Masjid St Petersburg dan Lobi Sukarno kepada Nikita Khrushchev

(gomuslim). Di kota St Petersburg, Rusia terdapat sebuah masjid yang berarsitektur indah dan penuh makna sejarah. Dari kisah masjid ini, kita akan melihat rekam jejak sejarah Islam di kota St Petersburg.

Meruntut sejarahnya, St Petersburg adalah nama sebuah kota di Federasi Rusia. Sebelumnya, kota ini bernama Petrograd pada tahun 1914-1924 dan Leningrad pada masa Uni Soviet (1924-1991) untuk mengenang Vladimir Lenin.

Kota St. Peterburg didirikan oleh Peter yang Agung pada tahun 1703. Pada tahun 1712-1728 dan 1732-1918, kota ini menjadi ibu kota Kekaisaran Rusia. Revolusi Februari dan Revolusi Oktober pada tahun 1917 meletus di kota ini.


Pada masa Perang Dunia II, kota ini pernah dikepung oleh pasukan Nazi Jerman. Pengepungan Leningrad berlangsung selama 882 hari sejak September 1941, hingga pada 27 Januari 1944 Leningrad berhasil dibebaskan kembali oleh tentara Uni Soviet. Tetapi warganya yang tidak pernah menyerah kalah pada saat itu sehingga dianugerahi gelar Kota Pahlawan oleh Uni Soviet pada tahun 1945. Lebih dari 1.500.000 jiwa meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi dalam peperangan ini. Peristiwa tersebut kembali dikenang dan diceritakan dalam film yang berjudul Attack On Leningrad.

Saat di bawah kekaisaran Rusia, komunitas Muslim Rusia menggagas pembangunan Masjid pada tahun 1880, dan baru terealisasi pada 1913. Banyak faktor mengapa ide ini baru terwujud setelah lewat 33 tahun. Di antaranya, rezim yang berkuasa saat itu tidak tertarik dengan keberadaan Muslim di Rusia sehingga izin pendirian masjid baru keluar pada 1907. Ini menyusul pergantian kekuasaan di tangan Tsar Nicholas II.

Tsar Nicholas II mengeluarkan izin pembangunan masjid untuk memeringati 25 tahun kekuasaan Abdul Ahat Khan, Emir Turkistan di Bukhara, tokoh Muslim berpengaruh di Rusia. Setelah mendapat izin, masalah tidak langsung tuntas begitu saja.

Kendala selanjutnya adalah dana. Untuk mengatasi kendala dana, umat Islam Rusia menggalang dana selama 10 tahun. Selama kurun waktu 10 tahun itu pula terkumpul sebesar 750 ribu rubbels. Ahun Ataulla Bayazitov menjadi ketua komite pembangunan masjid. Sementara, pembelian lokasi berikut biaya pembangunan seluruhnya dibayar oleh Said Abdoul Ahad, seorang emir dari Bukhara.

Peletakan batu pertama berlangsung pada 3 Februari 1910, dihadiri oleh pemerintah, tokoh-tokoh agama, dan tokoh masyarakat, termasuk Amir Buharskiy, Hrusin Novikov, duta besar Turki dan Persia, mufti Orenburg Sultanov, pimpinan partai Islam di Gos Duma Tevkelev, dan ketua komite pembangunan sekaligus inisiator pembangunan masjid, Ahun Ataulla Bayazitov.

Konon, ide dasar Masjid Agung St Petersburg yang direstorasi besar-besaran pada 1980 dan menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa ini terinspirasi dari arsitektur Masjid Tamerlan's, Asia Tengah.

Di tangan para arsitek non-Muslim yang memenangkan kontes desainnya, yaitu Nikolai Vasilyev, Stepan Krichinskiy, dan Alexander von Gogen, masjid yang berdiri di atas lahan seluas 1.921 hektare ini menonjolkan keindahan berbasis tradisionalitas Islam yang tampak pada tiap bagian eksterior dan interior.

