Musim Haji Dimulai, Jumlah Tempat Tidur di Pemondokan Madinah Tidak Seimbang

(gomuslim). Meski Kakbah berada di dalam Masjidil Haram Mekkah, namun tidak semua jemaah haji langsung melakukan ritual haji ke Mekkah, sebagian besar calon jemaah haji yang datang lebih dahulu melaksanakan ibadah umrah, baru melaksakan ritual haji saat di Arafah. Berkenaan dengan hal ini, sebegaian rombongan jemaah haji ada yang datang terlebih dahulu ke Madinah yang tentunya membutuhkan tempat penginapan yang layak dan memadai.

Namun dari jemaah luar Saudi yang diperkirakan akan datang ke Tanah Suci, beberapa di antaranya tinggal terlebih dahulu di Madinah. Meski demikian jumlah dan kapasitas penginapan tidak berbanding lurus dengan jumlah jemaah yang diperkirakan. Ini merupakan tugas yang tidak ringan bagi otoritas Saudi, namun mereka menayampaikan akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pengaturan jemaah dengan baik agar semuanya mendapatkan penginapan yang layak.

Petugas pelayanan haji Saudi -baik dari lembaga pemerintah maupun swasta-  telah siap melakukan tugasnya untuk menyambut jemaah haji yang nantinya akan menuju ke Madinah khususnya di Masjid Nabawi.

Direktur Umum Kementerian Haji dan Umrah Cabang Madinah Muhammad bin Abdurrahman Al Baijawi menjelaskankan bahwa persiapan petugas di Madinah dalam menyambut jemaah haji telah dilakukan dengan maksimal, khususnya terkait penyediaan penginapan yang berlisensi atau layak huni bagi para jemaah non Saudi  yang telah melintasi gerbang haji elektronik. Adapun jumlah ranjang yang tersedia di penginapan haji di Kota Madinah seperti yang dilansir Al-Madina sampai saat ini tersedia 318.639 unit.

Menurut Baijawi jumlah jemaah yang akan berkunjung ke Madinah sebanyak 750 ribu haji tamattu’ (di musim haji melakukan umrah terlebih dahulu, red), kemudian 700 orang jemaah haji yang telah melaksanakan ibadah haji. Jika ditinjau dari jumlah tersebut tentunya ranjang yang telah disediakan tidak sebanding dengan jamaah, bahkan ranjang yang telah tersedia tidak  sampai 50% dari jumlah jemaah yang diprediksi akan mengunjungi Madinah dalam dua tahap.

Adapun mengenai perihal penurunan daya tampung hotel di Madinah, menurut Baijawi, hal ini terjadi  setelah dilaksakan proyek perluasan Masjid Nabawi secara tidak langsung akan menggusur bangunan disekitarnya tidak terkecuali hotel. Berdasarkan rencana proyek perluasan Masjid Nabawi, dalam radius 650 meter, seluruh bangunan digusur, hal ini berimbas pada penurunan daya tampung jemaah di penginapan.  Namun arahan langsung dari Putra Mahkota Saudi Faishal bin Salman bin Abdul Aziz, Gubernur Madinah, Ketua Komite Haji Saudi dan pemangku kepentingan lainnya adalah upaya perumusan suatu strategi untuk dapat menyelesaikan pemondokan haji dengan fasilitas ranjang yang memadai pada musim berikutnya.

Komite Penyelenggara Haji Saudi untuk cabang Madinah, telah menyiapkan langkah strategis agar pelayanan jemaah dapat terlaksana secara efektif. Semua ini dilakukan dengan lembaga terkait secara terintregasi, khususnya terkait dengan penginapan jemaah haji di Madinah.  Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, maka otoritas Saudi melibatkan berbagai pihak dalam upaya perwujudan layanan tebaik.

Jika otoritas Saudi akan menemukan formulasi untuk mewujudkan pelayanan terbaik, namun belum diketahui sampai saat ini, langkah apa yang nantinya akan ditentukan oleh otoritas Saudi untuk menyediakan penginapan serta ranjang sesuai dengan jumlah jamaah yang datang. Jika jumlah ranjang di pemondokan atau penginapan Madinah dinyatakan tidak mencukupi, maka boleh jadi ada jemaah yang harus tidur di lantai beralas selimut, namun tentunya hal tersebut tidak diharapkan oleh seluruh pihak  bahkan hal seperti ini  sangat ironis jika benar-benar terjadi. (fh)


Back to Top