HUT RI ke-71

Hari Kemerdekaan Dipilih setelah Istikharah Para Kiai, Pengakuan Pertama Datang dari Ulama, Organisasi dan Negara-Negara Islam

(gomuslim). “Awal Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 Agustus, utusan Bung Karno datang menemui Mbah Hasyim untuk menanyakan hasil istikharah para kiai, sebaiknya tanggal dan hari apa memproklamirkan kemerdekaan? Dipilihlah hari Jumat (sayyidul ayyam) tanggal 9 Ramadhan (sayyidus syuhur) 1364 H tepat 17 Agustus 1945, dan lihatlah apa yang dilakukan Bung Karno dan ribuan orang di lapangan saat itu, dalam keadaan puasa semua berdoa dengan menengadahkan tangan ke langit untuk keberkahan negeri ini. Tak lama dari itu, sahabat Mbah Hasyim semasa belajar di Mekkah (Hijaz) yang memang selama itu sering surat-menyurat, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, mufti besar Palestina untuk pertama kali memberikan dukungan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.” Sang Penakluk Badai: Biografi KH Hasyim Asy’ari ( GMU, 2012).

Itulah adalah sepenggal deskripsi hari-hari menjelang kemerdekaan yang luput dari catatan sejarah, bahwa pemilihan hari kemerdekaan Indonesia dikonsultasikan kepada para ulama dan para ulama secara bersama-sama melakukan munajat kemudian istikharah agar Allah memberi petunjuk hari yang tepat. Maka setalah para ulama memusyawarahkan hasil istikharahnya, dipilihlah tanggal 9 Ramadhan 1364 H yang secara kebetulan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Angka Sembilan adalah simbol numerik tertinggi,  hari Jumat adalah penghulu atau raja-nya hari dalam sepekan dan Ramadhan adalah rajanya bulan dalam setahun.

 

 

Bung Karno sebagai pemimpin dalam usaha dan persiapan kemerdekaan berkosultasi aktif kepada KH Hasyim Asyari, seorang ulama kharismatis pendiri NU. Bagaimana muasalnya hingga Bung Karno meminta masukan hari kemerdekaan kepada Kiai?

Hal itu tidak lepas dari hubungan dekatnya dengan para ulama selama menyiapkan kemerdekaan Indonesia. Sejak di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibubarkan pada tanggal 7 Agustus 1945, kemudian dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Bung Karno sudah bersahabat dekat dengan putra Kiai Hasyim, yaitu KHA Wahid Hasyim yang tidak lain adalah orang tua Presiden Abdurrahman Wahid.

Bung Karno dan KHA Wahid Hasyim juga bersama-sama tergabung dalam Panitia Sembilan yang bertugas merumuskan Dasar Negara yang akan dituangkan dalam UUD 1945. Di sela kesibukan Bung Karno dan KHA Wahid Hasyim itulah keduanya sering tukar pikiran sehingga ketika sampai pada saat harus menentukan tanggal proklamasi kemerdekaan, Bung Karno yang mengetahui dari dekat soal ‘kealiman’ dan ‘kezuhudan’ Kiai Hasyim, kemudian meminta nasehat soal hari yang tepat.

Maka, pada hari yang dipilih, gaung kemerdekaan Indonesia membahana ke seluruh penjuru dunia setelah Ir. Soekarno dan Drs Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI secara ‘de facto’ pada 17 Agustus 1945.  Hari itu radio-radio dan Koran di berbagai penjuru dunia mengabarkan kemerdekaan sebuah negeri kepulauan yang sebelumnya disebut India Timur, yang di dalamnya terdapat Paris van Java (Bandung dan Malang), dan Batavia-nya pernah masyhur sebagai kota Bandar teramai se-Asia.

Tetapi beberapa hari kemudian timbul masalah. Sebab, untuk berdiri sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain secara hukum atau ‘de jure’.  Saat itu secara kebetulan terjadi kekosongan pemerintahan setelah Jepang menyerah pada Sekutu, dan pasukan Sekutu siap-siap mendarat dengan membawa pasukan Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia.

 

 

Untuk mendapatkan pengakuan merdeka saat itu juga tidak mudah, mengingat masih banyak Negara terjajah dan Negara lain sedang sibuk sendiri usai perang dunia II.

Lagi-lagi pertolongan Allah datang. Negara, organisasi dan tokoh-tokoh Islam Timur Tengah segera memberi dukungan, sehingga Negara Indonesia dapat menjadi berdaulat dan mendapat pengakuan internasional. Dukungan kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc.  Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI sertaPahlawan Nasional RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI ), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan), dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan tentang peran-serta, opini dan dukungan nyata Palestina dan Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap. Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini mufti besar Palestina yang secara terbuka mendukung kemerdekaan Indonesia.

Dukungan tertulis terus bergulir,  pada tanggal 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut disebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” Mesir yang terkenal telitinya juga menyiarkan.”

Demo Kedutaan Belanda di Mesir

Sejak diketahui sebuah negeri berpenduduk muslim bernama Indonesia merdeka, Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), organisasi Islam yang dipimpin Syaikh Hasan Al-Banna terus menerus menggalang opini umum lewat pemberitaan media dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa Indonesia untuk menulis tentang kemerdekaan Indonesia di koran-koran lokal miliknya. Bahkan acara tabligh akbar dan demonstrasi digelar di depan Kedutaan Belanda di Kairo.

Dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan Indonesia mendorong pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah Republik Indonesia pada 22 Maret 1946, sehingga Mesir adalah negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ketegangan menyeruak di gedung Kementerian Luar Negeri Mesir, pagi itu 10 Juni 1947. Sebab, Duta besar Belanda untuk Mesir mengajukan protes atas pengakuan resmi kemerdekaan Indonesia. Namun dukungan rakyat, organisasi dan pemerintah Mesir sudah bulat tidak dapat diralat.

 

 

Setelah Mesir menyusul pengakuan dari Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghanistan. Selain negara-negara tersebut,  Liga Arab  juga berperan penting dalam Pengakuan RI. Secara resmi keputusan sidang Dewan Liga Arab tanggal 18 November 1946 menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab supaya mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Alasan Liga Arab memberikan dukungan kepada Indonesia merdeka didasarkan pada ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.

Demikianlah fakta sejarah tidak dapat dibungkam, pada akhirnya secara ‘de facto’ dan ‘de jure’ mendapatkan keabsahannya sabagai sebuah bangsa yang merdeka setelah tokoh-tokoh Islam, organisasi-organisasi Islam dan Negara-negara Islam memberi dukungan dan pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia. Meski demikian Indonesia tidak serta merta menjadi negara Islam. Kemerdekaan pada tanggal terbaik, hari terbaik dan bulan terbaik ini adalah berkah bagi semua. Selebihnya, kemerdekaan yang sudah di tangan ini adalah warisan untuk generasi mendatang. (mm/bs)

 


Back to Top