Haji 1437 H/ 2016 M

Saudi Gencar Kampanye Perizinan Haji dan Terapkan Sanksi Berat bagi Pelanggar

(gomuslim). Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah Arab Saudi gencar kampanye tentang kewajiban menggunakan ‘hajj tasreeh’ atau ‘hajj permit’, yaitu izin menunaikan ibadah haji bagi warga Saudi dan ekspatriat. Kampanye itu tidak hanya dilakukan secara ‘online’ melaui portal-portal resmi pemerintah dan media sosial, tetapi  juga melalui papan-papan reklame di sudut-sudut kota besar di seluruh Saudi. Kampanye itu berlangsung secara sporadis sehingga diharapkan dapat membangunkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mematuhi aturan dalam perizinan haji.

 

 

Pemerintah Arab Saudi pada musim haji tahun 2016 ini juga kembali memasang sejumlah spanduk di pos-pos pemeriksaan bertuliskan, "Haji Yang Benar Dimulai dengan Perizinan", "Stop: Tidak Ada Haji Kecuali dengan Surat Izin" dan lainnya. Kampanye secara gencar ini dilakukan mulai beberapa tahun lalu dan makin marak sejak tahun 2015 sampai hari ini.

“Bagi warga Saudi yang melanggar aturan haji akan langsung didenda dan bagi ekspatriat langsung dideportasi,”demikian disampaikan juru bicara Departemen Urusan Paspor Saudi Talal Al-Shalhoub.

Tidak hanya itu, pelanggar ekspatrian juga dibawa ke bagian ‘iqamah’ atau ‘residence permit’ untuk dilakukan cap sidik jari dan dilarang masuk Saudi Arabia selama 10 tahun. Datanya akan tercatat sebagai pelanggar haji dan tidak dapat memperpanjang ‘iqamah’ atau izin tinggal hingga melewati 10 tahun.

Ketua Koordinasi Haji Domistik Saudi Fadl Al-Jihouri menegaskan, pemberlakuan aturan haji secara ketat ini untuk memastikan pelayanan haji Pemerintah Kerajaan Arab Saudi berjalan dengan baik, aman dan nyaman bagi semua Jemaah haji.

Sanksi bagi warga Saudi pelanggar aturan haji antara lain adalah adalah denda 50 ribu Saudi Arabia Riyal (SAR) atau sekitar Rp17,4 juta berdasarkan hitungan kalkulator di portal gomuslim yang berlaku hari ini. Selain itu adalah hukuman enam bulan penjara.

Berdasarkan laporan petugas haji Indonesia di Daerah Kerja (Daker) Mekkah dan Madinah, mulai awal bulan Agustus 2016 ini tampak sejumlah petugas keamanan Saudi Arabia mulai melaksanakan tugas pemeriksaan di ‘check point’ jalur-jalur masuk ke kota Mekkah. Mereka memastikan seluruh Jemaah haji tahun ini hanya yang sudah terdaftar dalam manifes Negara masing-masing dan pemegang ‘tasrih’ atau ‘hajj permit’ bagi warga Saudi dan ekspatriat.

Bagi warga Negara Saudi dan warga Negara asing yang tinggal di Saudi baik untuk keperluan bekerja atau belajar, Departemen Imigrasi Kerajaan Arab Saudi jauh hari sebelum musim haji 2016 ini  dimulai telah membuka pendaftaran calon haji tersebut.  

Bagaimana cara mendapatkan ‘hajj permit’ tersebut?  Mudah. Semua sudah tersedia secara online, demikian juga perusahaan ‘hajj service’ setempat daftarnya juga dapat ditelusuri secara online dengan menggunakan jalur pintar internet.  

Untuk pekerja dan mahasiswa asing yang ada di Arab Saudi cukup menunjukkan iqamah (KTP setempat, residence permit), memastikan bahwa dalam waktu rentang lima tahun terakhir belum haji, sudah mendapat vaksin meningitis, dan bukti daftar ke pelayanan haji setempat,  maka tasrih haji akan segera dikeluarkan.

Dari Indonesia, berangkat haji dengan visa umrah atau visa kunjungan biasanya disebut haji 'paspor hijau'. Dulu banyak terjadi dan tidak ada masalah, namun tidak mudah sejak tiga tahun belakangan ini.

Dengan kampanye gencar dan penerapan aturan secara tegas, maka tidak ada alasan bagi pelanggar untuk ‘excuse’ minta dispensasi hukuman. Demikian seperti disiarkan media-media nasional di Saudi. (mm/bs)


Back to Top