Uniknya Tradisi Upacara Kemerdekaan di Pesantren

(gomuslim). Selama ini ada istilah 'kaum sarungan' untuk merujuk bagi santri atau murid di pesantren, namun jangan ditanya soal toleransi, nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah airnya. Di kalangan mereka, mencintai tanah air adalah sikap mulia dan dikategorikan bagian dari iman. "Hubbul wathan minal iman" atau cinta tanai air adalah bagian dari iman.

Para santri telah membuktikan terlibat langsung dalam berbagai usaha perjuangan dan perintisan kemerdekaan Indonesia. Bukti sejarah tentang kontribusi kaum sarungan dalam usaha kemerdekaan tidak setumpuk, dan oleh karena itu hingga hari ini kita masih dapat menyaksikan patriotisme kaum santri dalam membela dan mencintai negerinya. Hal itu dibuktikan salah satunya melalui upacara-upacara peringatan kemerdekaan yang dilakukan di pesantren-pesantren.

Nah, dalam mengungkapkan rasa cinta tanah airnya itu, ribuan kaum santri melaksanakan upacara 17 Agustus dengan seragam resmi mereka, yaitu sarung. Padahal, sarung dalam kehiduap sehari-hari digunakan untuk shalat, mengaji dan kegiatan keagamaan lainnya seperti bersilaturahim. Pada peringatan kemerdekaan, sarung justru menjadi ciri khas kaum santri di berbagai penjuru negeri. Berikut selengkapnya:

 

 

Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon

Hal inilah yang dilakukan santri Pondok Pesantren KHAS Kempek, Palimanan, Kabupaten Cirebon, pada Senin (17/08/2015) tahun lalu. Saat itu prosesi pengibaran bendera memperingati HUT ke-70 RI. Semua elemen dari peserta upacara terlihat mengenakan sarung, mulai dari peserta upacara, petugas upacara hingga Pembina upacara pun mengenakan sarung.

Saat sambutan dari Pembina Upacara, KH Muhammad bin Ja’far menyampaikan bahwa melakukan upacara bendera dengan mengenakan sarung tersebut dalam rangka membangun nasionalisme di Pesantren KHAS Kempek. Menurutnya, upacara hari kemerdekaan RI dengan mengenakan sarung baru dilakukan tahun ini (2015), pada tahun-tahun sebelumnya hal itu belum dilakukan. Ia juga menambahkan mengenai pemakaian sarung saat upacara, karena sarung identitas santri. Santri juga berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.

Selain karena menumbuhkan rasa nasionalisme kalangan santri, Ia juga mengenakan sarung karena itu adalah budaya Islam yang ada di Indonesia. Dengan berbagai kekurangan yang ada, jiwa santri masih memiliki rasa untuk mempertahankan kedaulatan NKRI. Karena sudah jelas NKRI harga mati, tandasnya

Meskipun begitu,  upacara saat itu diselenggarakan secara terpisah antara santri putra dan putri. Setelah upacara, para santri mengikuti lomba-lomba khas agustusan, seperti lomba balap karung, tarik tambang, sepak bola dll. Namun tetap menggunakan baju kebesaran santri, yaitu sarung.

Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syaichona Cholil, Kabupaten Bangkalan

Begitupun saat memperingati kemerdekaan ribuan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syaichona Cholil, Kelurahan Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur mengikuti upacara peringatan HUT ke-70 RI di halaman pondok pesantren, Senin (17/08/2015).

Uniknya, peserta upacara tidak memakai celana panjang dan sepatu layaknya pelajar lain yang ikut upacara. Para santri justru memakai sarung dan bakiak ketika mengikuti upacara kemerdekaan. Tak pelak suara bakiak terdengar ketika santri ingin mengibarkan Bendera Merah Putih.

Pondok Pesantren Al-Wafa’, Cileunyi, kabupaten Bandung, Jawa Barat

Sementara di Bandung, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Wafa’, Cileunyi, kabupaten Bandung, Jawa Barat

Puluhan santri menggelar upacara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, Senin (17/08/2015) pagi. Uniknya, dalam upacara tersebut santri laki-laki  mengenakan baju batik, bersarung dan memakai berpeci, sedangkan santri perempuan juga mengenakan batik, rok, dan krudung.

 

 

Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Jombang

Berbeda lagi dengan peringatan kemerdekaan yang diadakan di Pesantren Pondok Pesantren Mambaul Maarif di Jombang, Jawa Timur, Rabu (17/08/2011), Para santri dan santriwati memperingati Hari Ulang Tahun ke-66 RI dengan cara unik. Mereka membuat kalimat kemerdekaan dalam bentuk kaligrafi huruf hijaiyah pada selembar kertas putih. Kalimat ini bermakna perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Dengan penuh ketelitian dan kesabaran, para santri menggoreskan pensil dari batang bambu kecil yang ujungya runcing. Pensil dicelupkan pada tinta khusus untuk membuat kaligrafi kemerdekaan.
Konsep yang diusung para santri yakni kaligrafi kemerdekaan berbentuk perahu. Pasalnya perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan tak hanya di darat dan udara, melainkan di lautan yang dipimpin para nahkoda berjiwa patriot. Begitu alasan para santri.

Bagimanakah kegiatan HUT Kemerdekaan di Pesantren tahun ini? Apakah mengadakan kegiatan yang sama seperi tahun lalu, atau dengan lomba-lomba yang meriah lagi? Begitulah para santri yang dikenal kaum sarungan dalam mengekspresikan kecintaan tanah airnya. (mrz/dbs)  

 

 


Back to Top