Jemaah Haji dan Umrah Angkat Perekonomian Saudi, Persaingan Ketat Industri Perhotelan Dimulai

(gomuslim). Berdasarkan catatan Kementerian Haji dan Umrah Saudi, hingga saat ini lebih dari 600.000 jemaah haji telah tiba di Madinah. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh otoritas bandara dan petugas haji setempat, dengan banyaknya jemaah haji yang mengunjungi Tanah Suci, dianggap dapat meningkatkan pendapatan negara serta dapat merealisasikan Visi Saudi 2030 selain pendapatan negara dari sektor penjualan minyak.

Pada visi Saudi 2030, dicanangkan pendapatan negara terbesar dapat diraih dari sektor pendapatan pariwisata. Hal ini tidak terlepas dari prediksi bahwa Saudi menjadi destinasi satu-satunya untuk tujuan pelaksanaan ibadah haji dan umrah maka hal ini disasar sebagai pendapatan negara setelah penjualan minyak. Pertumbuhan kunjungan jemaah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan, dalam kurun waktu 4 tahun peningkatan jemaah mencapai 12 juta dari tahun 2012. Sehingga dengan demikian Saudi masih terus berharap bahwa jumlah pengunjung terus bertambah, bahkan ditargetkan pada 2030 jumlah jemaah dan wisatawan mancanegara mencapai 30 juta.  

Dengan membaca peluang ini maka Chief Executive Officer (CEO) Elaf Group Ziyad bin Mahfouz, mengatakan bahwa pendapatan Saudi dari sektor industri pariwisata tergolong sebagai pendapatan yang sangat potensial: "Pertumbuhan terus meningkat pada aspek pendapatan kunjungan keagamaan hal ini berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang positif bahkan dapat dijadikan sebagai sumber ekonomi Kerajaan Saudi. Kunjungan bersifat keagamaan akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk dijadikan alternatif pendapatan selain dari minyak. Ada ruang besar untuk pertumbuhan di bidang pariwisata, tidak hanya untuk ziarah agama," ujar Ziyad pengusaha perhotelan dan travel wisata di Saudi.

Menjelang musim haji, perusahaan perhotelan raksasa di Perancis Accor Hotel Group siap mengakuisisi sejumlah hotel di Arab Saudi setelah membaca peluang besar pendapatan jangka panjang utuk meraup keuntungan yang menjanjikan. Sehingga dengan demikian, akhir-akhir ini Arab Saudi untuk wilayah Mekaah saja, telah membangun 35.770 kamar untuk 81 hotel dengan total kamar mencapai 24.133 unit.

Meski Saudi sejatinya merupakan negara yang gersang, namun sejumlah pengusaha perhotelan menganggap bahwa negara tersebut merupakan lahan subur untuk industri pariwisata. Hal ini tidak terbantahkan karena di negara yang sejatinya didominasi oleh wilayah padang pasir, terdapat situs-situs suci yang kerap dikunjungi oleh Umat Islam. Pada sisi lain, kerinduan umat Islam terhadap Tanah Suci tidak dapat dibendung bahkan jika jumlah jemaah haji tidak dibatasi, maka boleh jadi jemaah haji yang tiba di Saudi mencapai 3 juta jiwa bahkan lebih.

Jumlah pengunjung Saudi yang meningkat setiap tahun selalu di dominasi oleh jemaah haji atau umrah, hal ini menyebabkan terjadinya persaingan ketat di antara pengusaha hotel untuk memberikan layanan terbaik, "Kami terus berinovasi dengan memberikan layanan terbaik kami untuk para tamu, seperti adanya paket wisata untuk mengeksplorasi beberapa destinasi di Saudi baik sebelum maupun sesudah melaksanakan ibadah haji,” pungkas Ziyad

Untuk diketahui bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Saudi bertambah 3 persen dari aspek kunjungan jemaah haji dan umrah. Meski baru 3 persen, namun analisa dari Pemerintah Saudi memprediksi bahwa kunjungan jemaah haji maupun umrah di masa depan dapat membantu perekonomian Saudi. Jika penjualan minyak terancam karena perkembangan energi baru-terbarukan (EBT) semakin berkembang pesat di berbagai negara maka sasaran pengembangan sektor pariwisata merupakan langkah alternatif Saudi.

Meski demikian, hal ini dapat berdampak pada tingginya nilai sewa kamar hotel karena perusahaan perhotelan Eropa telah mengincar Saudi. Jika ternyata beberapa hotel telah dibangun dengan fasilitas mewah tentunya pihak investor berharap break even point (BEP) segera dapat diperoleh. Karena aspek usaha tentunya melihat analisa investasi yang dikeluarkan dapat kembali dalam kurun waktu tertentu, jika peningkatan harga dinilai sebagai upaya pendorong percepatan pengembalian modal maka boleh jadi hal ini dapat berdampak pada peningkatan biaya haji di masa yang akan datang. (fh/AN)


Back to Top