Tahun 1917, terjadi Revolusi Februari yang bergolak hingga menyebabkan runtuhnya kekaisaran Rusia. Penerusnya, Pemerintahan Sementara Rusia, hanya bertahan sebentar hingga digulingkan melalui Revolusi Oktober pada tahun yang sama. Setelah terjadi perang sipil Rusia pascarevolusi, tahun 1922 secara resmi berdirilah negara Uni Soviet. Setelah Uni Soviet berdiri, Masjid ini tidak berfungsi lagi hingga digunakan sebagai gudang. Ini karena kebijakan Uni Soviet yang tak sejalan dengan komunitas agama.

Tahun 1956, Presiden Sukarno tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow. Saat itu di bawah kekuasaan Presiden Nikita Khrushchev. Dalam kunjungannya, Preisden Sukarno ingin mampir di kota St Petersburg, saat itu masih bernama Leningrad, karena terkenal dengan keindahan arsitekturnya.

Saat itu Presiden Sukarno melewati Jembatan Trinity Bridge, dalam pandangannya tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Ia menduga, bangunan dengan menara menjulang tinggi ini adalah masjid. Ia meminta agar diantarkan menuju lokasi tersebut, tetapi tak diindahkan oleh para pengawalnya.

Karena penasaran, akhirnya Presiden Sukarno secara diam-diam berangkat menuju bangunan tersebut. Ternyata dugaannya benar, ternyata bangunan tersebut adalah sebuah masjid yang berubah fungsi menjadi gudang. Saat Khrushchev bertanya bagaimana kesan mengenai Leningrad, sang Presiden malah membahas kondisi Masjid Biru yang baru ia kunjungi. "Presiden Sukarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Hanya sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Soekarno, bangunan ini kembali menjadi masjid," cerita imam Masjid Biru St Petersburg Zhapar N. Panchaev.

Dalam pertemuan dengan Imam Mesjid, Presiden didampingi anggota parlemen Partai NU, KH Zainul Arifin mendapat penjelasan mengenai sejarah mesjid yang nama resminya adalah Jam’ul Muslimin. Masjid Biru mulai dibangun tahun 1910. Ketika dibangun, umat Islam di Rusia berjumlah hanya 8.000 orang. Pembangunan masjid dilakukan setelah dibentuk komite khusus tahun 1906 yang diketuai Ahun Ataulla Bayazitov. Penyumbang terbesar tercatat Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy yang membiayai semua pekerja pembangunan masjid. Pembangunannya memakan waktu sebelas tahun. Saat diresmikan penggunaannya pada 1921, mesjid yang diarsiteki oleh dua orang nasrani bernama Vaslilier dan Alexander Von Googen ini tampak mirip dengan sebuah masjid di Samarkand, Asia Tengah. Dua menaranya menjulang setinggi 48 meter sedangkan kubahnya yang dibalut keramik warna biru sangat gagah dengan ketinggian 39 meter.

Usai mengunjungi mesjid, Sukarno lagi-lagi berdiplomasi ke pemerintah Uni Soviet untuk membuka kembali Mesjid Jam’ul Muslimin dan umat Muslim Uni Soviet diizinkan beribadah di dalam Mesjid Raya mereka tersebut. Peristiwa ini dicatat oleh sejarah umat muslim Rusia hingga kini. Ketika diwawancara oleh media masa AS mengenai keadaan penduduk muslim Uni Soviet. sebagai tokoh Islam Indonesia Zainul Arifin menjawab dalam bahasa Inggris:

 

“Here the Moslem religion resembles a lamp in which the light has almost died out and the oil has not been renewed.” (Di sini agama Islam seperti lampu minyak hampir padam yang minyaknya belum diganti).

 

Dibukanya kembali Mesjid Biru sebagai pusat kegiatan umat muslim Uni Soviet-pun bagaikan lampu minyak baru, penerang bagi Islam.

Sampai detik ini, mesjid St Petersburg menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi Muslim di Petersburg. Mesjid yang kini terkenal sebagai Mesjid Biru sering kali diulas sebagai Mesjid Sukarno.(mrz/dbs)

 

 

 

 


Back to Top