Haji 1437 H/ 2016 M

Rapat Panitia Haji Saudi Sepakati Langkah untuk Sesi Arafah-Muzdalifah dan Mina

(gomuslim). Hingga hari ini pembahasan mengenai pengelompokkan jemaah haji di Arafah oleh otoritas Saudi tengah memasuki gelombang kedua, saat ini sedang dilakukan pembahasan mengenai pengelompokan jemaah haji dari berbagai negara. Untuk mencapai kesepakatan bersama, maka otoritas Saudi melibatkan penyelenggara haji berbagai negara mulai 13-17 Agustus 2016.

Terkait dengan pengelompokkan jemaah haji Indonesia, maka hari ini Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Mekkah, Arab Saudi telah melewati tahap kesepakatan dengan Lembaga Pemerintahan Saudi terkait proses pengiriman jemaah haji ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina). Untuk dapat merumuskan penjadwalan serta penertiban jemaah maka untuk mengambil suatu keputusan perlu melibatkan Lembaga Pemerintahan Saudi seperti, Kementrian Haji dan Umrah, Kementerian Dalam Negeri, Dinas Keamanan, Dinas Pertahanan Sipil, Kementerian Tata Kota dan Pedesaan, dan Otoritas Pembangunan Mekah.

Dari kesepakatan yang diperoleh PPIH Daker Mekkah, berbuah pelayanan terbaik terhadap seluruh jemaah tidak hanya jemaah Indonesia. Pelayanan terkait dengan pengelompokkan atau pemberangkatan jemaah haji di Armina merupakan pelayanan berbentuk penyediaan moda transportasi bolak-balik, "Mereka menggunakan sistem shuttle bus atau bolak balik. Artinya jemaah jangan takut tidak terangkut saat pemberangkatan ke Arafah sehingga berdesak-desakan," kata Arsyad Hidayat Kepala PPIH Daker Mekkah.

Selain bus yang disiapkan, perbincangan otoritas Saudi terkait hal ini juga membahas tentang efektifitas penggunaan kereta api di area Tanah Suci. Sehingga dengan pemanfaatan kereta api dapat mengurangi kemacetan di jalan raya, mengingat pada puncak pelaksanaan haji kerap terjadi kemacetan serius di jalur yang mengarah ke Armina.

Karena seringnya terjadi penumpukkan jemaah di Armina, maka pelemparan jumrah diatur oleh otoritas Saudi berdasarkan jadwal yang telah ditentukan. Perusahaan swasta pun dilibatkan untuk dapat mengawasi jemaah haji dengan cara pemantauan menggunakan kamera yang telah di pasang di area perkumpulan jemah.

Dalam kesepakatan dengan otoritas Saudi, PPIH Daker Mekkah telah menyepakati bahwa jemaah harus dapat bertanggung jawab secara penuh terhadap barang-barangnya jika beban yang dibawa melebihi dari ketentuan yang telah ditetapkan. Karena masing-masing jemaah hanya diizinkan untuk membawa koper dengan beban 30 kg. Hal ini ditetapkan untuk menghindari tingginya angka kehilangan saat terjadinya penumpukkan jemaah.

 

 

Pengelompokkan atau jadwal adalah hal untuk melancarkan aktivitas ibadah haji, persoalan besar akan dihadapi semua pihak yang terlibat manakala hal-hal yang telah ditentukan diabaikan begitu saja. Mengingat perjalanan jemaah haji untuk melempar jumrah merupakan suatu upaya besar karena harus beramai-ramai dengan jutaaan jemaah lainnya. Karena itu, perlu pengaturan intensif terkait pelemparan jumrah.

Terowongan Mina merupakan suatu area yang mesti dilewati oleh jemaah haji, jika terjadi kesalahan pengaturan atau penertiban maka dapat berpotensi menimbulkan persoalan besar terkait keselamatan jemaah. Dengan demikian, sebelum puncak ibadah haji di Arafah dimulai maka penerbitan dapat dirumuskan mulai sekarang ini.

Pada sisi lain, jika otoritas Saudi tidak menyiapkan jumlah moda transportasi yang memadai, maka jemaah haji harus rela berdesak-desakkan dalam satu bus akibat kurangnya jumlah transportasi. Namun menurut pembahasan dari rapat otoritas Saudi, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena jumlah moda transportasi yang telah disediakan dianggap telah memadai. (fh/Alriyadh)


Back to Top