70 Persen Jemaah Haji Indonesia Berisiko Tinggi, Pengawasan Kesehatan Jemaah Berdasarkan Gelang Ini

(gomuslim). Tingkat kesehatan jemaah haji Indonesia berbeda satu sama lainnya, dari 168.800 Calon Jemaah Haji (CJH) terdapat beberapa jemaah yang mengidap penyakit akut. Oleh sebab itu sejatinya butuh perhatian khusus dari tenaga medis yang ditugaskan untuk memantau jemaah. Jika terjadi kekambuhan penyakit dan berdampak serius pada kondisi kesehatan jemaah, maka harus ditangani secara cepat.

Untuk dapat mewujudkan hal tersebut maka jemaah haji harus diberi tanda khusus berdasarkan tingkat kesehatan. Itulah sebabnya tim medis yang mengawasi jemaah pada setiap kloter memberikan tanda berupa gelang berwarna terhadap jemaah berisiko tinggi.

Menurut tim medis petugas haji, tanda berupa gelang terbagi menjadi tiga warna yaitu merah, kuning, dan hijau.“Ada tiga warna merah hijau dan kuning, yang merah adalah jemaah yang butuh perhatian khusus di mana ia harus melakukan pemeriksaan ke dokter kloter dua hari sekali, begitupun dengan gelang yang berwarna kuning itu juga harus berhati-hati sehingga harus diperiksakan 3 hari sekali ke dokter kloter, kemudian yang hijau juga harus diperiksakan paling tidak untuk jemaah tersebut harap diperiksa 5 hari,” kata Ketua Tim Promosi dan Preventif dokter Yan Bani Luza.

Intensitas pemeriksaan kesehatan jemaah berdasarkan gelang indikator kesehatan, merupakan suatu upaya untuk kecepatan tanggapan terhadap penanganan medis bagi jemaah haji. Karena  jika hal tersebut kurang diperhatikan maka berpotensi mengancam kesehatan jemaah, sehingga dapat berdampak buruk bagi kondisi fisik terutama saat menjalankan ritual haji di musim panas ini.

Menurut Yan, 60-70 persen jemaah haji Indonesia berisiko tinggi terhadap ketahan fisik selama menjalankan ibadah haji. Mengingat ibadah haji dapat dilakukan dengan lancar jika kondisi fisik jemaah dalam keadaan sehat. Meski terdapat jemaah yang tidak berisiko tinggi terhadap kondisi kesehatannya, namun ia juga harus mendapatkan pemeriksaan berkala dari tim medis haji. Karena iklim di Saudi berbeda dengan iklim di tanah air, selain itu kerentanan penularan penyakit diprediksi mudah terjadi manakala berkumpul dalam satu tempat terlebih di area keramaian jemaah.

Gelang indikator kesehatan jemaah diperkiraan dapat mempermudah tim medis untuk mengawasi dan mengambil tindakan cepat demi penanganan dini terhadap pencegahan kambuhnya penyakit.

Penanganan cepat dari tenaga medis terhadap jemaah yang sakit adalah hal yang sangat penting dilakukan. Jika terjadi keterlambatan pengobatan, maka dapat berakibat fatal terhadap kondisi jemaah, bahkan menurut Yan dapat berpotensi menyebabkan kematian. Kasus jemaah berisiko tingga sejatinya dapat diatasi segera dan dapat dicegah manakala seluruh tenaga medis dapat bekerja sama dengan semua pihak.

 “Dengan partisipasi dari tenaga keseluruhan dari tim kesehatan dan semua berkolaborasi, maka kasus-kasus yang risti bisa ditangani sesegara mungkin dan angka pesakitan dapat dicegah,” kata Yan.

Pada sisi lain, Kementerian Haji dan Umrah Saudi, juga telah meluncurkan produk yang diunggulkannya. Pada musim haji tahun ini, gelang elektronik khusus jemaah haji atau dijuluki sebagai gelang pintar juga dapat menyampaikan rekap kesehatan jemaah berdasarkan laporan informasi yang telah terintegrasi dengan e-track.

Sebelum memasuki musim haji tahun ini,  Menteri Haji dan Umrah Saudi Dr. Muhammad Salih bin Thahir Bantan memberikan instruksi terkait gelang haji melalui jajaran kementriannya yang menilai bahwa gelang haji elektronik tersebut benar-benar dapat membantu jemaah khsususnya para lansia. Karena gelang berbasis elektronik tersebut berisi beragam informasi yang banyak dibutuhkan oleh jemaah seperti waktu shalat, alamat hotel yang ditempati, nomor visa, nomor paspor, nama jalan dan juga nomor telepon penting. Selain itu adanya rekap kesehatan jemaah yang dapat dipantau dengan data yang terhubung ke sistem jalur haji elektronik.

Namun kecanggihan teknologi pada dasarnya tidak menjamin keselamatan jemaah sepenuhnya. Semua kecanggihan ini, hanya sebagai alat bantu pihak terkait untuk mengambil langkah antisipatif demi mengurangi risiko tinggi. Sejatinya sikap tanggap, kesadaran tinggi dan kepedulian merupakan hal yang jauh lebih penting dari kecanggihan itu semua. (fh)


Back to Top