'Flow-Contra Flow System', Ide Revolusioner Bung Karno di Jalur Sa'i Masjidil Haram

(gomuslim). Selain menghijaukan padang Afarah di Saudi Arabia, Presiden Sukarno juga pernah menyumbangkan ide pembangunan Masjidil Haram usai melaksanakan ritual haji pada tahun1955. Ide tersebut tergolong revolusioner ketika itu, sebab belum ada yang berfikir untuk mengurai jalur lalu lintas balik-balik tujuh putaran ribuan manusia itu dengan cara membagi dua dan bagian tengah sebagai damarkasi itu dibuat untuk pengguna kursi roda.

 

 

Ide itu dalam pembangunan Masjidil Haram dan fasilitasnya itu muncul ketika Bung Karno sedang melakukan Sa’i, yaitu berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik sebanyak tujuh kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Jalur sejauh 405 meter itu harus dilintasi sebanyak tujuh kali dalam keadaan tidak teratur. Tidak jarang jarang terjadi tabrakan dan penumpukan massa di titik-titik tertentu.

Bung Karno merasakan ‘kesemerawutan’ lalu lintas manusia laki dan perempuan, tua renta dan muda serta anak-anak dalam satu arena yang sempit. Ia lalu berijtihad dengan sisitem 'flow-contra flow'. Jika diatur dengan seksama, arus padat manusia berbolak-balik itu tidak akan berbenturan. Akan ada arus ke Shafa dan arus ke Marwah secara berlawanan dalam dua jalur, lalu di tengah dibuat jalur khusus kaum difabel dan renta yang membutuhkan kursi roda.

Usai Sa’i Bung Karno kemudian tahalul, seterusnya hingga selesai ritual haji. Setelah itu Bung Karno menghadap Raja Saudi dan mengusulkan agar jalur Sa’i dibuat dua jalur kanan dan kiri untuk arus berangkat dan kembali, di antara keduanya dibuat jalur kecil untuk pemisah yang menggunakan kursi roda.

 

 

Ide Bung Karno diterima dengan baik, kemudian direalisasikan oleh Pemerintah Arab Saudi yang kala itu dipimpin oleh Raja Khalid Bin Abdul Aziz ketika Masjidil Haram secara besar-besaran direnovasi pada tahun 1966. Awalnya dibuat dua jalur kanan-kiri untuk ‘flow dan contra flow’ dengan bagian tengah sebagai pemisah dibuat jalur khsusu kursi roda. Pada pembangunan berikutnya baru disusun dua lantai saat kepadatan Jemaah tidak tertampung di lantai dasar.

 “Usul Bung Karno sebagai seorang insinyur sipil sangat tepat untuk mengatasi kesumpekan itu.” Demikian kata Profesor Tata Kota Eko Budiharjo, dalam buku “Bung Karno Sang Arsitek” karya Yuke Ardhiati.

Bung Karno adalah seorang arsitek lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung atau ITB) jurusan Teknik Sipil.

 

Selain ide yang sudah direalisasikan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, Bung Karno sebagai Presiden Indonesia juga mengusulkan penghijauan padang Arafah yang gersang. Tidak lama sekembalinya ke tanah air, Bung Karno memobilisasi insinyur pertanian untuk meneliti pohon yang tahan panas guna ditanam di Arafah. Setelah disepakati, bibit-bibit itu dikirim ke Saudi dan ditanam secara merata. Hingga hari ini, regenerasi tanaman itu masih tampak merindangkan Arafah. Seluruh dunia Islam mengenal pohon tersebut dengan pohon Sukarno. Jalur Sa’i dan penghijauan di tempat-tempat ritual haji tersebut menjadi jariyah Bung Karno untuk dunia Islam. (mm/bs)

 


Back to Top