Tahani Amer, Muslimah Berhijab Pertama di Badan Antariksa Amerika

(gomuslim). Baru-baru ini, Badan Antariksa Amerika (NASA) meluncurkan sebuah laman bertajuk Women@NASA untuk memotivasi para murid sekolah menengah yang tertarik berkarir di salah satu lembaga antariksa bergengsi di dunia tersebut dalam bidang matematika, sains dan teknologi, dan teknik. Salah satu profil perempuan yang dipromosikan adalah seorang muslimah asal Kairo, Mesir. Penampilanya terlihat mencolok di antara foto deretan pegawai perempuan Badan Antariksa Amerika Serikat. Dia satu-satunya perempuan dan seorang muslimah yang menggunakan hijab.

Perempuan tersebut bernama Tahani Amer, doktor bidang teknik dari Old Dominion University di Norfolk, Virginia. Dia bekerja di cabang Computational Fluid Dynamics (CFD) atau Komputasi Dinamika Fluida NASA. Amer memulai karirnya di NASA pada tahun 1992 dalam proyek CFD. Sejak itulah ia mendapatkan banyak pengalaman berharga bekerja sama dengan banyak ilmuwan cerdas yang mencintai pekerjaannya. Kemudian, ia bekerja di salah satu terowongan angin NASA untuk melakukan eksperimen tekanan dan termal cat sensitif.

"Saya bekerja dengan kode-kode komputer CFD dan memanjat langit-langit untuk menginstal alat kecepatan. Ini luar biasa, aku seperti gadis kecil di 'toko permen' NASA. Segalanya terasa mungkin, “ jelas Amer, seperti dilansir dari publikasi women.nasa.gov.

Amer mengaku tak pernah merasa bosan bekerja di NASA. Ia bahkan berhasil menemukan dan mematenkan sistem untuk mengukur konduktivitas termal film tipis. Mendapat anugerah otak encer dan kesempatan memperoleh pendidikan, membuat Amer tak pelit berbagi ilmu. Ia rajin ikut serta dalam program sosial yang diselenggarakan NASA.

Minat Amer pada teknik timbul saat ia melihat ayahnya memperbaiki mesin mobil di apartemennya yang kecil di Mesir. Sementara kecintaannya pada matematika memuluskan jalannya menjadi insinyur aeronautika yang bekerja di salah satu lembaga paling terkemuka dunia. Amer menceritakan awalnya ia ingin masuk sekolah kedokteran di Kairo. Namun, pilihan hidupnya mengubah cita-citanya. Ia menikah di usia 17 tahun dan pindah ke Amerika Serikat.

"Matematika adalah subyek favorit saya,"Saat tiba di AS pada 1983 dan masuk ke kelas kalkulus pertama saya, saya tak bisa bicara satu katapun dalam Bahasa Inggris. Tapi saya bisa memperoleh nilai A dalam mata pelajaran itu," cerita Amer.

 Saat itulah Amer merasa karirnya di bidang teknik akan menjadi masa depannya. Dia pun berhasil menyelesaikan kuliah non-gelarnya di bidang teknik dalam dua tahun, sembari mengasuh dua anaknya yang masih kecil. Lalu ia meraih gelar sarjana di bidang teknik, disusul master di teknik aeronautika, dan lalu doktor di bidang teknik.

Selain aktif bekerja di NASA, Amer juga  aktif di kegiatan Masjid  untuk mengajar soal Islam dan mengaji Alquran kepada  anak-anak. "Pasca serangan 11 September saya ikut serta memberi pemahaman tentang Islam di komunitas saya. Saya juga memberi ceramah di gereja-gereja, di banyak universitas, dan sekolah lokal. Bahkan ada surat kabar lokal yang mewawancaraiku soal Islam," kata Amer.

Selama hidupnya Amer punya tiga prinsip, yaitu melayani Tuhan maka Anda melayani semua makhluk; bahwa pendidikan adalah kunci yang membuka peluang; dan berusaha melayani orang lain dengan welas asih dan kebaikan.

"Dengan tiga prinsip itu saya mencoba menerapkan standar hidup sehari-hari untuk menantang diri saya sendiri dalam pekerjaa saya di NASA, berusaha terus memperbaiki diri, dan membantu orang lain melalui sebuah organisasi besar: NASA, “ pungkas Amer. (fau/dbs) 


Back to Top