Baznas dan Bappenas Luncurkan Pusat Kajian untuk Kelola Zakat Nasional

(gomuslim). Kabar tentang Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam ini sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah musholla yang ada dalam satu desa, dari sini sudah bisa menjadi ukuran tentang banyaknya populasi muslim di Indonesia.

Namun bagaimana dengan tingkat kepedulian mereka kepada sesama muslim?, jawaban dari pertanyaan inilah yang sulit dijawab. Jika dikatakan kepeduliannya sangat tinggi, tapi pada kenyataannya masih banyak saudara muslim yang masih dibawah garis kemiskinan. Lalu bagaimana dengan zakat umat Islam di Indonesia? Lalu siapa yang berani menjawab pertanyaan lanjutan ini. Tentunya ini yang menjadi catatan merah bagi umat Islam di Indonesia. Padahal kalau mau introspeksi, ini adalah salah satu tanggung jawab sosial kepada sesama muslim. Seperti Hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir berbunyi:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim).”

Dari kenyataan zakat Indonesia yang tidak teratur dan tersalur sesuai sasaran. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro dan Badan Amil Zakat Nasional  membuat Pusat Kajian Strategis Baznas untuk memperkuat pembangunan zakat secara nasional.

Tepatnya pada Senin (08/08/2016), Menteri PPN meresmikan Pusat Kajian Strategis Baznas di Museum Kebangkitan Nasional. "Pusat Kajian Strategis Baznas ini akan memberi nilai tambah dan memudahkan koordinasi dengan Bappenas dengan lembaga lainnya di Indonesia," kata Bambang.

Secara fungsi, Pusat Kajian Strategis ini berfungsi melaksanakan riset dan kajian yang memperkuat pembangunan zakat nasional, penyusunan indikator-indikator pengelolaan zakat nasional dan menerbitkan secara berkala laporan singkat pengelolaan zakat dalam bentuk Berita Resmi Pengelolaan Zakat Nasional.

Pusat Kajian Strategis ini juga mengembangkan Zakat Development Index (ZDI) sebagai alat ukur pembangunan zakat. ZDI ini kemudian akan dipraktekkan di daerah-daerah sebagai indikator kinerja Baznas daerah. Secara khusus, Pusat Kajian Strategis akan melakukan penguatan peran Baznas dalam mendorong upaya pendirian Islamic Inclusive Financial Services Board (IIFSB) sebagai bagian dari upaya standarisasi zakat internasional.

Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia yang begitu banyak, hal ini merupakan terobosan Baznas dalam mengoptimalkan potensi zakat di Indonesia yang sangat besar yakni Rp 217 Triliun per tahun, ujar Direktur Pusat Kajian Strategis Irfan Syauqi Beik.

Sedangkan dalam pandangan Bambang, pusat kajian tersebut dapat mendorong penguatan pengumpulan zakat. Saat ini, Indonesia adalah negara dengan jumlah Muslim yang besar tapi zakat belum dihimpun secara maksimal. Berdasarkan hasil riset Baznas dan IPB, potensi zakat Indonesia, termasuk infaq, mencapai Rp217 triliun. Akan tetapi, zakat yang terhimpun baru 1,2 persen dari potensi yang ada atau sekitar Rp3 triliun.

Dari kedua pandangan ini, dapat ditarik bahwa keduanya sama-sama ingin memanfaatkan potensi yang ada. Khususnya untuk memperbaiki sistem zakat. Karena zakat ini memiliki peran dalam mengentaskan kemiskinan dan menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat yang kaitannya dengan kesejahteraan dan kesenjangan sosial.

Lebih luas lagi zakat dapat digunakan sebagai instrumen dalam pembangunan perekonomian, terutama di daerah-daerah yang telah memiliki sistem untuk menerapkan zakat secara luas. Karena sejatinya pembangunan nasional tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah pusat, tetapi juga membutuhkan peran serta daerah dalam mengoptimalkan potensi ekonomi yang dimiliki. (mrz/dbs)


Back to Top