan ini, setidaknya bisa menjadi jawaban atas kekhawatiran Akmal Saleem dan beberapa investor lain. Terkait masih diragukannya tingkat keberhasilan usaha dari UKM. Tentunya promosi juga memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi.

Poin penting lain terkait “Empowering Future Business”, yang dihadapi usaha UKM, pertama, mengangkat harkat usaha mikro kecil menengah (UMKM)  yang kesulitan akses pasar, menghalalkan produknya  dan memperbaiki prosesnya. Kedua, membantu pemerintah atau Majelis Ulama Indonesia (MUI)  merekrut pengusaha-pengusaha  baru yang telah memenuhi syarat-syarat halal,” tutur Ahmad Riawan Amin.

Selain lewat perusahaan pemerintah, korporasi besar swasta juga bisa digandeng dalam membesarkan mutu UKM. Seperti yang dinyatakan Sitta Rosdaniah dari Financial and Supporting Director Jakarta Industrial Estate Pulogadung, Indonesia, bahwa mereka siap membantu bagi perusahaan dan UKM yang kesulitan pembiayaan syariah.

Dalam hal dana, UKM bisa dibantu melalui investasi privat. Sementara dukungan kapasitas bisa dilakukan dengan mengalokasikan sebagian kawasan industri untuk UKM. 10-15 persen area akan dibuat untuk UKM. Selain itu, UKM juga bisa dilatih untuk peningkatan kapasitas. Karena daya saing menjadi penting jika produk UKM ditargetkan untuk di ekspor. Begitu pula dikenalkan dengan standar halal yang berlaku umum dan khusus di suatu negara, imbuhnya. (mrz/dbs)

 


Back to Top