Riyal Saudi Menguat di Musim Haji, Permintaan Terbanyak Berasal dari Jemaah Haji Indonesia

(gomuslim). Musim haji dan umrah merupakan faktor penguat ekonomi Saudi, hal ini terlihat dari tingginya permintaan terhadap mata uang negara tersebut. Pada sisi  lain pendapatan negara dari belanja jemaah haji dan umrah di Saudi tergolong tinggi sehingga devisa pun meningkat dalam satu musim.  

Selain itu, penguatan Saudi Arabia Riyal (SAR) terhadap sejumlah mata uang negara jemaah diprediksi akan bertahan selema 4 bulan ke depan karena permintaan terhadap SAR makin hari terus meningkat. Pihak perbankan setempat menandaskan bahwa permintaan SAR terus bertambah, “Peningkatan nilai tukar SAR meningkat dan mempengaruhi mata uang lainnya, sebagaimana meningkatnya permintaan SAR di beberapa negara khusus untuk keperluan jemaah haji, sehingga nilai tukar SAR di pasar saham mengalami peningkatan,” jelas para banker sebagaimana yang dikutip dari Harian Ekonomi Saudi.

Kemudian penasihat Bank Islam Laham Nasir berpendapat bahwa mendekati musim haji, nilai tukar Riyal akan meningkat baik di dalam Saudi atau di luar Saudi. Peningkatan nilai tukar ini akan bertambah terus selama berlangsungnya musim haji karena pada saat seperti ini permintaan terhadap SAR mengalami lonjakan yang signifikan.

Terkait lonjakan permintaan SAR, Nasir menambahkan penjelasannya, “Saya menyaksikan kondisi kenaikan nilai SAR di pasar gelap terhadap Pound Mesir di mana nilainya berada di angka 3,15 pound untuk beli dan 3,20 pound untuk jual namun di bank resmi penukaran mata uang lain ke riyal terjadi kelangkaan tetapi terjadi nilai tukar Pound Mesir yang berbeda dari harga yang ditawarkan di pasar gelap, jika di bank resmi SAR terhadap Pound Mesir berada di level 2,36 untuk beli dan 2.37 untuk jual,” jelas Nasir.

Adapun nilai tukar SAR terhadap Rupiah di Indonesia, Nasir Menjelaskan bahwa sebagian pelancong atau pengunjung dari Indonesia lebih banyak menukarkan SAR khususnya para pekerja di negaranya karena jika menukar di sana dia akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan penukaran di Saudi. Secara tidak langsung, SAR banyak beredar di Indonesia jika uang ini ditukarkan ke negara itu.

Sedangkan nilai tukar untuk mata uang lainnya seperti SAR di tukar ke Lira maka SAR 1.000 sama dengan 796 Lira, 188 Dinar Yordania, 27,966 Rupe Pakistan, 17,783 Rupe India, 979 Dirham Uni Emirat Arab dan 1074 Ringgit Malaysa.

Sementara permintaan terbanyak terhadap riyal pada musim haji tahun ini berasal dari jemaah haji Indoneisa kemudian disusul Mesir, India, Malaysa, Afrika dan Yordania. Untuk Rupiah Indonesia merupakan mata uang paling banyak ditukar baik oleh jemaah haji maupun pengunjung atau pekerja.

Selanjutnya jemaah haji Indonesia juga senang membawa uang Rupiah ke Saudi dan menukarkannya di sana karena jika di Indonesia penukaran Rupiah dikonversi ke dolar kemudian baru ditukar ke SAR maka pajaknya menjadi lebih tinggi, itulah sebabnya banyak yang lebih memilih menukarkan Rupiah ke SAR di Saudi.

Dalam buku Perekonomian dari Haji dan Umrah yang ditulis oleh Kepala Komite Transportasi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jeddah, Dr. Ali Hassan Al-Nagur, disampaikan bahwa selama satu milenium lebih ibadah umrah dan haji menjadi sumber pendapatan utama yang menjadi tulang punggung perekonomian Kerajaan Arab Saudi, yang berada di posisi kedua setelah pendapatan dari sumber-sumber minyak.

Menurut Nagur pendapatan sektor swasta dari industri haji pada tahun 2004-2005 mencapai SAR 30,6 miliar atau sekitar 8,2 miliar dolar AS (sekitar Rp82 triliun) dengan kurs Rp10,000 pada saat itu. Dengan perincian pendapatan seluruhnya dari haji sebesar SAR 14 miliar dan dari jemaah umrah sekitar SAR 16, 6 miliar.

Jika dilihat dari pendapatan Saudi pada musim haji kala itu tentunya belanja jemaah haji maupun umrah sudah merupakan suatu sumber pendapatan utama bagi negara ini. Padahal jumlah jemaah dan pengunjung tidak sebanyak 3 tahun belakangan ini, terlebih jika Visi 2030 telah direalisasikan maka dapat diprediksi bahwa penjualan minyak tergeser di urutan kedua setelah pendapatan dari kunjungan negara lain.

Jika perekonomian Saudi terbantu saat berlangsungnya musim haji atau umrah, maka sudah sepantasnya pelayanan ditingkatkan kepada jemaah bukan hanya sekadar dijadikan objek devisa. (fh/alkhaleej)


Back to Top