Sensasi Katering Haji Bercita rasa Nusantara

 

(gomuslim). Siapa yang akan menyadari, jika kita sedang berhaji di Tanah Suci menemui masakan khas dalam negeri. Inilah yang yang sedang dihadirkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di Daker Mekkah.

Untuk memenuhi konsumsi jemaah haji di Mekkah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah mengimpor bumbu-bumbu beserta juru masaknya dari Tanah Air langsung. Alasannya agar Jemaah haji nyaman dan kuat menjalankan haji dengan asupan makanan nusantara.

Ini terkait dengan cita rasa makanan, panitia ingin menghadirkan langsung makanan-makanan Tanah Air. Sebab banyak Jemaah haji yang tidak doyan dengan makanan lokal Arab Saudi, lalu mengkonsumsinya sedikit. Ini tidak sebanding dengan aktifitas haji yang begitu melelahkan.  

Alasan lain juga kenapa makanan katering di masak oleh juru masak Indonesia, diharapkan agar para Jemaah, total jumlah Jemaah 40 persen lansia, akrab dengan lidah mereka. Maka mereka akan makan secara teratur.

Seperti yang tahun-tahun sebelumnya pernah temui, Jemaah haji Indonesia sering membawa beras, bumbu dapur, lauk pauk dan peralatan masak di dalam tas mereka. Dikarenakan mereka tidak suka dengan masakan Arab.  

Akibatnya, pernah terjadi kebakaran di salah satu pemondokan karena kelalaian saat memasak. Maka Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil, mengambil kebijakan untuk mengambil alih semua kebutuhan dari Jemaah haji, alias semua kebutuhan makanan disediakan pemerintah.

Kebijakan ini juga untuk mengurangi resiko Jemaah haji yang membawa peralatan masak dan kebutuhan masak saat haji. Jadi mulai sekarang telah disediakan menu makanan nusantara yang dijadwalkan bervariasi setiap hari dengan waktu gilir satu pekan. Pemerintah menjanjikan katering makanan akan siap di pemondokan pada jam-jam yang telah ditentukan.

Perlu diketahui juga, bahwa ditengah cuaca yang terik saat berhaji, pemerintah dalam hal ini Kepala Daerah Kerja Mekkah Arsyad Hidayat, tidak mau ada Jemaah yang sakit perut gara-gara cita rasa yang pedas. Mengingat masyarakat Indonesia yang gemar sekali dengan cita rasa pedas. Hal ini pernah disinggung oleh Jemaah haji asal Solo dan Ujungpandang, mengenai masakan yang kurang pedas. Namun pemerintah langsung menjelaskan perihal pelarangan memasak masakan pedas.

Disaat kondisi lelah maka tidak tertutup kemungkinan  perut menjadi lebih sensitive, sehingga makanan dengan cita rasa pedas tidak dianjurkan untuk menghindari diare ataupun sakit perut.

Dari juru masak yang di datangkan dari Indonesia ini, mereka bekerja menyiapkan makan dua kali sehari. Berbeda dari tahun sebelumnya, yang hanya sekali dalam sehari. Kali ini mereka menyiapkan katering dengan jumlah 7.500 porsi sekali masak. Dengan target sebanyak itu, petugas katering dan juru masak mulai memasak jam 12.00 malam untuk menyiapkan makan siang dan pada pukul 08.00 pagi masakan sudah siap dikemas dan didistribusikan. Sementara untuk makan malam, mereka mulai memasak pukul 08.00 pagi dan selesai sebelum waktu jamaah shalat Ashar ke Masjidil Haram.

Ini pertama kalinya menyediakan makan siang dan makan malam, jadi jalur kerja yang kami rencanakan belum teruji, kata Toha salah seorang juru masak yang bekerja di perusahaan katering Al Raghib, Arafah.

"Jamaah haji ini banyak yang telah menunggu lama untuk berangkat ke Tanah Suci, mari kita jadikan ini bagian dari ibadah kita, membuat para tamu Allah ini nyaman," pesan Arsyad pada para juru masak . (mrz/dbs)

 

 


Back to Top