Haji 1437 H/ 2016 M

Pusat Kesehatan Haji: Hipertensi Paling Banyak Diderita Jemaah Haji Indonesia

(gomuslim). Kebanyakan jemaah haji Indonesia sudah berusia lanjut serta tidak sedikit pula di antara mereka yang memiliki penyakit berbahaya. Bahkan jumlah jemaah haji yang wafat di Madinah hingga kini mencapai 4 orang. Penyakit yang  diidap oleh jemaah yang telah wafat ini adalah diabetes, jantung, dan paru.

Terkait dengan itu, Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga melaporkan hingga saat ini jumlah jemaah haji yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Arab Saudi sekitar 2.682 jemaah dengan rincian 2569 jiwa rawat jalan, 50 rawat inap, dan 63 rujukan. Dari analisa data kloter menunjukkan 4 penyakit terbanyak yang diderita oleh jamaah tersebut, yaitu hipertensi (35%), Myalgia (17%), Headache (10%) dan Acute Nasopharingithis (9%).

Jika diperhatikan dari 2.682 jemaah yang harus mendapat perhatian khusus dari medis, tercatat hipertensi atau darah tinggi merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh jemaah haji. Penyakit ini tergolong sebagai penyakit berbahaya di mana, penderitanya rentan terserak stroke.

Persoalan kesehatan bagi jemaah haji adalah permasalahan serius yang harus segera mendapat perhatian dari segenap pihak. Pasalnya, untuk masalah ini tidak hanya Dinas Kesehatan yang memiliki peran namun kerjasama dari berbagai pihak termasuk juga jemaah yang sakit diharapkan untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah haji.

Untuk mengingatkan jemaah haji Indonesia terkait dengan kesehatan, maka Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Muchtaruddin Mansyur, mengimbau agar jemaah haji senantiasa menajga kesehatan, "Selalu jaga kebersihan, cukup minum air putih, gunakan alas kaki karena cuaca di sana sangat panas. Dengan kesehatan optimal, ibadah juga akan maksimal,” kata Muchtaruddin.

Sebelumnya petugas kesehatan haji telah memberikan gelang berwarna sebagai indikator jemaah haji berisiko tinggi (risti) agar bagi siapa yang mengenakan gelang tersebut mendapat perhatian intensif dari tenaga medis haji. Pusat Kesehatan Haji Kemkes juga mencatat jumlah dan proporsi jamaah haji dengan risti yang telah terlaporkan dalam sistem Siskohatkes sebanyak 21.710 orang. Mereka dibagi menjadi tiga golongan berdasarkan penggunaan warna gelang.

Adapun gelang berwarna merah dipakai oleh jemaah yang usianya lebih dari 60 tahun dengan risiko penyakit 7.632 jemaah (22,2%). Sedangkan gelang berwarna kuning diperuntukkan bagi jemaah risti penyakit 11.576 jemaah (34,2%). Sedangkan pemakaian gelang berwarna hijau diperuntukkan bagi jemaah yang berumur lebih dari 60 tahun tanpa risiko penyakit sebesar 17.766 jamaah (43,6%).

Gelang-gelang ini diberikan sebagai indikator petugas medis untuk mempermudah dilakakukannya rentang waktu pemeriksaan. Berdasarkan keterangan dari Ketua Tim Promosi dan Preventif Kemenkes Yan Bani Luza, gelang berwarna merah digunakan oleh jemaah yang butuh perhatian khusus di mana ia harus melakukan pemeriksaan ke dokter kloter dua hari sekali, begitupun dengan gelang yang berwarna kuning sebagai indikator harus berhati-hati sehingga harus diperiksakan 3 hari sekali ke dokter kloter, kemudian yang hijau juga harus diperiksakan paling tidak untuk jemaah tersebut harap diperiksa 5 hari sekali.

Meski telah dilakukan upaya preventif, namun meninggalnya jemaah disebabkan sakit tidak dapat ditangguhkan karena semua hal terkait itu telah menjadi kehendak Allah SWT. Namun harapan dari segenap pihak adalah jangan sampai terjadi upaya pembiaran terhadap jemaah yang sakit. Sampai saat ini baik dari pihak petugas haji Indonesia maupun penyelenggara haji Saudi telah menyediakan fasilitas dan juga upaya pelanan yang baik terkait dengan instrument kesehatan jemaah haji. (fh)


Back to Top