Fahma Mohamed Raih Predikat Doktor Ilmu Hukum Termuda Pertama di Inggris

(gomuslim). Baru-baru ini seorang hijaber di Inggris memberikan inspirasi dalam dunia pendidikan. Pasalnya muslimah ini adalah perempuan berhijab termuda pertama di Inggris yang berhasil meraih predikat Doktor Ilmu Hukum di usia 19 tahun. Usianya 19 tahun saat ia dinyatakan menjadi doktor ilmu hukum termuda di Inggris yang diberikan oleh Universitas Leicester, Inggris. Tak hanya itu, ia juga menjadi perempuan berhijab termuda yang meraih gelar ini. Muslimah ini bernama Fahma Mohamed.

Fahma berasal dari Somalia, Afrika Timur. Ia tumbuh sebagai seorang remaja yang penuh motivasi, fokus, dan berkemauan keras untuk meraih apa yang diperjuangkannya. Fahma menerima gelar kehormatan karena aktif berkampanye untuk mengakhiri Female Genital Mutilation (FGM), penghapusan sebagian atau seluruh alat kelamin perempuan eksternal yang mendera seluruh perempuan di dunia. Saat perempuan sebaya dirinya takut untuk bersuara, ia justru lantang dan tak gentar memperjuangkan keadilan. Karena sejak usia 14 tahun, Fahma mulai menjadi relawan di badan amal setempat. Dua tahun lalu, dia berkampanye nasional untuk menghentikan kekerasan FGM menuju kesetaraan untuk anak perempuan, atas himbauan sekretaris Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon. Ban Ki-Moon bahkan sempat bertemu dengannya dan langsung memuji apa yang dilakukannya.

Seperti dilansir dari publikasi HanivaMagazine, Fahma juga meluncurkan petisi dan menulis surat kepada mantan Sekretaris Pendidikan Michael Gove Inggris yang  memintanya  untuk menulis ke semua guru di Inggris, memperingatkan mereka tentang bahaya Femile Genital Mutilation (FGM) dan menawarkan nasihat tentang pencegahannya. Fahma adalah ikon dari kampanye EndFGM yang diluncurkan pada bulan Februari 2016 lalu. Karena usahanya yang tak kenal lelah, Michael Gove meluluskan permohonannya. Gove menulis untuk semua guru di Inggris dan Wales, memperingatkan mereka dari bahaya FGM. Selain itu, dalam waktu tiga minggu, permohonannya pada Change.org telah menarik lebih dari 230.000 tanda tangan.

Sebelumnya Fahma tidak menyadari dampak dari FGM dan tidak ada yang pernah membicarakan hal ini, karena dianggap tabu. Melalui kampanye, dia sedikit demi sedikit mengetahui tentang isu sensitif ini. Fahma terkejut mengetahui bahwa itu dipraktekkan di Inggris.

 “Saya sebenarnya pribadi yang cukup pemalu dan pendiam. Dalam diam, saya terus berpikir tentang bagaimana perasaan gadis-gadis yang mengalami FGM. Itulah yang memotivasi saya untuk terus berkampanye," katanya.

Fahma mengatakan dia gembira karena telah dianugerahi doktor ilmu hukum berhijab termuda di Inggris. Katanya, ini adalah buah dari tujuh tahun saya bekerja keras (kampanye), begitu banyak hambatan untuk diatasi dan perjuangan di awal karena itu FGM begitu tabu. Fahma menyadarakan masyarakat yang menyangkal tentang dampak dari FGM. Fahma mengakui sulit bagi orang-orang tersebut untuk memahami sudut pandangnya dan untuk dapat menghentikan praktik FGM ini dan menentang seperti yang dirinya lakukan.

"Tapi sekarang orang telah benar-benar berubah. Tentu saja masih ada orang di luar sana yang mungkin tidak setuju. Tapi ada banyak orang yang mengatakan bahwa pekerjaan kami telah mematahkan siklus kekerasan dalam keluarga mereka. Saya sangat senang dan berterima kasih kepada semua orang yang saya temui dalam perjalanan ini, yang telah bersedia untuk mendengarkan saya dan orang lain melakukan pekerjaan ini dan memberi saya kesempatan untuk membantu gadis-gadis muda di luar sana," ujar Fatma.

Menurut data pemerintah, lebih dari 20.000 perempuan di Inggris tahun dianggap berisiko mengalami FGM. Meskipun pemerintah sebelumnya berjanji untuk menghentikan FGM, para ahli telah memperingatkan bahwa tidak hanya perempuan masih di bawa ke luar negeri dan mendapat perlakuan FGM, namun beberapa sedang dimutilasi di Inggris. Kelompok medis, serikat buruh, dan organisasi hak asasi manusia memperkirakan bahwa ada 66.000 perempuan korban dari FGM di Inggris dan lebih dari 24.000 perempuan di bawah 15 beresiko. Akibatnya, korban dapat menjadi tua hanya beberapa minggu setelah mengalami FGM.

Setelah menerima gelar doktor hukum,  pada September 2016 Fatma akan mulai mempelajari ilmu Biomedis di King College. Fatma mengaku tidak punya rencana khusus bekerja sesuai gelar yang didapatnya pada saat ini. Ia menjalani apapun yang terjadi nantinya setiap hari. Fatma berbagi tips untuk anak muda, agar mereka selalu memanfaatkan kesempatan yang masing-masing semua orang miliki.

"Salah satu hal terbesar yang akan saya diberikan adalah pengakuan. Mudah-mudahan ini akan membantu orang lain mendapatkan pengakuan untuk apa yang mereka kampanyekan. Saya berharap ini mengilhami orang untuk membela apa yang mereka sukai. Saya ingin mereka percaya bahwa mereka dapat melakukannya juga, selama Anda memiliki tujuan dan motivasi. Anda dapat mencapai apa pun yang Anda sudah targetkan di pikiran Anda, “ pungkas fatma. (fau/dbs) 


Back to Top